Cerpen Sabtu: Penulis Berguru Kepada AI

Oleh Asih Purwaningtyas C

Sudah 2 jam Tugimin duduk seperti orang linglung di depan laptopnya. Hendra yang sejak tadi asik bermain gitar; dia menyanyikan lagu Dewa, hanya geleng-geleng kepala.

“Mau saya bantuin nulis, Mas Tugimin?”

“Ah, piye toh? Sejak kapan sampeyan iso nulis cerpen?”

“Saya nggak bilang bisa nulis,” Hendra meletakkan gitarnya di pojok kamar. Dia berjalan mendekati meja kerja Tugimin. “Minggir!” Hendra menarik tangan Tugiyo agar berdiri. Dia sendiri mengambil alih laptop. “Udah ada artificial intelligence, kok, masih bengong kayak orang linglung!”

“Artificial intelligence?” Tugimin tertegun. “Otak mesin.”

“Gini caranya!” Hendra memainkan jari-jarinya di huruf-huruf keyboard laptop. “Punya judul cerpen apa?”

Tugimin penasaran. Dia mendekat. “Kado,” katanya.

“Sinopsisnya?”

“Sebentar…,” Tugimin menarik kursi yang lain. Dia duduk di sebelah Hendra. Dia bericara, “Supri seperti mau melompat keluar Ketika dia melihat ke layar laptopnya. Ada pesan WA dari istrinya…”

“Pelan-pelan,” Hendra mengetik ulang dengan kesepuluh jarinya. “Lanjut…”

“Dia sungguh tidak percaya Ketika istrinya mengirimkan gambar berbagai produk bermerek. Harga yang paling murah di atas Rp 5 juta untuk sandal jepit. Istrinya besok ulang tahun. Kepalanya sontak dirajam jarum. Dia hanya karyawan biasa. Untung ruangan kantor sudah kosong…”

“Cukup dulu,” potong Hendra. “Sekarang saya minta tolong ke artificial intelligence untuk membuatkan narasi, deskripsi, dan dialognya…”

Tugimin semakin mendekatkan wajahnya ke layar laptop.

“Nah, lihat!” Hendra menunjuk ke layar laptop yang kursor bergerak cepat, berpindah baris ke kalimat dan paragraf.

Tugimin membacanya, “Berikut adalah pengembangan cerita pendek ‘KADO’ berdasarkan penggalan awal yang Anda berikan. Saya telah menambahkan narasi, deskripsi, dan dialog untuk memperkaya alur ceritanya…”

Lalu muncul seperti di bawah ini:

KADO

Cerpen oleh Tugimin

Ruangan kantor sudah sepi. Hanya ada suara pendingin ruangan yang mendengung pelan. Lampu neon di atas kepala Supri berkedip-kedip, menambah nuansa kesendiriannya. Jari-jarinya yang gemetar masih bertengger di atas keyboard, sementara kedua matanya membelalak menatap layar laptop.

Pesan WA dari istrinya terpampang jelas di layar:

💬 “Mas, besok ulang tahunku. Aku mau hadiah yang spesial ya. Aku suka yang seperti ini.”

Di bawahnya, ada beberapa gambar barang bermerek: tas kulit mewah, parfum eksklusif, dan yang paling membuatnya hampir tersedak adalah sandal jepit seharga lima juta rupiah. Supri mengusap wajahnya yang lelah. Keningnya mengerut, dan kepalanya terasa penuh tekanan.

“Ya Allah, duit dari mana?” gumamnya pelan.

Dia melirik saldo di aplikasi mobile banking-nya. Sisa tabungan hanya cukup untuk makan hingga gajian berikutnya. Ditambah cicilan motor dan kontrakan, jelas tidak ada ruang untuk membeli barang semahal itu.

Supri menggigit bibir, pikirannya berputar-putar mencari solusi. Mungkin bisa pinjam ke teman? Tidak, dia masih punya utang warung. Mungkin cari barang KW? Tapi istrinya pasti tahu.

Tiba-tiba, suara notifikasi terdengar lagi.

💬 “Mas, aku tunggu yaa. Aku ingin sesuatu yang spesial dari suamiku. Aku tahu kamu pasti bisa!”

