Warga jadi gelisah, Mat Jony pasti saja bikin ulah. Baru keluar sehari, ayam tetangga Pak Rw hilang dua ekor. Seminggu kemudian di pos RW banyak kehilangan sandal dan sepatu. Atau warga kehilangan pakaian yang lagi dijemur. Sebelum Mat Jony bebas, semua masih aman. Sekarang di kampung Sindang sering ada huru-hara yang tidak jelas. Aparat desa yang mencakup Lurah, Rw, Rt dan hansip dibikin pusing. Sudah pusing dengan wabah corona, ditambah lagi dengan ulah Mat Jony. Tapi Mat Jony pintar mengelak. Dia selalu punya alibi untuk bebas dari tuduhan.
Preman yang satu ini wajahnya lumayan sangar. Tubuhnya banyak tato, tapi yang lucu semua tatonya bergambar barang curian yang ia ambil. Dan semua tato itu dikerjakan teman satu penjaranya. Tubuhnya tinggi besar, kulitnya agak hitam. Rambutnya yang selalu klimis lebih cocok dengan profesi sebagai model iklan minyak rambut.
Musim corona begini banyak orang yang berdiam di rumah. Jalanan sepi. Warung makan sepi. Pasar sepi. Mat Jony bingung mau berbuat apa. Mau malak orang di pasar tapi pasar sepi. Mau makan gratis di warung tapi banyak yang tutup. Mau nyolong di rumah orang tapi semua orang pada di rumah. Satu-satunya cara ya nyolong baju yang lagi dijemur.
Berulangkali Mat Jony putar otak. Bagaimana caranya supaya dia bisa balik ke penjara. Secara di penjara semua gratis. Makan tinggal ambil, tidur ada yang kipasin, mau rokok tinggal minta. Nah, ada pandemi corona begini, kenapa juga dia dibebasin? Itu yang Mat Jony belum ketemu jawabannya.
Sambil nongkrong di pengkolan kampung di bawah pohon Mahoni, Mat Jony menatap langit. Jabrik, preman pasar anak buah Mat Jony dengan setia ngipasin boss-nya. Satu lagi, si Kepeng dengan rajinnya pijat bahu Mat Jony.
“Hey, kalian ini nggak pada pake masker. Apa kalian nggak takut kena corona?” tegur Pak Haji Marjuki, juragan sembako di pasar.
“Kagak, Pak Haji!” jawab Jabrik.
“Lagian kenapa pada takut sama corona sih, takut mah sama Allah. Betul nggak, Pak Haji?” ceplos Mat Jony.
“Iya betul sih, takut mah sama Allah, tapi kita harus mencegah penyebaran corona,” jelas Pak Haji. “Kalian nggak pada salat? Sudah azan Zuhur tuh!”
“Kan musala ditutup, Pak Haji. Mau salat di mana coba?” Kepeng berusaha mengelak ucapan Pak Haji.
“Dasar kalian ini, pintarnya ngeles aja!” sergah Pak Haji seraya meninggalkan mereka.
“Peng, gimana caranya ya supaya gue bisa balik ke penjara lagi?” tanya Mat Jony.
“Lah, boss gimana sih! Udah bebas, malah pengen masuk lagi!” jawab Kepeng, bingung
“Kan lo tau, hidup jadi susah sejak ada si corona. Mending gue balik ke penjara sekalian,” sahut Mat Jony.
“Kalau boss masuk lagi, ajak-ajak kita dong,” celetuk Jabrik.
“Udah, lo berdua di luar aja jadi orang baek. Cukup gue yang masuk.” Mat Jony menasihati teman-temannya.
“Nah, gue ada ide,” ucap Mat Jony sambil berdiri.
Jabrik dan Kepeng bengong melihat boss mereka nyelonong jalan sendirian.
Kali ini Mat Jony bikin ulah di pasar. Suaranya lantang berteriak di pasar. “Sodara-sodara, saya nggak takut sama Tuhan! Saya nggak suka dengan fitnah dan benci kebenaran.”
Spontan warga yang mendengarnya menganggap Mat Jony sudah gila. Ada juga yang heran karena sebandit- banditnya Mat Jony tapi dia tidak berani menghina Tuhan.
“Bukannya tobat, sadar, eling ke luar dari bui, ini malah tambah edan!” teriak Suti tukang sayur.
