Aku mengenalkan Bobon yang ikut bersamaku. Teman seperjuangan, senasib sepenanggungan. Seperti biasa, Bobon mulai SKSD. Pribadi yang supel membuatnya mudah dekat dengan orang.
“Ayo, masuk. Udah mau magrib,” ajak Tante. Matanya mengarah ke halaman. Aku menangkap rasa takut dari cara Tante menatap. Ah, mungkin Tante hanya parno. Maklumlah, dia masih menganut paham kolot, kalau tidak boleh ada aktivitas di luar menjelang magrib.
Ujung mataku menangkap sekelebat sosok. Saat aku menoleh, bayangan itu hilang ke samping rumah. Aku masuk rumah dengan perasaan sedikit heran. Lalu, beristirahat di ruang tengah duduk selonjor untuk mengurangi pegal.
Azan Magrib berkumandang, bertepatan dengan suara pintu terbuka. Aku mengintip dari balik bufet yang membatasi ruang tamu dengan ruang tengah. Mas Yanto—suami tanteku baru pulang kerja. Wajahnya lusuh, terlihat sekali kalau ia kelelahan. Aku menghampiri Mas Yanto, sambil duduk berselonjor kami mengobrol sebentar, sekadar basa-basi menanyakan kabar.

“Tutup dan kunci pintunya!” teriak Tante dari dapur. Suaranya menggelegar, mengagetkan.
Secepat kilat Mas Yanto menutup pintu. “Kalo magrib pintu rumah jangan terbuka gitu dong, Mas,” tegur Tante dengan lantang. Aku tertegun, suasana menjadi tidak nyaman.
Perasaan kikuk melingkupi. Bahkan, saat makan malam tidak ada yang berbicara. Hening. Termasuk Bobon yang biasanya senang bercanda. Aku mengusap tengkuk yang terasa dingin, seolah ada yang meniup. Saat aku menoleh, tidak sengaja aku melihat bayangan di belakang Mas Yanto. Aku mengedip dan bayangan itu hilang.
“Aakh!” Terdengar jeritan seorang wanita dari ruang tengah. Aku mengikuti Tante yang menghampiri sumber teriakan, terlihat seorang wanita berdiri ketakutan di depan teve.
“Kenapa, Bi?” tanya Tante.
“Gelasnya gerak sendiri, Bu,” jelas Bi Marni—ART tanteku—dengan suara bergetar.
Tante berdecak tidak percaya, mengatakan kalau Bi Marni hanya berhalusinasi karena kelelahan. Namun, Bi Marni bersikukuh kalau gelas di meja itu bergerak sendiri dan ada yang mencengkeram kakinya.
***
Tengah malam, aku terbangun. Tenggorokan rasanya kering. Udara malam ini lebih panas dari biasanya. Aku beringsut dari kasur menuju dapur untuk minum. Untuk menuju dapur, aku harus melewati ruang makan. Di sana, kulihat Bobon, sedang asyik melahap makanan. Dasar Bobon si tukang makan. Tengah malam begini, masih saja mengurusi perut.
Lorong menuju dapur, gelap. Dalam kegelapan, kulihat sekelebat sosok perempuan berjalan di lorong dapur menuju kamar mandi.
“Bi, Bi Marni!” panggilku.
Pintu kamar mandi terbuka. Aku terkejut, di dalamnya ternyata bukan Bi Marni.
“Loh? Bon, bukannya lagi makan?”
“Makan apaan? Gue baru eek. Mules,” ujar Bobon sambil mengelus perut. “Gue ke kamar lagi, ya!”
Aku yakin—sangat yakin—kalau melihat Bobon makan tadi. Mungkin aku berhalusinasi, sama seperti Bi Marni yang kelelahan.
Aku mendengar pintu terketuk. Alisku berkerut, siapa yang datang malam-malam begini? Aku mengintip dari balik tirai jendela. Tidak ada siapa pun. Saat hendak berbalik arah, pintu kembali terketuk tiga kali.
“Siapa?”
Aku menunggu, tapi tidak ada jawaban. Pintu kembali terketuk, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Tanpa pikir panjang, aku buka pintu dan disambut dengan embusan angin yang menerpa tubuh. Buru-buru kututup pintu dan menguncinya.
Jantungku berpacu dengan cepat. Perasaanku bercampur aduk tidak keruan. Bingung. Apa itu tadi?

