Ujung-ujungnya, belati menancap di jidat. Kembali aku masuk ruang bedah. Aku merasa kuat seperti robot di film seri TV, sehingga ketika mengangkat lemari, justru lemari yang menimpa kepalaku. Lagi-lagi bocor di jidat. Alangkah banyak jahitan di kepalaku.

Tubuhku memang rusak. Namun, aku justru melakukan sesuatu yang mungkin melampaui batas. Itu kulakukan karena aku menolak meratap-ratap atau bersedih. Tak mau jadi pesakitan di tempat tidur sembari menunggu ajal.

Ya, tubuhku betul-betul rusak secara fisik. Namun, insyaallah, ada yang tetap kupertahankan hingga mati, yaitu menjaga jiwaku selalu dalam keadaan terbaik. Itulah caraku untuk bertahan hidup!



