Hampir di seluruh daerah, setelah kegiatan rampung, jika tidak ditunggu di tempat lain, Gol A Gong selalu melayani para peserta yang mengikuti kegiatannya, jika ada yang meminta foto. Selfie, berkelompok, atau bahkan satu persatu, tidak jadi masalah, semua dilayaninya. Yang minta tanda tangan juga.

Menurut Gol A Gong, itu adalah bagian dari kampanye membaca dengan cara yang lain. Mereka akan menjadi “public relations” menyebarkan informasi kegiatan, di media sosial mereka.

Ketika seseorang didaulat menjadi Duta Baca Indonesia, maka dia menjadi milik publik. Duta Baca Indonesia harus berdiri di atas semua golongan. Saat mendampingi Gol A Gong, saya dibawa masuk ke pesantren, sekolah theologia, hingga sekolah tionghoa. Begitu juga ke komunitas, tidak hanya komunitas literasi, Duta Baca Indonesia juga harus bersedia melayani komunitas-komunitas lain.

Tidak jarang setelah acara bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Gol A Gong melayani pertemuan-pertemuan dengan komunitas, kuantitas tidak jadi masalah. Mulai 1000, 100, atau bahkan hanya 5 orang dilayaninya. Yang penting baginya, kampanye membaca-menulis terus-menerus dilakukan kepada orang-orang (yang baru ditemuinya).
Rudi Rustiadi




