Cakrawala 23: Mural di Museum Literasi Gol A Gong

Selama puasa, aku memikirkan interiornya. Aku baru bisa menyusun rak-rak, menata buku, dan menghiasi dinding dengan memoribilia. Memang butuh dana. Aku hanya bisa memilih barang-barang bekas yang ada di rumah dan di gudang agar estetik. Ini untuk identitas Museum Literasi Gol A Gong, yang memberi contoh tidak perlu mengeluarkan dana besar. Kita bisa membuat museum pribadi di rumah untuk masa depan, untuk anak-cucu kita.

Aku ingat omongan sahabatku ketika sama-sama aktif di Majalah HAI (1988-1994) – Qibro Murdaning, “Sentuhan seni itu tidak selalu harus benda-benda yang mahal, tapi bisa memanfaatkan yang ada di rumah.”

Aku mulai dengan becak, sepeda ontel, pemberian Firman Venayksa, Robin Wood Edi Bonetski, dan benda-benda yang berserakan di gudang. Aku buat etalase. Kata Safiq – sobat putra kedua saya, Gabrel, “Di Yogya etalase seperti ini banyak, Pak. Tidak apa-apa. Bagus.” Syafiq itu alumnus Disain Komunikasi Visual, ISI, Yogyakarta.

Lalu aku melihat banyak ruang kosong. Dibantu relawan Rumah Dunia, aku tempeli dinding dengan buku-buku bekas kena rayap atau buku-buku pelajaran yang sudah usang. Ada yang aku gantung. Aku tidak tahu, apa yang akan dirasakan oleh orang-orang yang datang berkunjung ketika melihat interiror yang aku buat. Instagramable? Itulah juga yang aku pikirkan.

Setelah itu, mataku tertuju pada dinding-dinding putih. Aku ingin melukisi dinding-dining itu, semacam mural seperti biasa dilakukan seniman Edi Bonetski. Sebetulnya sudah aku diskusikan dengan Tias Tatanka. Kami ingin memindahkan cover-cover buku legendaris dunia ke canvas berupa dinding.

Aku hampir jadi pelukis ketika masih di SD (1976). Aku belajar menulis ke Kak Bedi di Sanggar Badak, Kota Serang. Juga mewakili SD di pameran lukisan (kelas 6). Bikin komik waktu SMP (1978). Tapi ketika melihat para pelukis di Banten secara ekonomi tidak menjanjikan, mimpi jadi pelukis kubatalkan.

Jadi bakat melukiku tidak pernah dilatih. Mungkin tidak pernah aku ceritakan, kalau aku pernah ada niatan daftar ke Fakultas Seni Rupa ITB. Tapi akhirnya memilih Fakultas Sastra UNPAD. Alhamdulillah masuk. Akhirnya yang aku pilih menekuni teksnya.Jadilah penulis seperti sekarang ini.

Tapi hingga kini, aku masih suka datang ke pameran lukisan. Sesekali melukis walaupun kaku dan jelek. Sekarang aku sedang asik melukisi dinding Museum Literasi Gol A Gong. Konsepnya ingin sekali lukisan muralnya terkesan mejis. Tidak apa jelek juga, yang penting aku happy.

Dalam perjalanannya, keinginan melukisi cover novel terganggu dengan ide-ide lain. Ya, muncul begitu saja. Ini ingin, ingin itu. Yah, random sajalah. Apapun yang muncul di benak akan aku gambar.

Bagiku, melukis atau menulis seperti rel kereta api, secara paralel berdampingan, tujuannya adalah kebahagiaan. Dua kegiatan itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak selalu harus seperti seorang profesional. Ini penting untuk dilakukan, karena bagian dari terapi, mental healt atau bahasa anak sekarang adalah : healing.

Mengutip Wikipedia, “Kesehatan jiwa atau kesehatan mental adalah keadaan individu sejahtera menyadari potensi yang dimilikinya, mampu menanggulangi tekanan hidup normal, bekerja secara produktif, serta mampu memberikan kontribusi bagi lingkungannya. Dengan demikian, kesehatan jiwa mencakup aspek-aspek fisik, psikologis, sosial.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==