Robohkan 4 Dinding Kelasmu

Oleh Gol A Gong

Ya, robohkan 4 dinding kelasmu! Kemudian pergilah. Jadilah murid kehidupan. Dua telingamu harus banyak mendengar. Satu mulutmu harus cakap mengatakan yang benar dan tepat. Hidungmu harus dibiasakn mencium segala macam aroma. Pikiranmu harus bergelut dan terbuka dengan ide-ide. Hatimu harus terus diasah sehingga betul-betul menemukan makna kebenaran, karena yang benar belum tentu tepat dan yang dianggap salah bisa jadi sedang dibutuhkan untuk menyeamatkan diri.

Ketika merobohkan 4 dinding itu, aku terlempar ke celah di antara dunia fiksi dan fakta. Aku bertemu Tom Sawyer, Si Doel, juga Ade Irma Suryani yang malang. Penderitaan karena cinta ala Doker Zhivago-Lara Antipova, Romeo-Juliet, dan Siti Nurbaya-Syamsul Bahri juga Minke – Anneleise. Hidup yang keras ala Jim Bowie-Ken Arok. Kisah perayu wanita Cassanova dan si broken home Ali Topan, Si pemberani Musashi-Si Pitung, Sisyphus, Nabi Yusuf, Abu Nawas, Synbad si Pelaut, Old Shaterhand, Phileas Fogg, Gajah Mada, Frankenstein, Kuntilanak, atau ibarat para petualang yang menaklukkan dunia; Columbus, Ibnu Batuta, Marcopolo, Gajah Mada, Bung Karno…

oOo

Kepalaku meledak. Buku-buku yang aku baca sejak kelas 5 SD (1975) yang tadinya adalah obat agar aku tidak bersedih setelah kehilangan lengan kiriku sebatas sikut, justru jadi api dalam jiwaku. Swtiap kata ibarat letikan api yang kemudian membesar tak bisa kupadamkan.

Itu sebab aku pergi dari rumah, bahkan sekolah dan kampus. Aku tidak suka dikungkung dalam 4 tembok dengan jendela-jendela yang tertutup rapat dan pintu yang hanya boleh dibuka-tutup guru dan dosen. Bagiku saran dari Ki Hajar Dewantoro agar merobohkan 1 dinding kelas saja untuk bisa melihat cakrawala – itu tidak cukup. Aku merobohkan keempat dindingnya agar bisa melihat dunia!

Keluar dari rumah dan merobohkan 4 dinding kelas ini sudah aku lakukan dari sejak SMA (1980-an). Anak sekarang menyebutnya “ngebolang”. Aku melabelinya dengan sebutan “liften” (Bahasa Belanda).

Liften ini sangat “mewah” bagiku. Duduk di bak truk melihat alam luas, daerah baru. Bagiku seolah sedang menunggang kuda. Aku juga bisa menemukan guru kehidupan dari supir truk, preman prasar, perempuat di pinggir jalan, sarjana putus asa yang susah mencari kerja, para pelajar yang salah arah, mahasiswa yang kebingungan dengan masa depannya, para calon pejabat yang menyembah pohon dan kuburan

Sekarang umurku 63 tahun. Aku sudah melewati banyak hal denan ber-liften. Dengan melakukan itu, aku jadi memiliki banyak kisah. Di di tulisan ini, aku menceritkannya agar kamu bisa bercermin. Aku telah melewati dua fase “liften” dalam menjalani hidup ini, yaitu:

1. Fase pertama adalah “raket”. Jika kehabisan dana, aku tantang jagoan badminton di kota atau kampung yang aku lewati. Ini periode 1980-1990. Aku seolah Musashi. Pedangku raket. Dengan modal juara badminton Asian Para Games (dulu Fespic Games, 1985-89) kendala dana bisa aku atasi. Aku bisa memperoleh Rp. 50 – Rp. 150 ribu. Bahkan di Pulau (atol) Geser, aku melatih anak-anak. Itu sebab di ranselku kuikat dua raketku. Di periode ini aku menulis Balada Si Roy.
2. Fase kedua adalah “pena”, yaitu menulis catatan perjalanan. Ini periode 1990 hingga 2000. Aku menulis di perjalanan. Belum punya laptop dan internet belum mewabah sepert sekarang ini. Setiap hendak menulis, aku harus mencari tempat kursus mengetik dan setelah ada internet menyewa di warung internet (warnet). Catatan perjalananku dihonori US$ 200. Di periode ini aku menulis banyak novel, puisi, esai, cerita pendek.

Setelah tenggelam di industri TV (aku bekerja di RCTI sebagai senior creative) pada periode 2000 – 2015, sekarang masuk ke fase ketiga, yaitu:

3. Fase ini saya sebut rada mewah, yaitu “narsum” alias narasuber. Ini dimulai setelah saya jadi “Gol A Gong”. Ke mana-mana difasilitasi, mulai dari transportasi, akomodasi. Dengan posisi seperti ini, apalagi ketika jadi Ketua Umum PP Forum TBM (2010-2015) dan Duta Baca Indonesia (2021-2025) semakin mudah dalam mengampanyekan literasi baca-tulis.

Nah, setelah amanah sebagai Duta Baca Indonesia selesai, pada 22 Desember 2025 saya ditemani 2 anak – Jordy dan Natasha akan Safari Literasi ke 12 negara hingga 12 Maret 2026. Biayanya dari mana? Safari Literasi ini biayanya dari menabung dan menulis. Ini dia buku-buku yang honor atau royaltinya dibayar depan untuk traveling ini:

  1. Antologi Fiksi Mini – SIP Publishing
  2. Puisi Esai Surat Berdarah Untuk Kartini dan Esai BRICS- Denny JA Foundation
  3. Antologi Puisi Roga Sanghara Bhumi – Gong Publishing
  4. Novel Anak Skuadron 4 – Zikrul Hakim Bestari
  5. Novel Anak Jadi Jenderal Kecil – MCM Bandung
  6. Pelatihan menulis private dan intensif daring

Kerja keras. Untuk akomodasi di kota-kota yang dilalui, saya mengirimkan surat ke KBRI. Ada yang merespon, bikin kegiatan talk show dan pelatihan menulis. Jika tidak direspon, jadi turis saja. Tidur di backpackers hotel. Nulis Perpustakaan dan toko buku.

Istri saya tidak mengizinkan solo traveling, maka 2 putra saya (Nomor 3 dan bungsu) menemani. Jadilah saya sepanjang perjalanan transfer ilmu kepada mereka.

Kerja keras. Untuk akomodasi di kota-kota yang dilalui, saya mengirimkan surat ke KBRI. Ada yang merespon, bikin kegiatan talk show dan pelatihan menulis. Jika tidak direspon, jadi turis saja. Tidur di backpackers hotel. Nulis Perpustakaan dan toko buku.

Tiket ke Bangkok (22 Desember 2025) sudah di tangan. Tinggal antar negara saja dari Thailand, Laos, Vietnam, Tiongkok, Kazakhtan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Georgia, dan Turkiye. Itu lewat darat. Kereta atau bus.

Untuk kepulangannya, tiket pesawat dari Istanbul ke Abu Dhabi sudah di tangan. Terus Abu Dhabi ke Kuala Lumpur dan ke Jakarta sudah aman. Pulang takbiran, lebaran di kampung halaman.

Saling doakan, kawan. Tetap semangat.

Gol A Gong
Traveler, author
*) Terima kasih kepada semua yang sudah mendukung dan selalu mendukung kegiatan saya.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==