Rudi menyetir si Biru – mobil operasional Duta Baca Indonesia yang sudah menjelajahi taah Jawa-Bali-NTB-NTT. Mobil memasuki pintu tol Serang Timur. Kami menuju Terminal 2, bandara Soekaro-Hatta. Batik Air. Flight pukul. Pukul 07.00 WIB sampai di pintu tol Cikupa. Saya meminta Rudi untuk keluar di pintu tol Cikupa, sarapan dulu. Tidak jauh dari pintu tol ada Alfa Marta. Di sebelahnya ada warung nasi dan bubur ayam. Jika diteruskan ada perumhan Svarnabhumi. Terus lagi ke utara, Kecamatan Pasar Kamis.

Sarapan nasi kuning, sedangkan Rudi bubur ayam. Jalanan macet. Kendaraan bermotor seperti antrean kambing. Mobil-mobil ibarat antrean kerbau. Kalau motor menuju kawasan pabrik, mobil masuk ke pintu tol Cikupa, rata-rata menuju Tangerang dan Jakarta.

Jalan tol mulai sibuk. Di Karawaci antrean panjang melambat. Kami memiliki banyak watu. Saya selalu mengingatkan Rudi, agar 5 jam sebelum take off sudah menuju bandara. Drai arah Kota Serang, jalan tol sulit diduga. Kadang ada truk dari Sumatera menuju Jakarta atau Jawa, terbalik dan melintang. Itu bisa memakan waktu berjam-jam sebelum dievakuasi.


Kami tiba di bandara sekitar pukul 08.00 WIB. Rudi menepi di T2D. Kami menurunkan barang; 3 koper, X-Banner dan 1 dus. Isinya buku-buku untuk doorprize dari Sekolah Enuma Indonesia untuk kegiatan Celemek Ajaib Paman Gong.


Saya menarik troli dan Rudi menyusun barang-barangnya. Setelah itu, Rudi menuju parkiran di T3. Kami pulang dari Menado Sabtu, 27 Juli dengan maskapai Garuda. Nanti mendaratnya di T3. Supaya lebih mudah, itu sebab mobil diparkir di sana. Kami tidak kuatir soal ongkos parkir, karena didukung oleh Angkasa Pura 2 sejak 2023

Setelah chek-in, kami menuju gate D5. Tapi tiba-tiba kaki kiriku sakit. Saya mau cerita beberapa bulan lalu. Saya jogging di alun-alun kota Serang. Saya jalan kaki di batu-batu refleksi itu, yang tajam-tajam. Berat tubuh saya 85 kg. Ternyata itu berbahaya. Saya menjerit. Tumit belakang kaki kiri, nginjek batu yang lancip, nusuk saraf. Justeru berbalik. Mestinya batu itu nancap di saraf yang mati.

Saraf saya yang sehat malah jadi radang. Kambuhan, kalau jalan jauh, terutama di T3, sakit lagi. Kata dokter, jalan di batu refleksi itu justeru berbahaya. Apalagi berat badannya di atas 60 kg. Sekarang saya ke Menado, tiba-tiba kambuh. Terpaksa naik kursi roda. Jadi, lebih bagus jalan kaki atau ngegowes aja. Itu paling benar buat kita, yang di atas 50th.


Pucuk dicinta ulam tiba. Ada petugas yang mendorong kursi rida. Saya meminta tolong agar bisa naik kursi oda hingga gate D5. Lumayan jauh. Dan sakit itu menyiksa. Alhamdulillah, si bapak tidak keberatan dan bersedia menolong.


Tapi setelah menunggu sekian lama di D5, tiba-tiba ada pengumuman. Kami diminta pindah ke D6. lumayan juga, mesti jalan. Yah, apa boleh bbuat. Ternyata itu cara terbaik, agar tidak berebut. Nomor yang awal, dipersilakan tetap di D5. Sedangkan nomor besar, pindah ke D6. Saya memilih nomor paling belakang, 30C, dekat toilet. Jadi tidak berebut masuk.

Kami tiba di Menado sekitar pukul 16.00 WITA. Bu Tenny Kurniasari dan Pak Ari dari Dinas Perpustakaan Sulawesi Utara dan Dhilla Bachmid (Duta Baca Sulawesi Utra) menjemput. Perjalanan yang panjang. Perbedaan waktu 1 jam dengan WIB. Seabrek kegiatan menunggu.


Tiba-tiba rasa lapar menyerbu. Di pesawat hanya diberi roti. Padahal saya beli pop mie Rp. 25 ribu di pesawat. Tapi belum makan nasi, ya, belum makan. Bu Tenny menenangkan perutku, “Kita makan di Pondok Hijau. Pak Jokowi pernah makan di sana.”
Bersambung ke Makan Siang di Pondok Hijau Kota Menado





