Oleh Zaeni Boli
Butuh keberanian untuk mau loncat dari ketinggian lalu memulainya dari awal lagi seperti sekumpulan liliput yang enggan untuk menyerah begitulah mungkin sebuah seni bertahan hidup . Gagal bangkit lagi sampai di puncak turun lagi . Bagi seorang petarung bukan seberapa banyak kita menang tapi bagaimana mempertahankan gairah yang kian usang . Mengupgrade kembali menjadi sesuatu yang berarti tak terkecuali puisi .

Puisi terus hidup mungkin juga berjarak antara pembaca, penikmat, juga penyairnya sendiri. Terkadang penyair-penyair tua tenggelam dengan keasyikannya sendiri, sementara bocah-bocah di sekolah tak kunjung dikenalkan pada nama-nama Sastrawan Negara tapi disini lain, puisi terus dilahirkan kemudian dibunuh hilang di linimasa .
Begitu juga hidup yang begitu-begitu saja, orang-orang tenggelam dalam rutinitas, tak bisa ke mana-mana. Tak mampu melihat solusi bagi kehidupan, tak terkecuali dunia pendidikan yang jenuh.
Anak-anak kehilangan makna kehilangan panutan, hanya ada jam kosong di kelas-kelas yang tak merdeka. Mereka yang kehilangan etika, tenggelam dalam inginnya sendiri tak tau untuk apa sesungguhnya kehidupan yang dijalani.

Jika aku pohon, berteduhlah dan bernafaslah di bawah rindangnya dedaunan .
Seorang memilih berjalan sendiri untuk merasakan kalah berkali-kali.
Berjalan
Berjalan
Berjalan
Wahai musafir terakhir
Larantuka 2024


