“Tidak apa-apa, Pak Haji. Kurma saja sudah alhamdulillah,” sebagai guru bawahan, Wawan tahu diri.
“Istri saya sudah membagi-bagi dengan rata. Satu plastik berisi 5 kurma. Rata-rata di komplek guru ini, anaknya dua ‘kan. Saya lebihkan satu.”
“Kebetulan anak ketiga kami baru lahir seminggu yang lalu…”
“Wah, alhamdulillah! Pasti akan jadi anak yang soleh, Pak Wawan. Lelaki?”
“Lelaki, Pak haji. Saya dan istri mohon ijin, memberi nama pada anak kami….”
“Namanya siapa?”
“Muhammad Akbar Mabruri….”

Akbar tertawa senang. Perutnya yang buncit terguncang-guncang. “Kamu ini! Bilang-bilang dulu, kek! Tapi, tidak apa-apa. Saya doakan, semoga jadi anak yang soleh, sehat, dan berhasil jadi orang terpandang seperti saya!” katanya mendoakan.
“Amien, Pak Haji….”
“Kalau saja saya dikabari saat di Mekkah, pasti saya doakan di depan Ka’bah!”
“Tidak apa-apa, Pak Haji. Belum jodoh…”
“Ya, sudah. Masih banyak yang antri mau salaman itu!”
“Iya, Pak Haji….”



Cerpen yang memberikan pesan moral terhadap seseorang yang naik haji. Luar biasa
Terima kasih sudah membaca cerpen saya ini.
raganya naik haji tapi hatinya belum naik haji