Cerpen Sabtu: Aku Sudah Ditunggu

Tugasnya belum selesai. Tak peduli lelah dan kantuk menyerang karena kekenyangan. Atau bisa jadi, masih kelaparan lantaran bagiannya mesti harus dibagi lagi jadi tiga. “Biar Genduk lebih banyak makan,” katanya.

Perempuan itu menggosok piring-piring dan gelas-gelas dengan hati-hati. Sebab buat keluarganya piring mahal sekali. Kalau pun mau dapat gratisan dari sabun cuci, mesti beli yang sekilo. Itu pun kalau pas promo. Andai pun promo, belum tentu Menur bisa langsung beli sabun cuci, sebab uang buat beli belum tentu diberi suami.

Lagi dan lagi, beragam pengandaian berkecamuk di dalam pikiran sepanjang ia melakukan tugasnya, hingga ketika perempuan itu menimba air dari sumur. Seperti kemarin-kemarin, ia kerap diam memandang bayangannya di goyangan air di kedalaman sana. Andai pun berganti menjadi bagaimana.

Bagaimana kalau aku bukan aku. Bagaimana kalau aku tidak begini. Bagaimana kalau aku jatuh ke dalam situ. Bagaimana kalau aku … mati hari ini.

***

“Ibuk!”

Teriakan itu membahana. Membuat Menur membuka mata, terkesiap. Lekas-lekas perempuan itu beranjak dari dingklik di tepi sumur, lalu sembari mengelap tangan basah yang berlumuran busa sabun. Ditinggalkannya piring-piring dalam ember. Menur tunggang-langgang ke kamar.

“Kenapa, Nduk?” tanya Menur, begitu melihat anak perempuannya duduk dan menangis. Ia mengangkat anaknya yang baru berusia tiga ke pangkuan dan mengusap air matanya dengan lengan daster. “Cup, cup, cup. Mimpi jelek, Nduk?”

Genduk tidak menjawab. Balita itu menangis saja. Tersengal-sengal seperti barusan kena omelan. Menur menimang anaknya sambil memejam. Berulang-ulang Menur mencoba menenangkan, tapi tangis Genduk belum reda, malah terasa memekakkan telinga. Sambil menggumamkan nyanyian biar anaknya diam, badan Menur bergerak ke kanan dan kiri. Di antara suara-suara berisik tangis, tawa tetangga yang terdengar hingga kamarnya, dan gumamannya sendiri, pikirannya berkelana.

Bagaimana nasib Genduk nanti? Apakah akan seperti aku atau lebih buruk atau lebih baik? Bagaimana kalau anak ini tidak ada? Bagaimana kalau aku tidak ada? Bagaimana kalau aku … mati hari ini.

***

Matahari bahkan masih lelap ketika Menur membuka mata. Perempuan itu menyibakkan selimut tipis yang membungkus tubuhnya. Perlahan ia bangkit, biar tidak membangunkan suaminya, lalu berjalan ke kamar mandi. Kantuknya entah ke mana, bahkan sebelum jemarinya menyentuh dinginnya air gentong. Perempuan itu menggosok gigi, membasuh muka, lalu keluar dari kamar mandi untuk menuju ke dapur. Ia berdiri di muka tungku, memantik api, lalu menjerang air di periuk yang telah ia siapkan semalam. Di antara riap nyala api, Menur terpaku.

Otaknya sibuk merancang rencana. Apa-apa saja yang hendak dilakukannya hari ini. Membereskan rumah, memasak, memandikan Genduk, mendulang Genduk, menidurkan Genduk, mencuci baju, menyetrika, dan tentu mencuci piring. Pekerjaan domestik yang setiap hari berputar-putar seiring jam bundar. Itu-itu melulu. Namun, hari ini, entah kenapa hari ini Menur merasa aneh sekali.

Cuci piring.

Menur menoleh ke pintu yang mengarah ke sumur. Ia kemudian mengarahkan pandangan ke meja. Ada tumpukan piring di sana. Perempuan itu berdiri, mengangkat alat makan itu lalu berjalan ke sumur.

Langit masih gelap ketika Menur meletakkan piring kotor ke dekat ember. Perempuan itu meraih timba, lalu melongok ke dalam sumur. Gelap. Menur menelan ludah. Diturunkannya timba ke dalam sana. Perempuan itu memejam hingga terasa timbanya menyentuh air.

Menur kembali melongok ke dalam sumur. Kembali, ia menelan ludah.

