Cerpen Sabtu: Kartu Jaminan

“Sudahlah, Neng. Jangan terlalu bersedih. Kita harus berusaha.” Wandi memeluk pundak wanita yang hampir dua tahun menjadi istrinya itu.
“Iya, Kang. Tapi, Neng takut. Neng kasihan dengan bayi kita. Sudah lewat dari perkiraan hari lahir, bayi kita belum ada pergerakan mau keluar. Takut, Kang. Neng nggak tahu mana mulas atau kontraksi mau lahir.”
“Iya, sabar Neng. Akang akan cari cara. Bada magrib kita ke dokter kandungan, seperti anjuran bidan. Kita cek bayi kita sekaligus minta pendapat dokter. Semoga baik-baik saja.”

Wandi berupaya menguatkan hati istrinya. Setelah berdoa, maka jalan ikhtiar pasangan suami-istri ini adalah berusaha. Maklum, mereka masih baru dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Apalagi dengan adanya kehadiran anak, pasti setiap pasangan suami-istri manapun merasa senang dan akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Begitu juga Wandi dan istrinya.

Wandi menghadap ke meja resepsionis. Tampak dua petugas medis bagian administrasi tengah bersiap menyambut pelanggan di rumah sakit swasta tersebut.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Mau berobat dan ketemu dokter siapa?”

Petugas medis itu terus bertanya. Wandi gerogi karena ini baru pertama kalinya ke rumah sakit. Biasanya, jika sakit, dia hanya butuh istirahat dan minum obat warung atau meminum ramuan jamu tradisional. Tapi kini, ia harus berurusan dengan rumah sakit.

“Begini, Suster. Saya mau periksa kandungan. Maksudnya, kandungan istri saya.”
“Ooh, Bapak mau ke dokter kandungan. Tunggu ya, Pak.”
Petugas itu kemudian mengeluarkan berkas formulir khusus pasien.
“Nama Bapak siapa?”
“Wandi.”
“KTP dan kartu identitas lain dibawa?”
“KTP ada, tapi lainnya itu apa?”
“Misalnya kartu keluarga dan kartu asuransi?”
Wandi terdiam dengan tatapan bingung.
“Saya cuma bawa KTP, kalau KK ada di rumah. Nggak ada asuransi.”
“Oh, berarti cash ya, Pak.”

Lalu petugas medis menyerahkan kartu antrean dan membawa berkas itu ke ruang dokter.
“Terima kasih, Sus.”
Wandi bergegas menuju Astuti yang tengah duduk di ruang tunggu.
“Gimana, Kang? Sudah!”
“Sudah. Kita antre dulu.”

Tampak beberapa pasien berjubel di ruang tunggu. Mereka juga sedang antre menunggu giliran dipanggil. Karena banyaknya pasien, ditambah dokter pun datang terlambat tak sesuai dengan jam yang dijadwalkan, sepertinya Wandi dan istrinya akan menunggu lama.

“Sabar, ya Neng. Akang beli makanan dulu. Tunggu di sini.”
“Iya, Kang. Neng juga lapar.”

Selepas magrib hingga isya pun berlalu. Mereka belum juga dapat giliran. Wandi dan Astuti saling pandang. Sesekali mereka melihat kartu antrean saat suster memanggil nama-nama pasien. Pukul sepuluh, nama istrinya baru dipanggil.

“Ibu Astuti, Ibu Astuti!”
“Iya, Sus. Ada.”
Wandi dan Astuti masuk ruangan dokter.

Foto: Antara News

“Ibu Astuti sudah berapa bulan kandungannya?” Dokter membuka pembicaraan.
Astuti menjawab sesuai dengan perkiraan buku kehamilan dan perhitungan bidan.
“Ini harus di-USG dulu. Saya lihat dulu ya kondisi bayinya.”
Setelah Astuti dicek darah, dokter langsung memeriksakan perutnya.

“Lihat, Pak. Kondisi bayinya sudah siap lahir. Tali plasenta sudah tua. Juga air ketubannya mulai berkurang. Ini harus segera dilahirkan.”

Penjelasan dokter membuat hati dan jantung pasangan suami-istri antara bahagia bercampur khawatir.
“Tapi, Dok. Kok, istri saya nggak mulas,” kata Wandi.
“Kalau besok belum mulas, berarti istrinya harus diinduksi atau caesar.”

Wandi dan Astuti saling pandang. Mendengar kata caesar seolah itu sesuatu yang mengerikan bagi calon ibu baru. Setiap calon ibu ingin merasakan lahir normal.

Sebagai pegawai kontrak yang upahnya tidak sesuai UMR, Wandi antara sanggup dan tidak jika istrinya harus dioperasi. Apalagi tidak punya kartu asuransi. Tentu biaya yang dikeluarkan akan besar. Wandi harus siap dengan kemungkinan itu.

