Fenomena Keberadaan Masjid – Mengenai keberadaan masjid, saya pernah dibuat ngegrunek. Saat itu saya dengan rombongan relawan Rumah Dunia mampir di Masjid Kubah Emas Depok untuk istirahat dan numpang salat, namun satpam tidak mengizinkan kami masuk dengan alasan tidak jelas sehingga terpaksa kami salat berdesakan di musola kecil yang disediakan tak jauh dari gerbang masuk.

Selama salat saya tak bisa khusyuk, pikiran berkecamuk memikirkan motif pembangunan masjid yang konon didirikan oleh saudagar kaya asal Kaujon Serang Banten pemilik kapal tanker. Begitu hinakah diri ini sehingga tidak diizinkan salat di masjid mentereng tersebut. Saya membayangkan bagaimana teguran Allah di akhirat kelak kepada pendiri Masjid Kubah Emas tersebut lantaran menjadikan masjid sebagai tempat wisata yang tidak bebas di akses oleh umat.

Coreng moreng dan budaya kongkalikong politik turut melunturkan kepercayaan masyarakat terhadap rencana-rencana pembangunan. Masyarakat kini menjadi serba protektif dan sangat menjaga betul agar lubang-lubang penyelewengan atau korupsi tak memiliki celah selubang jarum pun.
saya sempat mendengar selentingan kabar akan dibangunnya Masjid Apung di daerah Anyer sebagai ikon masjid yang akan menjadi kebanggaan masyarakat Banten yang memakan biaya selangit hingga menyulut pro dan kontra (kini tak ada kabar beritanya lagi). Kita tak bisa menyalahkan sikap kritis masyarakat yang mungkin merasa didhalimi di tengah kondisi sosial masyarakat yang serba sulit; gedung sekolah roboh, jalan-jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki kok bisa-bisanya berinisiatif hendak mendirikan masjid dengan biaya selangit.

Fungsi Masjid – Tanpa hadirnya masjid pun banyak orang miskin yang rajin salat merintih dan menjerit di rumahnya yang sempit memohon pertolongan Allah agar terbebas dari jerat struktur pemiskinan yang dibiarkan para pemimpin. Sekalipun konon masjid tersebut dibangun dengan dana masyarakat yang memiliki kelebihan harta, namun ada kekhawatiran dari sebagian orang, di kemudian hari hal itu diselewengkan untuk mengeruk dana APBD yang akan menyayat hati rakyat, konon bantuan mudah turun jika sesuatu sudah terbangun (ada bukti fisik dan jejak rekam kegiatannya). Apalagi konon telah ada statement dari gubernur yang bersedia membantu pendanaan masjid tersebut.

Bagi yang ngotot ingin mendirikan masjid unik tersebut saya mafhum, mungkin mereka sudah tua dan sadar sebentar lagi tutup usia sehingga ngebet dan tergiur mereguk amalan yang kekal setelah meninggal. Konon yang dimaksud dengan amal jariah adalah suatu amalan atau pembangunan fasilitas umum yang bisa digunakan secara terus-menerus oleh khalayak sehingga amalnya senantiasa mengalir sekalipun pendirinya telah terkapar di liang kubur.

Saya pun sebenarnya ingin agar ribuan masjid berdiri sesuai fungsinya sebagai pusat kegiatan umat, bukan sekadar unik atau antik namun tak pernah menjadikan umat kian terdidik.
Sebagai pusat kegiatan umat, saya mengandaikan semua masjid memiliki fasilitas yang lengkap. Di areal masjid ada perpustakaan, ruang olahraga, gedung sekolah, galeri seni, kantin, bank, ruang penginapan, gedung pertunjukan seni, museum, butik, rumah sakit, dan segala fasilitas lainnya yang dibutuhkan oleh peradaban manusia.

Keberadaan masjid pun mesti diatur sedemikian rupa agar efektif mempersatukan umat. Tak jarang kita temui ada dua masjid atau lebih di satu tempat sehingga memecah persatuan umat. Pertanyaan kita kemudian, Yang lebih penting dilakukan sekarang ini, kembali mendirikan masjid baru dengan biaya selangit atau memakmurkan masjid yang telah ada agar lebih baik? Wallahu alam. *