Saat aku berbalik, ada seorang yang duduk di sofa ruang tengah. Aku menyipitkan mata. Ruangan remang-remang membuat penglihatanku terbatas. Samar, sosok berambut panjang itu duduk membelakangiku dengan memakai pakaian … merah? Aku tak yakin.
“Tante? Ngapain di situ?” Aku berjalan mendekat.
Bukannya menjawab, sosok itu malah menunduk dan terisak. Tangisnya makin lama, makin kencang, lalu berubah menjadi tawa cekikikan. Suaranya melengking, memekakkan telinga. Menyeramkan. Membuat bulu romaku merinding.
Tubuhku menegang dengan napas memburu. Kakiku serasa lemas tidak bisa bergerak. Sosok itu bangkit dengan kepala berputar 180 derajat. Menatapku dengan badan terbalik.
Sosok itu mendekat. Jalannya terpatah-patah dengan badan terbalik dan leher terpelintir. Aku ingin berteriak meminta tolong, tapi lidahku kelu tak bisa berkata, rasanya seluruh tubuh ini kaku seperti terkunci dengan kuat.
Keringat dingin mulai bercucuran. Sosok itu terus mendekat hingga aku bisa melihat wujudnya dengan jelas. Rambutnya panjang berantakan. Ia menyeringai lebar dengan lidah terjulur. Mata hitam legamnya menatapku tajam. Kulit wajahnya meleleh seperti bekas luka bakar. Cairan berwarna merah pekat mengucur deras dari kepala hingga membasahi seluruh tubuhnya. Aroma amis menguar. Perutku mual. Makin dekat, tubuh kurus kering itu makin tinggi, hampir menyentuh langit-langit.
Tanpa diduga, sosok itu membalikkan tubuh. Tangannya terulur. Jari berkuku panjang itu melingkar di leherku. Aku tak bisa bernapas. Kekuatan sosok itu merobohkanku. Ia menindih tepat di dada. Cairan amis menetes ke wajahku.
“Kau harus ikut denganku!” bisiknya dengan suara serak.
Aku meronta, berusaha melepaskan diri. Namun, cekikannya makin kuat membuat napasku tersengal. Dada ini rasanya panas dan sesak. Perlahan, kesadaranku menghilang.
***
”Rul … Nasrul, bangun, Rul!”
Samar, terdengar suara Mas Yanto memanggil. Saat aku membuka mata, Tante sedang menekan kuat jempol kakiku sambil melantunkan ayat kursi. Wajahnya terlihat ketakutan.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Kamu kerasukan. Teriak-teriak nggak jelas sambil ketawa kayak cewek,” kata Bobon dengan wajah mengernyit takut.
Aku menceritakan kejadian yang menimpaku semalam. Bagaimana sosok itu datang, meneror, hingga hampir membunuhku. Tante berkata, bahwa sosok itu adalah kuntilanak merah yang tidak sengaja diundang. Itulah sebabnya, saat menjelang magrib pintu rumah harus tertutup. Karena sosok yang dipanggil Mbak Merah itu akan datang jika pintu terbuka. Konon, ketukan tiga kali saat tengah malam menandakan kehadiran Mbak Merah. Dan, jangan pernah mencoba membuka pintu, karena Mbak Merah akan merasukimu. (*)

*) Tentang Penulis: Honey Dieah, penulis merangkap editor dan layouter yang menyayangi kucing. Tinggal di Bandung bersama suami dan 2 anak. Menekuni dunia literasi sejak 2016 dan sangat mencintai buku. Keinginannya hanya satu, bisa tumbuh dan berkembang bersama literasi yang mampu menebar banyak kebaikan. Mari berkenalan dengan Honey Dieah di media sosial: FB: Honey Dieah/IG: honey_dieah

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, horor, ada plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.


