Saya merasa optimis denan para pemain yang bukan naturalisasi saat melihat susunan pemain (line up) timnas Indonesia melawan Vietnam di Piala Asia 2024, Qatar, tidak begitu parah. Masih kompetitif. Ada Egy M, Arhan, Asnawi, Marcelino. Kiper juga masih Ernando. Alhamdulillah, timnas menang 1-0 lewat penalti Asnawi.

Dalam olahraga awalnya memang pro dan kontra. Tapi sesungguhnya ketika merayakan kemenangan – seperti ketika timnas kita mengalahkan Vietnam di Piala Asia, Jum’at 19 Januari 2024 di Qatar, di sanalah kebahagiaannya. Jadi bagi saya, naturalisasi itu tetap sportif dan kompetitif sepanjang masih ada darah Indonesia – dari ayah atau ibunya.
Saya jadi ingat ketika masih bekerja di TV. Host-host di TV itu wajah blasteran juga diminati, ya. Hahaha… Memang tidak apple to apple jika sepakbola dibandingkan dengan dunia entretaint ya. Tapi analoginya begitu.

Kita tidak bisa menyalahkan kebijakan naturalisasi. Inilah yang disebut fenomena (fenomenologi). Semangat kompetitif harus ditumbuhkan. Mental berjuang harus muncul sejak dini. Tentu negara harus hadir. Kita jangan mengkritik kebijakannya.
Saya yakin, banyak para orangtua Indonesia yang pasangannya dari negara luar, punya cita-cita ingin berbakti pada Indonesia. Jalan yang mereka tempuh diluar sistem. Mereka berjuang di negara pasangannya dengan harapan jika si anak sukses bisa pulang ke negara asal, berjuang membela leluhurnya. Kredo John F Kennedy, bahwa “jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan kepada negara” bisa diterapkan di sini.

Memang sistem kompetisinya harus diperbaiki, berjenjang tentu. Korupsi dihilangkan, sehingga keluarga Indonesia gizinya meningkat. Di daerah, Stadion standar FIFA harus banyak dibangun. Di kampung saya saja, Banten International Stadium contoh nyata buruknya pemerintah daerah dalam mengelola keuangan.

Contoh saja Jepang, yang timnasnya nanti akan kontra hidup-mati dengan timnas Indonesia di Piala Asia 2024, Qatar . Komik/kartun TSUBASA jadi propaganda keren dari semangat bushido Samurai diterapkan dalam keseharian. Anak-anak masa depan Jepang memiliki mimpi sama, jadi kampiun sepakbola. Indonesia belum memiliki filosofi semangat yang disepakati – bambu runcing?
Nah, sekarang mari kita doakan timnas Indonesia bisa menekuk Japan di Piala Asia 2024, Qatar. Kata Erick Thohir, Ketum PSSI, “Bukan tidak mungkin Asnawi dan kawan-kawan bisa mengalahkan Jepang!” (Gol A Gong/foto utama: Info Timnas Garuda Indonesia di https://www.facebook.com/groups/6618716284883955)



