Oleh: Naufal Nabilludin
Ada satu perasaan yang muncul ketika saya berada di Lombok dan Bali: saya tidak merasa perjalanan ini jauh.
Mungkin, pada akhirnya, jauh dan dekat itu relatif. Bagi saya yang pernah naik kereta ekonomi bersubsidi selama 12 jam dari Jakarta ke Surabaya, perjalanan 1–2 jam terasa dekat. Tapi ada hal lain yang membuat saya merasa demikian—sesuatu yang lebih dari sekadar durasi perjalanan atau jarak yang ditempuh.

Menurut saya, cara berpakaian juga memengaruhi perasaan kita saat bepergian. Di Lombok dan Bali, misalnya, saya memakai kaos santai—seperti yang biasa saya kenakan sehari-hari. Tidak ada perubahan signifikan dalam cara saya berpakaian, dan mungkin karena itu, saya tidak merasa seperti sedang berada di tempat yang jauh.

Pakaian bisa menjadi jembatan antara kenyamanan dan perasaan asing. Ketika kita mengenakan sesuatu yang sudah akrab, tubuh dan pikiran seolah merasa lebih “di rumah,” meskipun kita sedang berada di tempat baru. Mungkin itulah sebabnya saya merasa perjalanan ini bukan sesuatu yang benar-benar jauh, melainkan perpanjangan dari keseharian saya, hanya dalam latar yang berbeda.
Selain itu, cuaca juga berperan. Lombok dan Bali panas, matahari terik, dan angin laut sesekali berembus. Dengan kaos tipis dan pakaian santai, saya merasa lebih bebas bergerak, lebih selaras dengan lingkungan sekitar.


Jika saya mengenakan sesuatu yang lebih berat atau terlalu formal, mungkin saya akan lebih sadar bahwa saya “berada di tempat lain.” Tapi dengan pakaian yang nyaman, saya bisa berjalan di antara orang-orang tanpa merasa berbeda—seolah-olah tempat ini memang bagian dari keseharian saya.

Mungkin perjalanan bukan hanya tentang ke mana kita pergi, tetapi juga bagaimana kita menyesuaikan diri dengan tempat itu—atau sebaliknya, bagaimana kita membuat tempat itu terasa lebih dekat dengan diri kita sendiri.




