Hari dengan cepat berganti. Seluruh warga bersiap untuk tradisi Ngeropok, yaitu berebut sembako dari sebuah kerangka kapal sebagai simbol perayaan Maulid Nabi. Anak-anak memakai pakaian yang bagus, orang dewasa tersenyum lebar, semuanya terasa layaknya menyambut hari raya yang indah.
“Mak, aku sama temen-temen duluan ke lapangan, ya!” Layaknya anak-anak yang lain, aku-sebagai anak kecil ditugaskan untuk menyambut para warga sebelum tradisi ngeropok dimulai. Aku, Ali, Haris, serta beberapa anak kampung lainnya berlarian menuju lapangan.
“Yang paling dulu sampai dia menang!” Teriak Ali, lalu tanpa persiapan, semua berlari cepat sekali. Kecuali aku-tentu saja dan Haris.
“Haris, kita ke rumah pak Lurah, yuk! Siapa tahu bisa bantu-bantu disana”
“Hmm.. Boleh, tuh. Siapa tau kita dapet oleh-oleh makanan dari pak Lurah, hehehe.. Ayo, Ahmad! ” Haris menyengir, dan sesaat kemudian ia langsung menarik tanganku menuju jalan rumah pak Lurah.

Sesampainya di sana, aku membunyikan bell yang tergantung di pagar, sambil celingukan melihat ke dalam rumah. Haris menunggu sambil mondar-mandir tak jelas. Aku membunyikan bell sekali lagi, ketika mendadak tanganku ditarik Haris ke samping rumah pak Lurah dengan ekspresi serius.
“Weh, Lihat tuh, Ahmad. Kok tumben banget truknya pak Lurah di parkir disini? Itukan kebiasaan pak Lurah kalo misal daerah sini kena musibah, terus para warganya diangkut pake truk itu..”
“Eh, iya, ya. Ngapain truk pak Lurah ada di situ? Apa jangan-jangan.. bentar lagi bakal ada gempa macam bulan lalu?”
Aku dan Haris bergidik ngeri. Kami segera berlari ke depan rumah pak Lurah ketika terdengar gesekan roda pagar. Pak Lurah menatap kami dengan ekspresi bingung.
“Nak Ahmad sama nak Haris ada apa? Kok kayak habis dikejar anjing aja mukanya?” Canda pak Lurah. Kami hanya menggaruk tengkuk kami yang tidak gatal sambil menyengir.
“Eh, nggak pak. Tadi kami lihat truk punya pak Lurah di samping, dikira bakal ada gempa lagi kayak bulan kemarin” Haris menunjuk truk pak Lurah dan hanya disambut dengan tawa yang sedikit kikuk dari pak Lurah. Saat itu.. kulihat ekspresi pak Lurah Agak berubah, ingin kutanyakan namun lebih dulu pak Lurah mengajak kami masuk ke rumahnya. Kami berbincang riang, sebelum akhirnya pak Lurah mengajak kami untuk bersama menuju lapangan.
Baru saja kaki kami menginjak teras depan rumah pak Lurah, terdengar teriakan beberapa warga serta teman-temanku. Kulihat mereka berlari ke arah rumah pak Lurah. Aku dan Haris langsung bertatapan. Seperti memahami pikiran satu sama lain, kami berdua langsung berlari menuju truk pak Lurah dan bersiap membuka bagian bak. Pak Lurah tak sempat mencegah kami karena para warga langsung mengerumuni pak Lurah.
“Pak! Panjang Mulud kita berantakan, pak! Ada yang mengambil sembako banyakbanget!” Seorang ibu-ibu histeris berteriak sambil menggandeng anaknya. Ali dan teman yang lain mengangguk menyetujuinya.
“Iya, pak! Padahal tadi malam masih aman, berarti pencurinya beraksi pas dini hari!” Seorang pemuda mencoba membuat dugaan, diikuti seruan pembenaran dari penduduk yang lain.
Para penduduk masih sibuk mengeluh dan protes ketika diam-diam pak Lurah menyelinap ke samping rumahnya dengan panik.
“AHMAD! HARIS! JANGAN BUKA BAK TRUKNYA!” Seru pak Lurah sembari berlari ke arah kami. Terlambat. Pintu bak terlanjur kami buka dan kami langsung melongo dibuatnya. Ini..
“INI KAN SEMBAKO-SEMBAKO WARGA BUAT PANJANG MULUD!” Teriakku dan Haris spontan. Para warga berlari melihat apa yang terjadi dan kaget tak percaya melihat tumpukan sembako di dalam bak truk pak Lurah.
“Jadi.. yang mencuri sembako-sembako adalah pak Lurah..” Kesimpulan Ali menggantung di udara. Tapi pak Lurah yakin, celetukan polos Ali mewakili seluruh isi hati para warga yang masih syok dengan apa yang barusan mereka lihat di truknya.

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Cerpen untuk Pemuda Kota Serang yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Sabtu, 12 Oktober 2024.


