Tidak ada pikiran buruk sekecil apapun. Setelah acara pembacaan puisi selesai, saya mengumumkan hasil penjurian bersama MC. Setelah itu saya menunggu panitia menyelesaikan administrasi. Satu jam saya menunggu, panitia yang mengundang saya tidak terlihat batang hidungnya. Karena kesal menunggu, saya WA panitia tersebut.

Tak lama waktu berselang, ia menjawab pesan WA saya dengan meminta maaf bahwa dirinya sudah berangkat meninggalkan kegiatan. “Kirim nomor rekening aja, ” katanya lewat pesan WA.
Saya kirim nomor rekening. Setelah itu, saya pulang. Di perjalanan, saya ingat istri memesan buah-buahan ketika saya akan berangkat. “Pah, pulangnya nanti beli buah-buahan ya buat dede,” kata istri saya. Tidak panjang lebar saya jawab, “iya.”

Di atas motor saya bingung. Uang di kantong hanya pas buat beli bensin. Akhirnya, ya sudahlah tidak harus dipikirkan karena kenyataannya nggak ada uang lagi. Sampai rumah istri bertanya, “mana buah-buahan buat dede?”
Saya jawab, “waduh, lupa.”
Dua hari berikutnya panitia saya WA, “bagaimana urusan kemarin apakah sudah bisa diselesaikan?”
Panitia menjawab, “nanti, ya.”

Tiga hari berikutnya saya WA lagi berati sudah hampir seminggu dari acara, “apakah sudah bisa diselesaikan kegiatan kemarin?”
Pihak panitia hanya membaca pesan saya. Lewat satu minggu saya WA lagi. “Jika dirasa tidak mampu, tidak apa-apa. Santai aja.” Lagi-lagi pesan hanya dibaca.

Karena tidak mendapati niat baik dari panitia, saya memutuskan memblokir nomor tersebut. Dalam hati saya berkata, jika dia orang baik ia akan datang meminta maaf. Sekarang, sudah tiga minggu panitia tersebut tidak menemui saya.
Dari kejadian ini, saya bisa belajar banyak bahwa sikap penyair yang pemalu harus diubah jadi sikap profesional. Karena, kebaikan yang kita lakukan belum tentu itu diterima baik oleh orang lain. (*)



