Oleh Tias Tatanka
Seperti dejavu saat diam-diam aku memotret hubby sesaat sebelum berangkat traveling di bulan Desember 2025 ini. Akhir tahun 2011 beliau juga menekankan bahwa sepatu yang tepat adalah salah satu hal penting dalam perjalanan. Saat itu kami mengenakan boots bermodel dan dari merek yang sama. Senang sekali beliau bisa kembaran sepatu sama bininya selama kami traveling di awal 2012.
Pagi ini, di sepertiga akhir Desember, aku melihatnya mengenakan lagi boots produk Eiger. Setiap selesai mengenakan boots bertali, permintaannya sama, “Tolong talikan, Mah.”
Permintaan yang sudah kutunaikan sejak awal menikah, tiap kali beliau hendak bepergian mengenakan sepatu bertali. Sebenarnya bisa saja beliau mengikat sendiri, tapi ikatanku dirasanya lebih erat. Di beberapa kesempatan, aku sengaja duduk di lantai lalu khusyuk mengikat tali boots. Kupikir itu mewakili penghargaanku kepada suami. Meskipun beberapa kali hubby malah keberatan karena jadi semacam “feodal”.

Tentu saja itu tidak sempurna, kadang aku menolak jika sedang sibuk. Atau aku malah menjawabnya dengan, “Latihan sendiri, nanti di jalan biar biasa.” Sungguh tanggapan yang jauh dari ideal, bukan? Tapi begitulah aku dan hubby. Kadang beliau pun berinisiatif mengikat sendiri tanpa mengusikku.
Demikianlah kebiasaan itu berlaku, dan di setiap kesempatan yang ada, aku berusaha mengikat tali boots-nya dengan suka cita. Dalam hati kuucapkan doa agar Allah menjaga dan melindunginya lebih erat dari ikatan taliku.
Dahulu kala, saat X masih bernama Twitter dan dibatasi 140 karakter, setiap hubby traveling aku mengunggah postingan dengan tagar buatanku #LelakiPejalan. Awalnya berisi seruan untuk pulang, gak peduli baru saja hubby berangkat. Hahaha. Kocak dan absurd emang. Lalu kuubah menjadi postingan semangat bepergian dan jangan lupa jejak menuju rumah.
Sepertinya asyik mengulang kembali momen itu. ❤️
Begitu digelar peta perjalanan
aku bersiap melipat jaraknya
hingga bagiku tetap sama
: jauh hanyalah serupa lipatan
#LelakiPejalan
Bismillah. Sehat selamat sampai pulang kembali, mas yayang aa bebeb kakang prabu. Semoga Allah selalu melindungi dan menghitung lelahmu dengan berkah.
Terima kasih kepada semua yang telah mendukung Safari Literasi Gol A Gong ini



