Kata-kata itu akan terus relevan untuk orang-orang yang berada di kalangan kelas bawah. Mereka yang bekerja dari paruh waktu yang begitu lama—hanya untuk sesuap nasi. Kalau negara tidak pernah menjamin setiap warganya, tentu saja itu menghambat kemerdekaannya.

Merdeka bukan sekedar terbebas dari penjajah secara nyata oleh kolonial. Tetapi bagaimana dengan jajahan bangsa sendiri? Para pengusaha memonopoli perdagangan, lahan, dan semuanya dikuasai tanpa ampun. Apakah kita sudah merdeka? Tentu saja belum, seandainya kesejahteraan tidak bisa dirasakan oleh setiap manusia

Pada Selasa, 16 Agustus 2022, saya menemui Presiden Rumah Dunia—Abdul Salam—ia sedang menggarap proyek buku dengan salah satu instansi. Beruntung, Salam bisa diajak untuk wawancara berkaitan dengan kemerdekaan.

Sudah barang tentu, Abdul Salam punya sudut pandang tentang “merdeka dan kemerdekaan”. Berikut ini obrolan saya dengan Abdul Salam.
Abdul Salam kepada saya mengaku pada saat dirinya masih di usia remaja banyak mengikuti perlombaan yang diselenggarakan saat 17 Agustusan. Lomba yang diikutinya hampir semua sudah dijajal seperti balap karung, makan kerupuk, masukkan paku ke botol, dan lain sebagainya.

Di tempatnya dibesarkan setiap gang selalu ingin tampil meriah dalam merayakan kemerdekaan. Semakin hadiahnya besar, itu semakin bergensi—dan menjadi kepuasan tersendiri bagi para peserta lomba atau yang menyelenggarakannya.
Saat saya menanyakan tentang balap karung (goni) dengan makan kerupuk adalah lomba yang diwariskan oleh para penjajah agar imej bangsa kita miskin? Salam tidak mengetahui soal itu—sejauh buku sejarah yang ia baca, baru kali ini mendapatkan pertanyaan soal itu.

“Sejauh ini lomba balap karung dan makan kerupuk adalah bentuk salah satu memeriahkan, pemersatu. Karena lomba itu di kampung semua warga keluar untuk silaturahmi dan semacamnya. Tetapi secara esensi tentang imej miskin saya tidak tahu,” kata Salam.
Selanjutnya, saat saya menanyakan apa makna kemerdekaan bagi Abdul Salam, ia mengaku sangat sedih bahkan tidak menemukan apa itu kemerdekaan dalam setiap aspek kehidupannya.

“Saat kita merayakan kemerdekaan sebetulnya kita sedang merayakan kemunduran. Hari ini di ulang tahun yang ke-77 kita sedang berada di ambang kacau-balau,” katanya.
Maksud dari kacau balau yang digariskan oleh Abdul Salam karena masalah negara sedang mengalami goncangan seperti kasus Polri (penembakan)—yang menurutnya harus terus direnungkan agar menjadi yang lebih baik.
“Sebetulnya yang dicari dari setiap perayaan kemerdekaan adalah refleksi. Misalnya setiap lomba harus mengandung esensi sejarah. Itu penting sebenernya,” jelas Salam.

Yang terakhir saya bertanya tentang harapan Abdul Salam terkait di kemerdekaan Indonesia yang ke-77. Abdul Salam merasa pesimis dengan apa yang terjadi saat ini. Misalnya, ia juga menyinggung Kota Serang yang juga baru ulang tahun, tetapi tidak memiliki gagasan apapun untuk perubahan.

“Tidak hanya lomba tumpeng, jalan santai. Kota Serang harus berpikir ke depan—bagaimana generasi muda agar bisa dibawa ke SDM yang lebih baik,” katanya.
“Saya sedih di hari jadinya Kota Serang makin banyak pengangguran, peminta-minta, dan selamanya. Itu harus menjadi sorotan bagi pemerintah kota Serang. Bukan hanya lomba tumpeng, jalan santai. Ah apa itu? Nggak ada gagasannya,” pungkasnya.*