“Neng, ayo ke rumah sakit lain. Siapa tahu ada yang bisa lahiran normal,” kata Wandi keesokan hari saat matahari masih terik.
“Iya, Kang. Semoga ada jalan terbaik untuk kita.” Astuti berupaya kuat agar tidak menyusahkan suaminya.

Astuti sudah menyiapkan berkas yang dibutuhkan. Kartu jaminan kesehatan dari pemerintah bagi keluarga kurang mampu atas nama dirinya pun dibawa. Sebenarnya, suaminya punya asuransi dari perusahaan, tapi belum diurus.

Gmbar: detikNews – detik.com

“Suster, istri saya mau lahiran. Tolong diperiksa dulu.”
Lagi-lagi, petugas medis bertanya hal sama saat di rumah sakit sebelumnya.
“Saya punya asuransi, tapi belum saya urus.”
“Tolong Pak, segera diurus asuransinya. Soalnya, kalau tanpa itu, mungkin Bapak harus bayar biaya besar tanpa potongan atau jaminan.”
“Iya, Suster. Nanti saya urus. Tapi, kalau pakai kartu ini bisa?”

Wandi dengan ragu menyerahkan kartu milik istrinya. Raut wajah petugas medis tampak berkerut kening sambil menatap ke arah Wandi.

“Baiklah, Pak. Saya ambil dulu kartu ini. Silakan bawa istrinya ke ruang bersalin.”

Pelayanan di rumah sakit itu seolah membuat Wandi dan istri agak sedikit tenang. Meskipun rasa was-was masih ada. Bahkan, mereka bermalam di rumah sakit tersebut untuk memantau kondisi Astuti terjaga jika terjadi kontraksi atau lainnya.

Namun esok paginya, Astuti hanya dibiarkan tidur dengan infus di tangan. Wandi mulai curiga. Sebab, janji semalam suster akan ke ruangan istrinya menginap untuk periksa tak dilakukan. Pagi ini Astuti harus berbaring dengan posisi miring ke kanan dan kiri. Suster hanya datang mengecek infus dan kondisi detak jantungnya.

“Bapak, ini sudah hampir empat jam istrinya belum ada reaksi kontraksi. Sepertinya sejam lagi jika tidak ada perubahan, harus dibawa ke ruang operasi.”

Wandi kaget. Antara percaya dan tidak dengan kondisi yang ia alami ini. Wandi tidak bisa ambil keputusan sendiri. Dia harus bertanya langsung pada Astuti yang tahu kondisi dirinya. Naluri calon ibu tak bisa dibohongi.

“Kartu istri Bapak masih bisa dipakai. Bapak harus tanda tangan ini. Jika terjadi sesuatu pada istrinya, pihak rumah sakit tak bertanggung jawab.”

Dengan perasaan kesal dan merasa dipermainkan, Wandi meneken berkas itu sebagai orang miskin atas nama istrinya. Dia tidak lagi harus berpikir harus bayar berapa selama menginap di RS tersebut.

Wandi merasa bersyukur karena istrinya langsung diurus, tapi menyesal karena menggunakan kartu miskin atas nama istrinya. Harga dirinya sebagai suami merasa direndahan, tapi tidak punya pilihan lain. Ah, kenapa dia tidak segera mengurus asuransi? Padahal itu fasilitas dan hak yang harus dia dapatkan. Mungkin dulu awal masuk kerja Wandi masih lajang. Tapi sekarang, dia sudah beristri bahkan mau punya anak. Asuransi penting bagi dirinya beserta keluarganya. Jika saja asuransinya diurus, istrinya tidak akan sengsara ketika melahirkan.

Pada akhirnya, Wandi dan istrinya pulang. Astuti melahirkan normal dengan waktu berjam-jam di klinik bidan. Tapi tetap saja Wandi harus menyiapkan biaya ini-itu karena ada obat-obatan yang tidak bisa ditanggung. Dia terpaksa meminjam kepada teman-temannya.

***

Sementara di klinik bersalin mewah, suami muda tengah mengantar istrinya yang tengah hamil tua.

“Suster, istri saya mau lahiran di sini. Tolong dibantu.”
Lelaki itu mengeluarkan kartu identitas dan asuransi atas nama dirinya. Raut wajahnya tenang. Sedangkan istrinya tersenyum sambil mengelus perut buncitnya.
Beberapa jam kemudian terdengar tangis bayi di ruang bersalin.

“Selamat ya Pak, bayinya lahir normal dan sehat.”
“Alhamdulillah, terima kasih Suster.”
“Sebelum pulang, Bapak ke resepsionis untuk urus berkas kelahiran dan lainnya.”
“Baik, Suster.”

Lelaki itu mengecup kening istrinya yang terbaring lemas. Raut wajahnya memancarkan kebahagiaan. Dia beruntung memiliki istri kuat, diberi anak yang sehat, juga asuransi atas nama dirinya.*

CERPEN SABTU: Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==