Bagaimana kalau aku jatuh ke situ? Bagaimana kalau aku hilang hari ini?

***

Di malam-malam, Parjo selalu mendorong becak motornya begitu memasuki gang rumah. Pria itu sungkan kalau deru knalpot membisingkan anak tetangga. Sembari melepas topi jerami, ia mengusap wajah dengan handuk yang menggantung di leher, lalu duduk di licak teras. Pandangannya menerawang, sebab penghasilannya kian lama kian berkurang.

Ia merogoh kantung celana. Dihitungnya lembar demi lembar uang lecek di sana. Seribu, dua ribu, lima ribu, dan terbesar sepuluh ribu. Dihelanya napas dalam-dalam, lalu beranjak ke dalam rumah.

Didapatinya Menur sedang duduk di dingklik kecil, menumis entah apa di tungku kayu.

“Kok tidak pakai kompor?” tanya Parjo.

“Gasnya habis, Mas,” jawab Menur, sembari menoleh sekilas. “Sebentar, ya, Mas. Sebentar lagi matang.”

“Apa itu?” tanya Parjo lagi.

“Tumis daun singkong. Tadi metik di halamannya Mbak Is,” jawab Menur.

Parjo meninggalkan Menur, menuju kamar. Dilihatnya Genduk sedang tertidur. Pria itu pun memutuskan mandi sembari menunggu istrinya selesai memasak.

Barangkali terbiasa bekerja cepat, tak butuh lama mereka sudah berada di lantai ruang tamu dengan piring di tangan. Tanpa bicara, tanpa tawa. Hanya menghabiskan makanan sampai tandas tanpa waktu lama, lalu bersiap melepas hari di kamar.

Parjo tidur membelakangi Genduk dan Menur. Menur tidur membelakangi Genduk dan Parjo. Tak lama mereka dipeluk kelam. Hingga tersadar ia ada di malam asing kali ini. Sebab suara jangkrik barangkali masih lebih nyaring ketika Parjo terbangun dan mendapati istrinya lebih dulu duduk di ujung kasur. Pria itu mengerutkan dahi, sebab mendengar sedu sedan lirih. Parjo bangkit, lalu menepuk bahu Menur.

“Kenapa, Nur?” tanyanya. “Mimpi jelek?”

Menur menoleh. Di antara remang lampu kekuningan, wajah perempuan itu basah. Bibirnya bergerak-gerak, seolah ragu ingin mengatakan sesuatu.

“Kenapa?” tanya Parjo lagi.

Menur menatap wajah Parjo dan kemudian ke Genduk, anaknya, yang masih terlelap di antara mereka.

“Aku … umurku ….” Menur menelan ludah, di antara sengau suaranya. “Aku mau mati, Mas.”

Parjo menarik tangan Menur, biar mendekat kepadanya. “Jangan sembarangan ngomong!”

Menur menunduk. Parjo mengangkat dagu perempuan itu dengan tangannya. Bibir Menur gemetar. Entah ada peristiwa apa yang tidak ia tahu sepanjang hari tadi, sebab tahu-tahu istrinya bilang mau mati malam ini.

“Aku sudah ditunggu,” ucap Menur lagi.

“Ditunggu siapa?” Kedua tangan Parjo di bahu Menur. Digoyangnya, biar istrinya tersadar dengan igauan yang entah dari mana.

Menur menggeleng. “Tidak tahu.”

“Tidur, Nur. Tidur. Cuma mimpi itu.” Parjo bangkit dari kasur, lalu menunggu Menur menuruti perintahnya. Tak lama, dan masih dengan tangis yang tanpa suara, Menur merebahkan diri ke atas kasur, membelakangi anak mereka. Sedang Parjo kini terjaga sepenuhnya. Kantuknya hilang, berganti dengan pikiran-pikiran aneh yang berkelindan.

***

Selalu. Menur selalu berlama-lama di sumur belakang rumah mereka ketika mencuci piring. Perempuan itu selalu berdiri dengan badan condong ke arah lubang air. Parjo mendapati Menur begitu sejak beberapa waktu yang lalu. Hingga kejadian semalam membuat gelagat istrinya kian ganjil di mata.

Pria itu diam di ambang pintu belakang. Ia membiarkan Menur menuntaskan pekerjaan. Menimba air, mengisi ember, dan mulai mencuci piring, juga gelas, juga cobek. Perempuan itu kemudian membilas alat makan dengan air, sampai air di ember tandas. Dimasukkannya yang barusan dicuci ke dalam ember, dan perempuan itu kembali berdiri di muka sumur.

