Aku dan Duta Baca Indonesia 2021-2025

Saya jadi berpikir keras. Dr. Adin Bondar tentu tidak sedang bercanda. Reputasinya sebagai petinggi di Perpusnas RI dipertaruhkan. Ini tawaran menarik juga walaupun isteri saya cemas karena memikirkan rambut suaminya yang gondrong harus dipangkas.

Saya ingat belasan tahun lampau pernah berandai-andai kepada isteri saat kami di Medan, “Andai ada seseorang yang gila, perusahaan,  yayasan atau sebuah kementerian yang membiayai ‘Gempa Literasi’. Papah tidak perlu lagi mikirin biaya yang harus dibagi dua dengan keperluan di rumah tapi fokus pada program.” Gempa Literasi adalah satu cara untuk membumikan budaya membaca dan menulis kepada masyarakat. Isteri saat itu mengaminkan.

Sejak 2005 saya menginisiasi “Gempa Literasi” di Rumah Dunia. Gempa Literasi adalah konsep merangsang orang-orang agar mau membaca dan kemudian menulis dengan cara menyenangkan dan membahagiakan. Kegiatannya berupa orasi literasi, pertunjukan seni, pelatihan, peluncuran dan bedah buku, diskusi, aneka lomba, dan hibah buku ke taman bacaan. Semua kegiatan itu ujung-ujungnya membutuhkan buku sebagai penguat.

Sejak jadi Duta Baca Indonesia April 2021 “Gempa Literasi” berubah jadi “Safari Literasi”. Daniel Mahendra yang mengusulkan. Spiritnya  saya sebarkan ke setiap kota di Indonesia, bergantian bersama keluarga dan relawan Rumah Dunia sepanjang 2005 hingga sekarang di tahun 2022. Mulai dari tur Jawa Barat, Jawa Tengah, Anyer-Panarukan, Sumatera, dan Borneo. Bahkan ke Mesir, Saudi Arabia, Qatar, UAE (United Arab Emirates), Malaysia, Singapura, Taiwan, Frankfurt, hingga ke Hong Kong.

Akhirnya dengan perasaan cemas, rambut yang panjang hingga ke punggung saya pangkas. Isteri pasrah. Saya hibur isteri, “Nanti juga panjang lagi.” Isteri saya suka jika suaminya berambut gondrong. Macho. Saat melamar pada 1996, ada dua syarat yang diajukan isteri di luar yang mainstream yaitu: berhenti merokok dan rambut harus gondrong.

***

Setelah merasa nyaman dengan rambut pendek, langkah berikutnya adalah memikirkan tagline. Pendek tapi mengena! Mudah diingat. Lalu saya kirimkan tagline Duta Baca Indonesia 2021-2025 kepada Dr. Adin Bondar: Berdaya dengan Buku. Saya memaknainya sebagai “literasi kesejahteraan”. Saya yang berkebutuhan khusus – tangan kiri diamputasi sesikut pada 1974, bisa mendapatkan solusi terbaik dalam hidup karena membaca buku. Sebagai orang cacat, saya bisa menjadi seseorang yang tidak membebani orang lain gara-gara buku. Saya jadi berdaya karena membaca buku. Ternyata membaca buku memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Ya, saya jadi berdaya dengan buku!

Gara-gara senang membaca buku juga saya memiliki riwayat pekerjaan yang panjang. Itu bukan karena gelar berderet. Saya pernah kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung (1982-1985) tapi tidak selesai. Dengan latar belakang pendidikan sastra saya jadi memiliki keterampilan menulis dan itu pas dengan trend 1990-2000. Di era digital sekarang, jika kamu memiliki keahlian sebagai content creator, maka hidupmu akan asik dan keren. Tapi untuk menjadi content creator tetap harus memiliki kemampuan membaca.

Saya memulai bekerja dengan memaksimalkan kemampuan menulis sebagai wartawan di Kelompok Kompas Gramedia (1989-1990) dan Kartini Group (1993-1994). Kemudian memulai era baru sebagai penulis skenario TV di Indosiar (1995) dan RCTI (1996-2008). Terakhir sebagai asisten menejer di Banten TV (2008-2010).

Jadi, tagline “Berdaya dengan Buku” sangat pas saya usung sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025. Semoga spirit bahwa “membaca buku bisa meningkatkan kualitas hidup” menyebar ke masyarakat luas.