Kehebohan di pasar diadukan warga ke Pak Lurah. Pasar yang tadinya sepi karena wabah corona, sekarang jadi ramai. Satpol PP juga dibikin geger karena mereka tidak mau cari ribut dengan Mat Jony. Akhirnya Mat Jony ditangkap dan dibawa ke pos dekat kelurahan.
“Hey, Mat Jony!” teriak Pak Lurah dari jarak kira-kira semeter. Wajah Pak Lurah tidak tampak marah karena tertutup masker. Semua yang hadir juga memakai masker dan jaga jarak, kecuali Mat Jony yang bebas masker.
“Ya, Pak Lurah!” Mat Jony tegas.
“Maksudmu apa bikin heboh di pasar?” tanya Pak Lurah.
“Saya nggak bikin heboh, Pak. Saya cuma ngomong, kalo saya nggak takut sama Tuhan,” Mat Jony santai.
“Lah itu, apa maksudnya? Apa kamu selama di dalam penjara sudah jadi kafir?” Pak Lurah makin keras suaranya.
“Sekarang saya tanya Bapak. Tuhan Bapak, siapa namanya?” Mat Jony balik tanya.
“Ya, jelas, Tuhan saya Allah!”
Mat Jony cengengesan. “Lantas, apa saya bilang ‘kalo saya nggak takut sama Allah’?”
Warga yang hadir bergumam di balik masker. Ada yang manggut-manggut membenarkan keterangan Mat Jony.
“Lalu, apa maksudmu bilang ‘kamu tidak suka fitnah dan benci kebenaran’?” Pak Lurah makin sewot.
“Sabar dulu, Pak,” Mat Jony kalem. “Semua juga tau kalo berlebihan pada sesuatu itu bisa timbul fitnah. Nah, bapak-ibu sudah berlebihan takut sama corona, sama aja fitnah, kan Pak? Fitnah begitu yang saya nggak suka.”
“Terus, yang kamu maksud benci kebenaran, apa?” Kali ini suara Pak Lurah melemah.
“Saya memang benci kebenaran yang ada sekarang ini. Benar ada wabah virus corona. Benar semua harus pake masker dan jaga jarak. Benar semua dilarang kerja dan nggak boleh salat di masjid. Saya malah benci kebenaran itu Pak, karena saya nggak bebas lagi kerja,” jawabnya serius.
“Memang kamu kerja apa? Lah, kerjamu keluar-masuk bui.”
Terdengar suara bisik-bisik warga.
“Justru itu, Pak. Mending saya dibui, nggak perlu kerja, bisa dapat makan. Nggak perlu malak di pasar, bisa dapat uang. Lagian di dalam bui, bebas corona, eh, ini malah yang di penjara pada dikeluarin.”
Mat Jony serasa puas sudah keluarin unek-uneknya. Pak Lurah bengong mendengar keluhan preman yang satu ini. Preman lain malah senang bebas, lah yang ini malah pengen masuk bui lagi.
“Ya sudah, yang lain bubar! Jaga jarak aman, jangan lupa pake masker. Dan kamu, Mat Jony, besok kamu kembali ke bui!” teriak Pak Lurah, tegas.
“Beneran, Pak?” Mat Jony serius nanya.
Pak Lurah hanya manggut-manggut. Dan yang lain bengong melihat Mat Jony menengadahkan tangannya tanda syukur.
“Dasar edan!!” teriak warga serempak.
***

TENTANG PENULIS: Melly W. Ibu dari dua orang anak ini kesehariannya lebih banyak berkerja di rumah. Jiwanya selalu haus untuk menimba ilmu kepenulisan. Ia tetap merasa sebagai penulis pemula yang harus terus banyak belajar tanpa jenuh. Sudah cukup banyak karyanya, Antara lain: 215 buku antologi bersama, 8 novel solo, 4 novel kolaborasi. Ia punya satu motto dalam menulis, “Menulislah dengan hati. Menulislah dengan ketulusan karena dari hati yang tulus akan tercipta karya yang luar biasa.” Jika ingin melihat profilnya silakan kunjungi akun FB: Melly Waty. IG: @melloy54. No Hp: 082111865575. No rekening BCA Meliwati: 6910443915, Email: mellywaty.mw@gmail.com

REDAKSI CERPEN SABTU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.



