Oleh Naufal Nabilludin
Bulan Ramadhan kemarin (2023), saya menulis esai yang membandingkan kegiatan Nyenyore Rumah Dunia dan kegiatan diskusi dan bedah buku di Untirta, yang tidak pernah dilakukan secara kontinu atau terus menerus, misalnya setiap minggu bisa di hari Sabtu atau Minggu. Padahal kegiatan tersebut mampu menstimulus peserta untuk berpikir kritis dan mulai berkarya dengan passion masing-masing.



Walaupun dalam esai saya yang berjudul “Menunggu Buka Puasa di Komunitas Rumah Dunia dan Kampus Untirta” konteksnya adalah kegiatan di bulan Ramadhan, namun di luar waktu tersebut, kampus Untirta khususnya Prodi Ilmu Komunikasi jarang sekali mengadakan diskusi dan bedah buku yang difasilitasi oleh kampus.


