Tadi pagi beliau pengin kopi, jadi kuseduhkan kopi dengan moka pot. Rada lama karena aku nyari kertas penyaringnya. Kertas penyaring ini ukurannya terlalu kecil, sellernya salah kirim. Aku cuma komen kecewa aja di kolom nilai, tapi bintangnya tetap kukasih lima. Malas komplen dan minta tukar, nanti lebih lama lagi prosesnya, sedangkan aku waktu itu perlu cepat.

Jadi tiap nyeduh pakai moka pot harus pakai tiga lembar kertas bentuk lingkaran, supaya menutupi permukaan butiran kopi. Biarlah cepat habis kertasnya, jadi musnahlah rasa kzl tiap ingat kecewanya. 🤣 Halaaah.
Setelah proses dari moka pot, kupindahkan ke termos, supaya panasnya awet, seperti cintaku padanya. Tsaah. Eaaa. 🤣

Begitulah. Hidup harus optimis dan gumbira. Ada sedih, ya dirasakan saja, jangan terlalu dalam. Ada kecewa, ya diungkapkan, tanpa perlu menjadi korban. Jika sedang senang, doakan banyak orang. Jika sedang berlebih harta, carilah yang pantas ditolong. Masya Allah, tabarakallah 🤲 Bagi dong, seratus. Ha-ha-ha. Bersyandhaa. Alhamdulillah. Allahumma baarik ‘alaih 🤲
Tias Tatanka



