Cerpen Sabtu: Mang Sapit

Cerpen Gol A Gong

Di sebuah kampung kecil di pinggiran desa, Sapit hidup sederhana. Ia memiliki warisan sawah dari ayahnya yang telah meninggal menyusul ibunya karena Covid-19. Sawah itu, menjadi penghidupan dan pengingat akan jerih payah keluarga yang dulu bersusah payah mempertahankannya.

Namun, masalah datang ketika pamannya, Pak Tarno, mulai mengincar sawah tersebut. Pak Tarno sudah menjual sebagian besar sawahnya kepada seorang pengembang dengan iming-iming uang yang cukup untuk hidup mewah. Tapi, ada satu ganjalan: sawah Sapit yang bertetangga dengan lahannya menghalangi rencana pembangunan. Bahkan masjid kampung juga.

Wislah, jual bae sawahmu itu, Sapit,” ujar Pak Tarno suatu hari. “Aku akan bayar lebih dari harga pasaran. Sireu bisa pindah ning kota, cari wadon, kawin, duwe anak. Sireu bisa hidup lebih baik.”

Sapit menggeleng tegas. “Iki warisan Abah, Paman. Sawah iki lebih dari sekadar tanah buatku, Paman. Iki kenangan, iki uripku.”

Tak puas dengan penolakan itu, Pak Tarno melakukan hal yang lebih kejam. Ia menutup saluran air yang menuju sawah Sapit, sehingga air tidak mengalir, membuat padi yang sudah mendekati panen menjadi kering dan rusak. Sapit marah. Dalam hatinya, dendam berkobar seperti api yang sulit dipadamkan.

Di suatu malam yang gelap, ketika hujan turun deras, Sapit pergi ke sawah dengan membawa sabit. Di sana, ia bertemu Pak Tarno yang sedang memeriksa hasil perbuatannya. Perdebatan pun terjadi, dan emosi Sapit memuncak. Dalam amarah yang tak terkendali, ia mengayunkan sabit itu ke arah pamannya.

Pak Tarno terjatuh, tubuhnya bersimbah darah. Sapit berdiri terpaku, tangannya bergetar, dan sabit di genggamannya terasa seperti bara yang membakar. Ia sadar, ia baru saja melakukan dosa besar; ia membunuh adik ayahnya sendiri.

Esok harinya, tanpa banyak kata, Sapit menyerahkan dirinya ke polisi. Seluruh kampung terkejut mendengar kabar itu. Sapit, si petani yang pendiam dan sederhana, kini menjadi seorang pembunuh.

Di ruang interogasi, Sapit hanya berkata, “Saya menyesal. Hukuman apa pun akan saya terima.”

Namun sebelum ditahan, ia melakukan satu hal terakhir. Ia menghibahkan sawah kecilnya kepada ustadz Solihin, imam masjid yang dihormati di kampung. “Wis, pake bae sawah kita, Ustadz, supaya masjid jadi besar. Kita oreu pantes duwe sawah,” kata Sapit lirih merasa dirinya yang berlumuran darah ini tidak layak memiliki sawah.

Ustadz Solihin sempat menolak, namun Sapit memohon. “Biarkan tanah ini menjadi penebus dosa saya, Utadz. Semoga amal jariyah ini juga jadi jalan ke surga buat Abah. Saya hanya berharap, Allah mengampuni saya.”

Sawah itu oleh ustadz Solihin akhirnya dijadikan lahan perluasan masjid. Warga kampung bekerja bakti membangun area tambahan yang kelak digunakan untuk tempat belajar anak-anak mengaji. Warga ada yang datang menengok Sapit; mereka mengabarkan tentang masjid kampung yang sekarang semakin ramai.

Sapit menjalani hukumannya belasan tahun di penjara. Di balik jeruji besi, ia tak berhenti berdoa, memohon ampun atas dosa-dosanya. Ia mulai belajar membaca Al-Qur’an dan sering membantu napi lain memahami ajaran agama Islam.

Tahun demi tahun berlalu, musim panen dan musim hujan silih berganti, Pilpres dan Pilkada 3 kali berlangsung, akhirnya Sapit keluar dari penjara sebagai manusia baru karena berperilaku baik. Ia kembali ke kampung, bukan sebagai seorang petani, melainkan seorang penebus dosa yang ingin mengabdikan hidupnya untuk kebaikan. Orang yang pertama dia datangi adalah bibiknya untuk meminta maaf, karena sudah membunuh pamannya. Tapi bibik dan anaknya melemparinya dengan telor busuk.

Akhirnya Sapit berjalan menuju masjid kampung. Dia menangis ketika sawahnya sudah berubah jadi pondok pesantren dan masjid kampung itu kini megah. Anak-anak kampung berlarian gembira sambil main futsal. Masjid jadi makmur karena banyak kios dagangan di pintu gerbangnya.

Terdengar adzan berkumandang tanda salat ashar tiba. Sapit mengusap wajahnya dan beristighfar, mengingatkan dirinya bahwa meski dosanya besar, Allah tetap memberikan jalan untuk bertobat.

“Mari Mang Sapit, tinggal bersama kami di masjid. Kami sudah menyiapkan rumah kecil untuk Mang Sapit di halaman belakang,” Ustaz Solihin meraih dan merangkulnya. (*)

*) Serang awal Januari 2025

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Mantap cerpennya bagus². Semangat terus berkarya para penulis. 💪
    Jadi pengen ikutan kirim cerpen. Boleh gak mas agong?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==