Kepala Supri semakin nyut-nyutan. Di satu sisi, dia ingin membuat istrinya bahagia dengan memberinya kado istimewa berupa barang mahal yang diinginkannya. Di sisi lain, dia juga harus realistis dengan keadaan finansialnya. Sambil menghela napas panjang, dia menutup laptopnya. Kantor sudah kosong. Saatnya pulang dan mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini.

oOOo

Supri tiba di rumah dengan langkah gontai. Istrinya, Rina, sudah duduk di sofa sambil menggulir layar ponselnya.

“Mas sudah pulang?” tanya Rina tanpa menoleh.

“Iya,” jawab Supri lelah.

Dia duduk di sebelah istrinya, mencoba mencari momen yang tepat untuk bicara. Tapi sebelum dia sempat membuka mulut, Rina sudah lebih dulu berbicara.

“Kamu sudah lihat pesan aku tadi, kan?” tanyanya penuh harap.

Supri mengangguk pelan. “Iya, sudah.”

“Jadi, Mas mau kasih aku yang mana?” Rina tersenyum lebar.

Supri menghela napas, lalu meraih tangan istrinya. “Sayang, aku mau jujur. Aku nggak bisa beliin barang-barang itu,” katanya dengan suara lirih.

Senyum di wajah Rina perlahan memudar. “Kok nggak bisa? Kan ini ulang tahunku. Aku cuma minta satu dari itu semua,” ujarnya, mulai kecewa.

“Sayang, aku bukan orang kaya. Gajiku pas-pasan buat kebutuhan kita sehari-hari. Aku ingin kasih kamu yang terbaik, tapi bukan berarti harus sesuatu yang mahal.”

Rina diam sejenak. Ekspresinya sulit ditebak.

“Aku tahu kamu pasti kecewa. Tapi coba pikir, apa yang lebih penting? Barang mahal atau kebersamaan kita?” lanjut Supri, menatap istrinya dengan penuh harap.

Rina masih diam, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Aku cuma ingin sesuatu yang spesial, Mas…”

Supri tersenyum tipis. “Bagiku, yang spesial itu bukan soal harga, tapi soal makna.” Dia bangkit, meraih sesuatu dari dalam tas kerjanya, lalu menyerahkannya pada Rina. Sebuah kotak kecil terbungkus kertas cokelat sederhana.

Rina membuka bungkusnya dengan perlahan, dan di dalamnya, ada sebuah buku harian dengan halaman pertama yang sudah diisi tulisan tangan Supri.

“Untuk istriku tercinta, Rina. Di dalam buku ini, aku akan menulis semua kenangan kita, hal-hal kecil yang membuatku bersyukur memilikimu. Setiap hari, aku akan menuliskan sesuatu tentangmu, karena bagiku, hadiah terbaik adalah waktu yang kita habiskan bersama.”

Mata Rina mulai berkaca-kaca. Dia menggigit bibirnya, lalu menatap suaminya yang tersenyum hangat. “Mas…” bisiknya pelan.

“Kado yang paling mahal adalah waktu dan cinta, Sayang. Dan itu, nggak bisa dibeli dengan uang,” ujar Supri.

Rina terdiam. Lalu perlahan, dia tersenyum. Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari barang mahal, tetapi dari ketulusan seseorang yang mencintainya.

oOOo

“Wong Edan! Gendheng!” Tugimin memukul-mukul kepalanya.

“Gampang kan!

“Gampang endasmu! Itu nggak orisinil! Itu karya mesin! Robot!”

“Lho! Kamu lihat tadi. Otak mesin ini nggak akan bisa jalan kalau nggak ada perintah dari kita! Manusia!”

Tugimin membuka jendela kamarnya. Dia menyambar rokok di kusen jendela dan membakarnya. Dia duduk di kusen jendela, memandangi bulan sabit di langit. Rokok disedotnya dan asapnya disemburkan ke lagnit; dia melhat seolah bulan sabit tertutup awan.

oOOO

“Aha!” Aku matikan laptop. Aku lempar tubuhku ke ranjang. Aku tatap langit-langit kamar. Artificial intelligence sekarang sedang trend di teman-temanku sesama penulis. Bagiku ini memang menyenangkan untuk bermain-main. Barusan saja aku memainkan tokoh hendra, Tugimin, dan artificial intelligence. Iseng saja. Alurnya sesukanya saja. Selamat mencoba.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==