Puncak dijarah jadi bencana. Pohon ditebang jadi neon. Tanah dikeruk jadi bangunan megah. Petani dipaksa berjas-dasi, anak-anaknya tak lagi mengaji. Bencana datang merenggut desa di Cisarua, Bogor dan Bekasi tenggelam. Alam Sunda rusak dan bencana di mana-mana.
Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat 2024-2025 ingin mengembalikan gunung Gede Pangrango hijau dengan pepohonan, sungai-sungai di tatar Sunda kembali harum. Semoga para karuhun Sunda tenang di alam ghaibnya. Selamat membaca puisi-puisi saya.
Gol A Gong

Puisi Gol A Gong
GUNUNG
Aku gunung tegak lurus ke langit laksana paku bumi
Hadiah istimewa dari langit, keseimbangan hakiki
Dari tubuhku mengalir air suci, mewariskan kehidupan
Menjaga para karuhun Sunda, eling dan waspada
Para pendaki menapaki tanah larangan tanpa permisi
Menghitung silsilah Eyang Jayarahmatan dan Embah Kadok
Berpesta pora di istanaku, alun-alun Suryakencana
Plastik berserakan mengotori flora-fauna di halaman Sang Prabu
Para pengusaha menerka angka, melukai tubuh Eyang Haji Mintarasa
Menjual udara segar rumah megahnya, mengusik tidur Eyang Jayakusumah
Wahana bermain berdiri, hutan sirna, Embah Dalem Cikundul murka
Aku menangis karena harus menyebar bencana ke umat manusia
*) Kota Serang, 10 Maret 2025/Ilustrasi ChatGPT

Puisi Gol A Gong
HUTAN
Angin membawakan kabar kepadaku, di meja marmer mereka berbisik-bisik
Pengusaha dan pejabat licik, menghitung laba setelah izin resort diberi
Pohon digergaji darah muncrat, tumbang ke bumi menangis sedih
Lukaku luka para karuhun Sunda, tak bisa menahan gejolak bencana
Aku lihat petani renta di kaki gunung, diusir diancam tak bisa mengadu
Tanah leluhur ditawar murah, ladang harapan berganti lenguh birahi
Upacara perayaan tipu daya, tampil berjas-dasi penuh pesona
Hutanku tempat bersemedi kini villa megah menjulang tinggi
Pejabat tertawa dalam kemewahan, hutan karuhunku lenyap perlahan
*) Kota Serang 11 Maret 2025/Ilustrasi ChatGPT

Puisi Gol A Gong
HUJAN
Langit memuntahkan hujannya, deras kilat membelah udara
Aku tanah tak mampu menyerap air, tertutup beton tanpa daya
Aku air menangis, mencari jalan menuju rumah di dasar bumi
Aku tersesat menerjang kampung, serupa malaikat pencabut nyawa
Aku air bah, menyapu kampung di kaki gunung Gede Pangrango
Jerit tangis para orang tua, anak-anak hilang tak bersuara
Aku sungai meluap, mengamuk menghantam kota yang lena
Banjir menggenang, membawa segala duka dalam ambisinya
Aku langit menangis, amarah para karuhun Sunda belum reda
Tanah larangan Suryakencana, singgasana Sang Prabu koyak moyak
Aku hutan yang terluka, alam membalas pada yang rakus tanpa rasa
Aku hujan terus turun, mengisahkan luka di hilir berupa bencana
*) Kota Serang 12 Maret 2025/Ilustrasi ChatGPT

Puisi Gol A Gong
SUNGAI
Aku sungai, orang-orang membangun rumah papan
tanpa adab membelakangiku, aparat desa dapat uang saku
Limbah sampah sumpah serapah, badanku bau comberan
Bercak moral hanyut terbawa arus, air tinja menampar wajahku
Anak-anak tak lagi bermain rakit gedebok pisang
Ibu tak bisa mencuci baju di hulu, hilir berubah jadi pabrik
Api menyala di tungku, air di panci bercampur wanita jalang
Kehidupan semakin sesak, berpindah ke medsos dipenuhi orang sirik
Kini sungai jadi jamban terpanjang, cocok untuk jualan bendera
Diare dan korengan jadi visi-misi kampanye sang kontestan
Ikan-ikan menangis, katak minta hujan dalam lagu Indonesia Raya
Aku berpindah ke dalam pigura emas di istana
*) Kota Serang 13 Maret 2025/Ilustrasi ChatGPT

Puisi Gol A Gong
KARUHUN
Di layar TV, air dari langit tumpah ke ruang keluarga
Tanah merekah, menganga menelan harapan manusia
Banjir, longsor, angin merajam bumi yang luka
Ribuan jiwa mengungsi, satu nyawa kembali ke nirwana
Datanglah Sang Prabu kepadaku, serba putih membawa amarah
Lukisanku tentang gunung, hutan, hujan, dan sungai piguranya dihancurkan
Ia susun kembali di alun-alun Suryakencana sebagai sesajen
Berharap restu para karuhun, agar alam tak lagi meradang
Sang Prabu menata kembali Sunda, harus abadi hingga akhir zaman
Gunung dihijaukan, sungai dibersihkan, hujan jadi sahabat
Alam dan manusia kembali bertaut dalam kidung leluhur
Bumi sejatinya bukan milik kita, tapi titipan masa depan
*) Kota Serang 14 Maret 2025/Ilustrasi ChatGPT



PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya..


