Cendekiawan Menulis
Para cendekiawan muslim Indonesia banyak yang menulis buku. Salah satu yang paling produktif ialah Gus Dur. Siapa yang tak mengenal beliau? Sebelum menjadi presiden Republik Indonesia yang keempat, Gus Dur adalah sosok pemikir sejati. Hal itu ia tunjukkan dengan tulisan-tulisannya yang tersebar di banyak media massa.

Gus Dur sering menulis kolom-kolom politik, di samping ia juga aktif di organisasi-organisasi keislaman dan kesenian. Beliau menulis banyak buku. Tulisan-tulisannya membahas tentang keagamaan, kebudayaan, politik, hingga sepak bola.

Selain Gus Dur, ada Cak Nur. Beliau juga merupakan salah satu cendekiawan muslim Indonesia yang besar pengaruhnya. Pemikiran-pemikirannya tentang keislaman dan keindonesiaan menjadi salah satu bukti keluasan dan kedalaman pikirannya. Beliau juga banyak menulis buku.

Cendekiawan muslim Indonesia yang masih aktif membangun Indonesia ialah Emha Ainun Nadjib atawa Cak Nun. Di tengah kesibukannya mendidik umat, menjaga persatuan dan kesatuan melalui pengajian yang disebut Maiyah, Cak Nun tetap produktif menulis. Esai-esai budaya, agama dan politiknya sangat tajam, dan memberi pencerahan bagi bangsa. Buku-buku yang sudah ditulisnya cukup banyak, dan hampir semua laku di pasaran dan digemari banyak pembaca, karena gagasan-gagasnnya sangat kontekstual dan progresif. Beberapa bukunya ialah Demokrasi Ala Saridin, Markesot Bertutur, Indonesia adalah Bagian dari Desa Saya.

Gus Mus juga demikian. Sebagai pengasuh pondok pesantren, kiai yang satu ini juga menulis. Beliau menulis esai, puisi dan cerpen, di samping melukis. Salah satu buku kumpulan esainya ialah Membuka Pintu Langit yang mencerminkan kehidupan agama dan politik di Indonesia.

Azyumardi Azra juga melakukan hal yang sama. Gagasan-gagasan brilian dan revolusionernya, yang seringkali ditemui dalam tulisan-tulisannya, sangat dibutuhkan bangsa ini, agar maju dan tak ketinggalan dari bangsa-bangsa lain.

Saya tidak tahu apakah mereka anggota ICMI atau bukan, namun, terlepas dari hal itu, mereka adalah cendekiawan muslim Indonesia yang punya pengaruh besar di negeri ini, melalui gagasan-gagasan yang mereka tuliskan. Kita, terutama bagi yang merasa dan menyebut diri sebagai cendekiawan, mestinya mencontoh mereka.

Cendekiawan harus menulis. Kenapa? Karena tulisan adalah produk intelektual, salah satu bukti bahwa seseorang atau sekelompok orang benar-benar berpikir. Orang yang demikian barulah bisa disebut sebagai cendekiawan.
Tabik. *



