Oleh Zaeni Boli
Sutradara Nara Teater, Silvester Petara Hurit, selalu punya cara untuk menyuarakan ketidakadilan yang mungkin jarang disadari oleh masyarakat luas, meski sebenarnya sudah dirasakan bahkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti perubahan iklim dan hal-hal lain yang sebenarnya buruk, mengganggu, dan merusak alam—dalam hal ini, bumi.
Kerusakan-kerusakan ini terkadang juga disengaja oleh kaum kapitalis, adapun dampaknya justru lebih banyak dirasakan oleh orang-orang kecil. Maka, adalah tugas dari teater untuk juga boleh menyuarakan kegelisahan tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh Nara Teater dalam lakon Ibu Tanah yang dipentas di Taman Kota Lembata. Pertunjukan ini mampu menarik animo penonton yang saat itu berada di Taman Kota Lembata.
Pertunjukan dimulai dari layar digital yang menggambarkan suasana alam yang sedang mengamuk dan manusia terombang-ambing, seperti yang diperagakan oleh para pelakon Ibu Tanah.
Kumpulan orang-orang yang panik akibat gunung yang meletus atau kejadian alam lainnya, lalu pelan-pelan cerita bergeser pada cerita mitologi yang terjadi di tanah ini. Pertanyaan serta gugatan tentang kehidupan yang menindas dan rakus akan kekuasaan.

Manusia hari ini seolah-olah mewarisi dendam masa lalu yang tak kunjung selesai, yang pada waktu-waktu tertentu bisa terjadi lagi, seperti bisul yang sewaktu-waktu muncul kembali. Hal-hal buruk itu juga ternyata, dalam banyak kisah dan sejarah, adalah warisan penjajah yang menerapkan politik adu domba untuk tanah jajahan. Tuan yang seolah-olah memberikan kue pada orang-orang yang tidak layak untuk menjadi raja dan menyingkirkan yang sesungguhnya berhak.
Lalu, saat semua belum benar-benar baik, penjajahan gaya baru muncul dan memaksa orang-orang kecil untuk percaya bahwa pembangunan adalah penting. Lalu suara-suara penolakan juga hadir mempertanyakan kembali: pembangunan untuk siapa?

Pada akhir acara, sebagai salah satu pemain, saya merasa senang karena ternyata beberapa teman dari komunitas yang ada di Lembata turut hadir menyaksikan pertunjukan kami untuk bersama gelisah bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.
Salah satu sahabat dari Komunitas Langit Jingga Film menyatakan bahwa pertunjukan Ibu Tanah yang digelar pada 19 Juli 2025 di Taman Kota Lembata ini relevan dengan kondisi mereka di Lembata.
Makin banyak orang yang peduli, semoga dunia bisa lebih baik lagi.