Seketika debar jantung Parjo lebih kencang dari biasanya. Entah kenapa, padahal hanya memandang Menur berdiri di dekat sumur mereka. Debaran itu kencang dan kencang, ketika dalam keremangan cahaya ia melihat Menur mencondongkan badan ke pinggiran sumur. Kian bergerak, kian miring, kian condong, dan … Parjo berlari menghampiri.

“Nur!” Ditariknya badan Menur. Napasnya memburu, matanya memelotot, tidak percaya dengan apa yang barusan dilakukan perempuan itu. “Apa yang kamu lakukan?!”

Menur terkesiap. Sejenak perempuan itu terdiam, lalu menggeleng. “Apa?”

“Kamu hampir jatuh ke sumur, Nur,” jawabnya, gusar.

Perempuan itu menoleh ke arah sumur di sebelah. Semen yang terkelupas berganti dengan lumut, bata merah yang basah, dan timba yang menggantung di sana jadi arah yang dilihatnya lekat-lekat.

“Aku ditunggu, Mas. Katanya sebentar lagi aku mati.”

“Kata siapa?! Ditunggu siapa?!” tanya Parjo.

Menur menunduk. “Di sumur. Waktu aku cuci piring.”

“Siapa namanya?!”

Perempuan itu menggeleng. “Tidak tahu.”

Dengan kedua tangan di bahu Menur, Parjo menegakkan badan istrinya. Ditatapnya Menur lurus-lurus. Seolah ia tengah mencari jarum dalam tumpukan jerami. Ia tidak tahu apa yang ia cari, tapi ia sedang gigih memindai perempuan yang dikenalinya sejak lima tahun silam.

“Apa, Nur? Kenapa kamu aneh sekali?” tanyanya lagi.

“Mas Parjo enggak ngerti. Ada yang sedang menungguku. Menunggu matiku.”

“Siapa? Kenapa kamu harus bilang mati melulu?” tanya Parjo lagi. Kali ini napasnya mulai memburu. Emosi mulai menjalari diri ketika Menur kembali menoleh ke sumur.

***

Menur duduk di ambang pintu belakang, menatap sumur yang kini ditutup balok-balok kayu yang dan papan tebal. Tukang ledeng barusan menyelesaikan pekerjaan. Parjo berutang ke RT guna memasang air ledeng di rumah mereka. Entah uang dari mana untuk membayar utang dan tagihan bulanan. Entah kenapa suaminya begitu kekeh menutup sumur penghidupan mereka. Sungguh Menur menyesali apa yang telah terjadi. Namun, sumur itu tidak berlubang lagi.

“Sudah selesai. Aku narik dulu,” pamit Parjo, yang entah sejak kapan tiba-tiba berdiri di sebelah Menur.

“Mas.” Menur menengok ke Parjo yang barusan mengambil handuk kecil untuk dikalungkan ke leher. “Apa karena aku, Mas Parjo sampai harus utang buat nutup sumur?”

“Itu urusanku, Nur. Aku yang cari uang,” jawab Parjo.

Menur terdiam. Seketika batinnya merutuk. Pikirannya bergelayaran. Suara-suara kembali menggema.

Bagaimana kalau ia beban sesungguhnya? Bagaimana kalau ia adalah penyusah keluarga? Bagaimana kalau suaminya susah payah nantinya? Bagaimana kalau ia hilang saja? Bagaimana kalau ia mati … hari ini?

Sedetik, dua detik, lima detik … Parjo bertanya, “Apa masih ada yang tunggu kamu?”

Menur kembali menatap ke sumur. “Ada di pintu.” (*)

Gambar: Canva.com

TENTANG PENULIS: Elisabeth Ika sementara ini berdomisili di Denpasar sebagai seorang istri dari seorang pemusik dan pemilik dua anjing yang lucu. Kesehariannya dihabiskan dengan sesekali menulis dan mengurus pekerjaan domestik. Karya yang pernah dibukukan adalah cerpen. Yang pertama Paes (2023) di Antologi Cerpen Kisah dari Halaman Belakang terbitan Elex Media Komputindo, dan Mampir (2023) di Antologi Cerpen Kita di Titik Temu terbitan Mekar Cipta Lestari. Elisabeth Ika bisa dihubungi melalui media sosial Instagram @elisabethika_ dan Twitter @elisaikapus. Nomor Rekening: BCA 0095331349 a.n. Elisabeth Ika Puspita Sari.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==