Lama saya merenungi maksud dari tulisan itu, siapa pula yang membuat tulisan tersebut sehingga mengatasnamakan umat. Kentara betul sikap kesal pembuat tulisan tersebut terhadap orang yang “seenaknya” mengunakan fasilitas masjid di luar waktu salat seperti saya. Saya sedikit ketar-ketir dengan nada ancaman tersebut.

Saya menjadi bertanya-tanya, apa salah, jika saya kencing di toilet masjid diluar waktu salat. Oh, mungkin jika ingin kencing syaratnya saya harus mengiringinya dengan mengeluarkan infaq atau shadaqah. Tapi apa mesti sesuatu yang menuntut keikhlasan dipaksakan, sehingga memicu nada ancaman di akhir peringatan dengan tulisan “Kalau ada apa-apa jangan salahkan masjid” jika dipikir memang lucu, siapa juga orang yang akan menyalahkan masjid, bukankah masjid hanya bangunan yang tak bisa dipersalahkan dan tidak bisa melakukan pertanggungjawaban.

Filosofi Masjid – Kita semua tahu, masjid memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan umat Islam. Dari masjidlah peradaban umat Islam terpancar. Bentuk peringatan tertulis yang saya baca di pintu toilet Masjid Karang Tumaritis Ciceri pun sejatinya adalah ekspresi kecintaan terhadap masjid. Sehingga masjid diharapkan difungsikan sebagaimana mestinya dan terhindar dari sekecil apapun pemanfaatan pribadi.

Keberadaan masjid merupakan miniatur negara. Kita bisa belajar managemen kepemimpinan melalui aktivitas salat berjamaah. Seorang imam yang ditunjuk mengimami jamaah salat bukan orang sembarangan melainkan mesti melalui uji seleksi fiqhiyah yang ketat. Pun begitu, seorang imam harus rela mundur digantikan oleh jamaah terdekat di belakangnya apabila ia kentut atau mau diingatkan ketika ia melakukan kekeliruan bacaan al-quran. Ini mengingatkan para pemimpin kita untuk berendah hati mau menerima koreksi dan jika mendapat aib semisal terjerat kasus korupsi yang mencoreng kepemimpinannya dengan cara ksatria seorang pemimpin mesti rela mundur dan mempersilakan yang lain untuk maju menggantikan posisinya sebagaimana imam salat yang kentut.