*** 

Kecemasan saya dan isteri bahwa tawaran sebagai Duta Baca Indonesia itu “prank” berakhir ketika melihat fliyer pengukuhan Duta Baca Indonesia 2021-2025 beredar luas di media sosial sehari sebelum pengukuhan pada Jum’at 30 April 2022. Di fliyer itu tertulis dengan jelas Drs. Muhammad Syarif Bando, MM – Kepala Perpustakaan Nasional dan H. Rano Karno, SIP – Komisi X DPR RI hadir mengukuhkan saya sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025. 

Saya dan isteri langsung ke mal – membeli jas, dasi, kemeja, sepatu, dan celana pantalon. Penampilan saya langsung berubah. Kelimis dan necis. Saya unggah ke media sosial dan reponnya sangat luar biasa. Tentu selalu ada pro dan kontra.

Selama ini yang memegang amanah Duta Baca Indonesia adalah public figure yang dikenal luas sebagai host di stasiun TV. Pertama Tantowi Yahya, Andi F Noya, dan Najwa Shihab. Sedangkan saya orang kampung dan tinggal di kampung. Perbedaa saya dengan mereka dalam soal waktu yang berlimpah sehingga saya bisa lebih fokus dan total. Saya memang tidak sempurna dan memilki banyak kekurangan. Kalianlah yang menyempurnakan dan memperbaiki kekurangan saya. Tapi untuk beraksi mengampanyekan budaya membaca dan menulis, saya siap tempur.

Supaya tidak penasaran dan bertaya-tanya, saya meminta kepastian dari para petinggi Perpusnas RI, “Apa yang diinginkan dari saya sebagai Duta Baca Indonesia?”

Drs. Deni Kurniadi, M.Hum, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan mengatakan, “Setelah narasi, saatnya beraksi.”

Artinya: saya harus turun ke desa-desa mengajak masyarakat kebanyakan untuk membaca dan menulis.

***  

Tersisa 8 bulan setelah saya dikukuhkan sebagai Duta Baca Indonesia periode 2021-2025 pada  30 April 2021 oleh Perpusnas RI – meneruskan perjuangan Tantowi Yahya (2009-2010), Andi F Noya (2011-2015), dan Najwa Shihab (2016-2020). Apa yang harus saya lakukan?

Saya sebetulnya tidak sempurna dan banyak memiliki kekurangan untuk jadi figur Duta Baca Indonesia. Tapi ketika Perpusnas RI meyakinkan saya, bahwa nanti yang akan menyempurnakan dan memperbaiki kekurangan-kekurangan saya adalah orang lain, saya terima amanah ini. Berarti saya tidak sendirian. Literasi kolaborasi, itu yang akan saya lakukan.

Saya sebetulnya sudah mengampanyekan baca-tulis ke masyarakat (iliterat) sejak 1990, saat bekerja di Gramedia, terutama di Banten. Kemudian ketika bekerja di RCTI, meluas ke Indonesia.

Idealisme butuh ongkos. Kadang saya melakukannya dengan cara subsidi silang jika diundang Perpusnas, Badan Bahasa, dan Kemdikbud jadi pemateri. Sebelum pandemi Covid-19, bersama Perpusnas RI di Festival Literasi Pekanbaru (2019) dan Bombana, Sulawesi Tenggara. Setelah acara selesai, Perpusnas RI pulang, saya menambah hari. Di Pekanbaru memotivasi SMA Muhammadiyah dan SMPN 8. DI Sultra, saya ke berperahu ke Bau-bau, memberi pelatihan di komunitas dan mengunjungi Dinas Perpustakaan.

Saya kadang kasihan kepada istri, yang uang belanja dapurnya sering dipotong.  Saya bilang ke isteri, “Berdoa, istriku. Siapa tahu nanti ada perusahaan atau Kementrian yang membiayai.” Alhamdulillah, harapan itu terkabul, saya jadi DBI 2021-2025.

Pengukuhan saya sebagai DBI pada 30 April 2021. Jagat literasi di Indonesia tersentak. Ukuran untuk jadi DBI kini mudah dicerna, karena jika ukurannya “artis” itu sesuatu yang sulit dijangkau. Kini para pegiat literasi bersemangat karena di ujungnya: siapa tahu bisa menjadi DBI selanjutnya menggantikan saya.

*) Surabaya 31 Januari 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==