Cerpen Sabtu: Langgar

Sejak usia tujuh tahun hingga memasuki usia tujuh belas tahun, Imam belum pernah menghabiskan hari tanpa datang ke bangunan itu. Jika pun pernah, itu hanya sehari atau dua hari saja ketika ia sedang sakit atau ada keperluan yang lama di kota. Bukan apa-apa. Ia hanya takut jika bangunan itu benar-benar dirobohkan sesuai dengan permintaan banyak orang. Bahkan ia lebih sering menghabiskan waktu hingga tidur di tempat itu. Ibu dan bapaknya sudah kehabisan kata-kata untuk menasihati anaknya. Mereka menganggap anaknya telah kerasukan jin yang ada di bangunan itu. Entah itu hanya disebabkan kekesalan belaka atau memang benar adanya.

“Kenapa kamu tolol banget sih, Mam?” tanya Herman pada satu waktu. Pertanyaan yang entah sudah berapa kali ia ulangi.
“Bukan aku yang tolol. Tapi kamu yang tolol.”
“Heh. Berani-beraninya kamu bilang aku tolol. Aku robohkan langgar ini baru tahu rasa kamu.”
“Jangan sampai kepalan tanganku sampai di mukamu ya, Man.”

Foto Sumber: https://pin.it/hkk5BwUu3

Imam dan Herman. Dua sahabat sejak kecil yang tidak pernah akur. Jika Imam seorang NU, maka Herman adalah Muhammadiyah. Jika Imam itu decul, maka Herman adalah dedemit. Jika Imam adalah La Pulga, maka Herman adalah El Bicho. Jika Imam akan tetap mempertahankan bangunan yang menurutnya mewah itu, maka Herman akan berusaha merobohkan bangunan yang menurutnya jelek itu, atau setidaknya menghasut orang lain untuk mendukung pendapatnya.

Bangunan yang tidak lain adalah sebuah langgar itu terletak di tepi sungai. Dikelilingi tanah bengkok yang tiap tahunnya berganti jenis tanaman yang ditanam. Jika tahun ini ditanami singkong, maka tahun setelahnya adalah tebu. Jika tahun ini ditanami tebu, maka tahun setelahnya adalah jagung. Jika tahun ini jagung, maka tahun setelahnya adalah singkong. Begitu seterusnya hingga kecintaan Imam kepada langgar itu―atau yang menurut Herman dianggap sebagai ketololan Imam―semakin lekat, bagai tikus yang yang tidak bisa lepas dari perangkap lem tikus.

“Sebenarnya apa yang kamu cari sih, Mam?”
“Kamu tanya apa yang aku cari? Memang tidak ada pertanyaan lain yang lebih penting? Sudah basi.”
“Heh, kamu ini dari dulu tidak pernah berubah, ya.”
“Bagaimana mau berubah kalau pertanyaan yang kamu tanyakan saja dari dulu selalu sama, template.”

Bagi Herman, hidup adalah sebuah proses menuju kesuksesan yang mana indikator kesuksesan itu bisa dilihat dari perubahan kehidupan ke arah yang semakin baik. Hidup itu harus dinamis mengikuti perubahan zaman. Tentu itu sangat ditentang oleh Imam. Baginya, hidup adalah sebuah perenungan. Hidup itu membutuhkan sebuah konsistensi atas apa yang menjadi keyakinan. Entah siapa yang benar. Atau bahkan tidak ada yang benar di antara mereka.

Foto Sumber: https://pin.it/HK8xLVKYK

Tidak ada yang berani memberikan tanggapan, termasuk Rio. Dia adalah sahabat dua sahabat itu. Posisinya berada di tengah-tengah mereka. Muhammadiyah bukan, Nu pun tidak. Decul bukan, dedemit pun tidak. Ia justru lahir sebagai munyukers. Ia tidak suka dengan La Pulga dan El Bicho, ia adalah penggemar Wazza. Jika Imam akan tetap mempertahankan bangunan yang menurutnya mewah dan Herman akan berusaha merobohkan bangunan yang menurutnya jelek itu, Rio seakan-akan membela pendapat Imam pada satu waktu dan seakan-akan membela pendapat Herman di waktu lain. Ia tidak suka berdebat. Jika ada satu masalah yang bisa selesai dengan cukup mengatakan “iya”, maka ia akan mengatakan “iya”. Jika masalah semakin besar, ia lebih suka untuk menjauh dari masalah itu, termasuk dengan isu perobohan langgar yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

“Baiklah kalau kamu mau tahu apa yang aku cari.”
“Heh, siapa yang mau tahu.”
“Oh, tidak mau tahu. Ya, sudah.”
“Apa yang kamu cari, Mam?” tanya Rio mengulangi pertanyaan Herman.
“Ini aku mau menjawab pertanyaan Rio loh, bukan pertanyaanmu, Man.”
“Terserah.”
“Yang aku cari adalah makmum.”

