“Orangtua kamu, mana?”
“Bapak sudah meninggal, Bu.”
“Ibumu?”
“Nyuci baju di komplek, Bu.”
“Rumahmu?”
“Jauh, Bu,” aku menyebutkan nama sebuah kampung.
“Ibu pulang juga lewat sana. Ayo, Ibu antar.”

“Malem pulangnya, Bu. Belum dapat uang.” Aku sebetulnya takut. Siapa tahu ibu ini penculik, yang suka menjual anak-anak ke luar negeri. Aku teliti. Dia memakai jam tangan mahal dan gelang emas, kaca mata hitam, rambutnya coklat, sepatu haknya tinggi, tasnya juga berkilauan.
Si banci bersuara. “Ibu ini orang terkenal, lho. Pemain sinetron. Suka nonton sinetron ‘Istri yang Ditukar’, nggak?”
“Nggak punya TV, Kak…”
“Aduh, merana sekali nasibmu, Dik,” kamera HP-nya terus diarahkan kepadaku.
“Sedang apa di sini?”
“Ojek payung, Bu,” aku menunjuk ke payung yang tergeletak sekitar dua meter dariku.
Si ibu mengambilkan payung dan menyerahkannya kepadaku.
“Terima kasih, Bu.”
“Aduh, kasihannya kamu.”
Seorang satpam mendekati, “Ada masalah, Bu?”
“Nggak, Pak. Aman.”
“Adik ini baru, ya?” Satpam meneliti. “Biasanya saya kenal kalau ada anak kecil jadi ojek payung, Bu.”
Aku mengesot mundur, menjaga jarak dari si ibu.
“Ayo, adik. Bangun,” satpam mencoba mengangkat tubuhku.
“Biar, Pak. Saya saja yang nanganin,” si ibu menepiskan tangannya kepada satpam.
Satpam kemudian pergi dan aku lihat mengawasi dari depan toko kacamata.
“Namamu siapa, Nak?”
“Tini, Bu.”

“Ini, buat kamu makan, ya. Beliin juga ibumu makanan yang enak, ya,” si Ibu menyerahkan lima lembar uang seratusan ribu.
Kamera HP si banci terus saja diarahkan kepada tanganku yang menerima uang dari si ibu yang katanya artis sinetron.
“Hati-hati, ya. Sabar. Hidup itu penuh ujian,” si Ibu melambaikan tangannya, pergi seperti dikejar-kejar hantu.
Si banci juga melambaikan tangannya, mengejar bossnya yang sudah hilang menuju tempat parkir.

Aku lihat sekeliling. Satpam tersenyum. Aku berjalan ke belakang eskalator. Di sana menunggu Mbak Astuti. Satpam juga bergabung dan berdiri memunggungi kami, agar tidak terlihat oleh orang-orang. Tapi tangan kanannya diulurkan ke belakang.
Aku serahkan uang itu ke Mbak Astuti. Kemudian Mbak Astuti meletakkan selembar uang seratusan ribu ke telapak tangan kanan satpam.
“Mas Yudi nanti dioperasi, ya, Mbak?”
“Iya! Dioperasi!”
“Sembuh, ya.”
“Sembuh!” Mbak Astuti menarikku. “Ayo, kita ke mal yang di dekat stadion! Di sana banyak YouTuber, selegram juga! Mereka butuh content creative yang bikin orang nangis kayak tadi!”
Aku menurut saja. Aku membayangkan Mas Yudi yang terbaring di rumah sakit menunggu dioperasi. Jantung Mas Yudi bermasalah. Mbak Astutilah yang punya ide ini. Kami orang miskin. Tidak punya BPJS.
*) Serang 7 Oktober 2022
*) Foto-foto saat Gempa Literasi Jawa Barat, 3-28 September 2019


