Buku Baru: Sang Tamu Agung Armakalaya

Membaca puisi-pusi reflektif seperti ini memang hanya bisa dinikmati secara privasi, tidak akan bisa terhubung ke seluruh orang. Hanya yang bisa memaknai betapa pentingnya puisi di dalam hidup ini. Jadi memang ada perspektif agama di sini. Kalau ada orang, misalnya, saya tidak menyebut orang itu tidak soleh, tapi anggaplah bagi orang-orang yang hidupnya masih acak-acakan, Armakalaya memberi semacam kado melalui buku puisi-puisi (tentang) puasa. Artinya, selain membaca Quran dan amalan ibadah lainnya, tidak ada salahnya sore hari di bulan puasa diisi juga dengan menghayati puisi-puisi, atau lebih jauh, menulis puisi dengan tema puasa sebagai bentuk respons terhadap ramadan, seperti yang ditawarkan Armakalaya di bukunya ini.

Sebagaimana kita fahami, puasa ramadan itu terbagi ke dalam tiga babak; rahmat, pengampunan, hingga fase pembebasan dari api neraka. Pada kumpulan puisinya ini, penyair menangkap momen-momen itu sebagai pengalaman batiniah pribadinya maupun memberikan lazimnya khalayak berperilaku di bulan ramadan. Ini tergambar jelas di puisi pertama, Sang Tamu Agung, yang diawali dengan kegagapannya akan segera datangnya bulan puasa;

Dan aku, kembali terhenyak
Serasa tetiba, kau sudah di depan
Mengetuk pintu kelalaianku

Untunglah, dia segera menyadari kelalaiannya, untuk segera berbenah menyambut ramadan, sang tamu agung tersebut:

Aku harus bersiap, mandi dan merias diri
Mendinginkan gemuruh duniawiku
Menyalakan api akhirat memanaskan kesunyianku

Saya menangkap, Armakalaya di buku ini sedang memetakan perilaku orang-orang. Di awal-awal, orang berusaha bersaleh-saleh diri dengan puasa ramadan, demi mengejar rahmat Allah SWT. Namun terlihat jelas bahwa memasuki fase atau babak kedua ramadan, yang sejatinya dihias dengan amalan dalam rangka pengampunan, naluri-naluri manusiawi mulai kembali berkuasa, memalingkan peluang baik pengampunan tersebut. Manusia mulai lalai, musala sepi, shopping baju lebaran dan pernak-pernik lebaran (sirup, kue-kue, parsel) jadi agenda utama, mudik jadi wacana harapan sekaligus kegelisahan. Fenomena tersebut, antara sindiran atau mungkin pengalaman pribadinya, tergambar di situ.

Kalau diibaratkan sebuah parcel, puisi-puisi dalam Sang Tamu Agung ini adalah parcel dalam bentuk lain yang selama ini orang mengharapkan parcel itu makanan, seperti Khong Guan yang sangat legendaris itu, atau orson. Tentu saja, parsel ruhaniah seperti ini baik untuk melembutkan batin setiap orang. Armakalaya mungkin beberapa langkah memikirkan hal lain seperti memberikan parcel melalui karya-karya puisinya.

Sebagai sebuah literatur personal di mana puisi-puisinya merupakan sebuah kesatuan, saya bisa memakluminya. Jarang, orang merespons satu peristiwa ke satu peristiwa dalam rentang waktu yang konsisten, 30 hari berpuisi puasa. Ini merupakan puisi ringan dengan diksi yang masih terbuka. Ini menjadi satu artefak, bahwa pernah mengalami satu perkhidmatan religiusitas yang tidak semua orang bisa. Sisi baiknya, ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan seperti ibu-ibu rumah tangga, misalnya. Ada satu puisinya;

aku kunjungi istri di dapur,
pura-pura membantu,
hanya ingin memastikan apakah bakwan,
kroket, dan es buah sudah tersedia.

Ini populer dan mengena, bahkan menampakkan kejujuran kaum suami di rumah. Namun jika saya melihat dari persoalan hakikat puisinya, mungkin di kesempatan berikutnya atau pada puasa tahun yang akan datang, sebagai penyair, Armakalaya sudah harus masuk ke fase berikutnya.

Pada momentum puasa tahun 2024 ini, mungkin Armakalanya sudah menyiapkan diri naik kelas dari puisi-puisi ringan dan terbuka, ke bentuk penulisan yang lebih berkelas serta berorientasi lebih inklusif dan universal sehingga semua orang bisa menikmati bahwa puasa, mudik, lebaran, bermaaf-maafan, itu menjadi nilai yang universal sehingga non-muslim pun bisa menikmati itu. Jadi mulailah menulis puisi sebagai parcel berikutnya; melalui diksi-diksi seperti puasa disimbolkan dalam bentuk penyucian diri, mudik disimbolkan sebagai pulang ke asal.

Dibutuhkan kerja keras untuk memahami hakikat puisi, yakni seperti bagaimana penyair mengajak pembaca membuka jendela pelan-pelan. Ketika jendela terbuka lebar jendela, dia melihat satu dunia yang luas untuk dijelajahi.

Berpuisi juga adalah menangkap keluasan suatu peristiwa ke dalam bentuk rangkaian tulisan melalui diksi-diksi minimal, imajinatif, dan simbol-simbol. Sang penyair seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu dan pembaca mencari-carinya, apa dan di mana letaknya.

Sebagai Duta Baca Indonesia, apa yang dilakukan Armakalaya sejalan dengan Gerakan Indonesia Menulis yang saya gelorakan. Realitas yang disodoran Perpustakaan Nasional Republik Indoesia, bahwa 1 buku ditunggu 90 orang bisa kita perpendek disparitas itu dengan menulis dan menerbitkannya jadi buku. Tentu buku puisi ini pantas untuk menambah koleksi perpustakaan kita.

Gol A Gong
Duta Baca Indonesia 2020-2025

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==