“Ha… ha…, bagaimana mau mecari makmum, lah wong langgarnya aja jauh dari rumah orang. Kalau seorang bernama Imam mau menjadi imam dan sedang mencari makmum, kamu harusnya ke langgar satunya lah. Itu langgar memang dibangun buat pengganti langgar ini. Lah, kamu malah tetap di sini. Ya, siapa makmumnya? Dasar keras kepala.”

Mending aku keras kepala, lah kamu keras hati.”
“Heh, beneran tak robohin loh ini langgar.”

Tak perlu perdebatan itu menunggu semakin panas hingga Rio telah meninggalkan mereka berdua. Sejenak, dua sahabat itu diam dalam egonya masing-masing, lalu saling menjauh tanpa permisi.

###

Sore itu, hujan turun semakin deras. Tidak ada tempat di dusun yang Imam tempati yang tidak kebagian air hujan. Ketika tidak hujan pun tidak ada orang yang menuju langgar kebanggaan Imam, apalagi ketika hujan. Langgar itu kesepian dan kedinginan. Imam sibuk memasang ember di bawah atap yang bocor. Ia hanya dibantu oleh tekad yang bulat dari dalam dirinya. Imam mengumandangkan azan magrib, lalu disusul ikamah lima menit kemudian. Imam menjadi imam sekaligus makmum. Dari takbir hingga salam, tidak ada makmum masuk.

Imam telah menjabat sebagai imam, makmum, muazin, marbot, dan ketua DKM selama lima tahun berturut-turut sejak langgar itu diisukan akan dirobohkan. Ia telah terlanjur jatuh cinta pada langgar itu. Ia tidak mau kenangan mengaji di langgar itu sewaktu kecil roboh bersama dengan robohnya bangunan itu. Baginya, langgar itu adalah rumah keduanya atau malahan rumah pertamanya.

Setelah selesai salat isya yang lagi-lagi dilakukannya seorang diri, Imam memutuskan untuk pulang. Hujan masih deras. Ia berpikir, tidak mungkin ada orang yang akan merobohkan langgar itu sewaktu hujan seperti ini. Semua orang pasti sedang asyik dengan selimutnya masing-masing. Atau yang laki-laki sibuk dengan kopi dan rokoknya. Tidak mungkin ada yang berpikir tentang perobohan langgar di saat-saat seperti ini. Imam pun memutuskan untuk pulang. Belum sempat membuat kopi, selesai mandi, ia tertidur pulas.

Jedeeer… Bruuugh… Imam terbangun. Hujan masih deras. Ia melirik ponselnya sekilas. Pukul dua pagi. Ia kembali menarik selimutnya.

Foto Sumber: https://pin.it/684jHmkk5

Pukul empat pagi, seperti biasa, Imam dibangunkan oleh nalurinya. Hujan telah reda. Meski tanah masih becek. Meski tetes demi tetes air masih menetes dari ujung genteng. Meski dingin masih menyelimuti pagi itu. Imam tetap berjalan menuju langgar kesayangannya. Ia mengangkat sarungnya hingga lutut untuk menghindari cipratan tanah yang telah bercampur air hujan. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan Herman dan Rio. Mereka berdua hendak menuju langgar satunya. Masih teringat dengan perdebatan kemarin, mereka hanya saling sapa lewat tatapan mata. Hanya Rio yang sempat mengangguk dan mesem kepada Imam. Namun, setelahnya ia menjadi kikuk, lalu kembali melanjutkan perjalanan membuntuti Herman.

Pukul empat seperempat, ketika azan subuh menggema dari langgar yang didatangi Herman dan Rio, Imam tertunduk lesu. Bukan karena mendengar suara azan Herman yang parau. Ia begitu lemas setelah menyaksikan langgar yang ia banggakan, langgar yang ia sayangi dengan sepenuh hati telah roboh. (*)

Foto-foto sumber Sumber: https://pin.it/684jHmkk5

TENTANG PENULIS: Hasan Ali, penulis kelahiran Purbalingga, lulusan kampus PKN STAN. Buku-bukunya: “Salahkah Aku Terlahir Introvert?” bisa dibaca di aplikasi Google Play Books, “Berteman dengan Sepi” dan “InSTAN” bisa dibaca di aplikasi Kwikku, dan “Cinta Tah Cita” bisa dibaca di aplikasi Lentera. Cerpen-cerpennya terbit di SIP Publishing dan dicetak secara antologi bersama penulis lain. Pembaca bisa menyapa penulis melalui instagram dan tiktok @hasan.ali.penulis. WhattsApp 081215321563.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==