Oleh Muhammad Aswar
Seorang sahabat bercerita. Ia diminta menulis ucapan belasungkawa untuk kerabat yang wafat mendadak. Saat membuka ponsel, ia merasa buntu. Kata-katanya sendiri terasa dangkal, sementara duka orang lain begitu dalam. Maka ia bertanya pada AI, “Tolong buatkan ucapan duka yang sopan, lembut, dan menyentuh.” Beberapa detik kemudian, muncullah paragraf rapi, penuh empati, seolah diambil dari katalog kesedihan universal.
“Tapi rasanya kosong,” ujarnya. “Seperti membaca kata-kata yang sudah pernah dikatakan ribuan kali. Tak ada suara saya di dalamnya.”
Saya diam. Lalu berpikir, di situlah pertanyaannya bermula. Bukan soal apakah AI bisa menyusun kalimat yang baik, karena itu sudah terbukti. Tapi apakah ia bisa menghidupkan kembali kepekaan yang membuat bahasa menjadi milik manusia?

Bahasa dan Kepekaan: Yang Tak Dicetak dalam Kamus
Bahasa bukan sekadar kumpulan kata. Ia adalah jembatan dari rasa ke makna. Ia lahir dari gumam, tatapan, kegagapan, dari detik ketika kita memilih diam karena tahu, tak ada kata yang bisa menampung duka. Bahasa yang paling menyentuh justru sering tak selesai, lebih sering tersendat, terbata, bahkan salah.
Kepekaan berbahasa tidak datang dari teori atau tata bahasa. Ia tumbuh dari pengalaman. Ia mulai tumbuh di malam-malam kehilangan, dari kecanggungan cinta pertama, dari tawa yang ditahan di balik pesan teks, dari luka yang perlahan diberi nama. Kepekaan bukan sesuatu yang diajarkan. Ia dilatih lewat menjadi manusia sepenuhnya.

Dalam psikologi linguistik, kepekaan bahasa seperti ini disebut “pragmatic empathy”, kemampuan untuk tidak sekadar berkata, tapi merasa sebelum bicara (Archer, 2012). Hal ini tak bisa diprogram begitu saja ke dalam algoritma. Ia menuntut waktu, dan relasi yang hidup.
Dalam tradisi lisan, bahkan jeda dan napas pun punya makna. Dalam sastra Jawa atau Arab klasik, orang belajar menimbang rasa bukan dari kosakata, tapi dari getaran yang mengendap dalam bunyi.
Ketika Mesin Belajar Bicara
Hari ini kita hidup dalam dunia yang ingin semuanya cepat. Kata-kata bisa disusun dalam hitungan detik. AI bisa menghasilkan surat cinta, pidato pernikahan, atau bahkan puisi yang tampak menyentuh. Dan memang, dalam banyak hal, teknologi sangat membantu.
Namun, di saat yang sama, kita perlahan kehilangan keberanian untuk mencari kata dari dalam diri. Kita tergoda untuk mendelegasikan rasa kepada algoritma. Kita tidak lagi sabar meraba kata seperti meraba luka sendiri.
Kita mulai terbiasa mengandalkan kalimat jadi, seperti membeli makanan instan. Rasanya bisa ditebak, dan meski mengenyangkan, ada yang hilang: proses memasak itu sendiri, yang penuh aroma, ingatan, dan kemungkinan keliru.
Peneliti seperti Sherry Turkle telah memperingatkan bahwa ketergantungan kita pada teknologi untuk mengekspresikan perasaan justru bisa menjauhkan kita dari empati sejati.
Dalam bukunya Reclaiming Conversation (2015), Turkle menulis, “Kita menghindari percakapan sulit dengan menggantinya lewat pesan yang sudah kita template. Tapi tanpa percakapan, kita kehilangan kemampuan mendengarkan dan memahami emosi.”
Bahasa yang terlalu sempurna bisa terasa seperti kemeja yang disetrika berlebihan, rapi tapi kaku. Tanpa lipatan, tapi juga tanpa tubuh. Kita membaca kata-kata itu dan tahu ada sesuatu yang hilang. Sebentuk kejujuran. Sebentuk luka yang tidak disembunyikan.
Kita menginginkan hasil, bukan proses. Ingin bicara tanpa perlu mendengar. Ingin menulis tanpa menunggu gema hati. Padahal, bahasa bukan sekadar hasil akhir. Ia adalah perjalanan, dan kadang, justru belokan-belokan dan kesalahannya yang membuatnya hidup.

Merawat Bahasa, Merawat Diri
AI bukan musuh. Ia hanya alat. Tapi seperti semua alat, ia mencerminkan siapa yang menggunakannya. Pertanyaannya adalah: apakah kita masih ingin menulis dengan pelan, dengan ragu, dengan hati yang terbuka? Atau kita menyerahkan seluruh bahasa kita pada mesin yang bekerja tanpa lelah, tapi juga tanpa rasa?
Kita masih bisa memilih. Untuk menulis tangan saat menyampaikan cinta. Untuk mengetik perlahan saat menghibur sahabat. Untuk membiarkan kalimat datang dengan jeda, dengan kesalahan, dengan keberanian untuk tak terdengar sempurna.

Filsuf Byung-Chul Han, dalam The Burnout Society (2015), menyebut bahwa dunia digital yang hiper-efisien justru melahirkan kelelahan batin dan hilangnya ruang kontemplasi. Bahasa yang dirumuskan secara instan hanya mencerminkan keinginan untuk tampil, bukan untuk terhubung.
Barangkali tantangan terbesar bukan terletak pada teknologi, tapi pada diri kita sendiri yang tak lagi betah menunggu. Kita ingin semuanya cepat. Cepat selesai, cepat terkirim, cepat diterima. Tapi kepekaan tak lahir dari kecepatan. Ia tumbuh dari proses yang lambat, kadang menyakitkan, kadang membingungkan. Dan justru karena itu, ia mendalam.
Kita bisa menulis tanpa target, hanya untuk mendengar suara kita sendiri dalam kata. Dalam proses itu, kadang kita menyadari sesuatu yang tak kita sadari sebelumnya bahwa menulis bukan untuk menjelaskan, tapi untuk mengalami.
Bahasa: Rumah Rasa Manusia
Jika kita membiarkan bahasa dikendalikan oleh mesin sepenuhnya maka yang hilang bukan sekadar gaya bahasa. Yang lenyap adalah kita sendiri.
Bahasa, dalam bentuknya yang paling utuh, adalah rumah bagi rasa manusia. Ia menyimpan kenangan, membentuk identitas, dan menjadi jendela kita untuk melihat dunia. Jika rumah itu diganti oleh struktur algoritma yang steril dan sempurna, maka perlahan, kita akan menjadi tamu di rumah sendiri.
AI tidak akan merusak kepekaan bahasa manusia, kecuali kita membiarkannya. Selama kita masih mau menulis dengan rasa, selama kita masih terbata-bata menyusun kalimat demi mengungkapkan sesuatu yang tak bisa diwakili mesin, maka bahasa akan tetap menjadi milik kita. Dan selama itu pula, manusia akan tetap menjadi manusia.
Tentang Penulis:

Muhammad Aswar adalah penikmat Sastra Arab dan pemerhati kajian Timur Tengah. Menjadi pembicara di LIFEs Salihara 2021. Menerjemahkan puisi Nizar Qabbani, Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah (Circa, 2021); Surat Tuhan karya Albert Einstein (Circa, 2023); Pembangkangan Sipil karya Henry David Thoreau (Basabasi, 2024); Max Havelaar karya Multatuli (Basabasi, 2025).



