Cerpen Sabtu: Ndaru dan Ikan Pelus

Lik Tuno datang ke orangtua Ndaru malam itu juga. Ia mengatakan jika melihat Ndaru berjalan ke atas tebing sebelah air terjun lewat anak tangga tanah sehari sebelumnya. Merayap, merambat sambil berpegangan pada rerumputan. Lik Tuno juga sempat menyapa. Ia menjinjing keranjang bambu. Ndaru bilang mau petik duku di atas. Lik Tuno yakin betul bahwa yang ia sapa Ndaru. Lelaki dengan perawakan tidak tinggi tidak pendek, sedang, tetapi bertubuh gempal. Ia berusaha memanjat tebing samping air terjun. Ia pun masih sempat tersenyum dan membalas sapaan Lik Tuno. Ia bilang hati-hati. Kalau mendung atau hujan segera turun. Begitu pesan Lik Tuno dari kejauhan.

Golek opo Le? Cari apa di atas? Bukannya kamu tadi pagi sudah ngarit? Stok rumputmu pasti sudah banyak di rumah?”

“Enggak Lik. Iseng saja mau cari ikan. Sambil ngumpulin duku di atas. Sayang kalau tidak dipetik.”

Lik Tuno hanya membalas dengan anggukan. Ia ceritakan pertemuan itu kepada orangtua Ndaru. Ibunya terus sesenggukan menangis. Biasanya jika ia mencari rumput atau daun-daun untuk kambingnya paling sejam dua jam di atas bukit. Kalau memetik buah manggis di atas pun tak lama dengan anyaman keranjang bambu. Jika berangkat pagi, ia akan pulang saat zuhur. Jika berangkat siang, dia akan turun saat tabuh asar. Itu artinya jika Ndaru berangkat pagi dan hingga malam ini belum turun pulang, tentu ada apa-apa di atas sana. Terlebih ini musim penghujan. Rawan longsor, rawan banjir.

“Bapak mau ke mana?”

“Ya, cari Ndaru.”

“Gelap Pak. Gerimis juga. Tanahnya pasti licin. Aku enggak mau kalau Bapak berangkat sendirian. Kabari Pak Kadus. Suruh temani.”

“Sudah, Bu. Doakan kami. Ndaru punya asma. Mungkin dia hanya kedinginan di atas. Kadang berkabut kalau gerimis. Ibu berdoa saja.”

Lik Tuno hanya bisa melihat ibu Ndaru terus mengelus dada. Pipinya sembab. Tak banyak yang bisa ia ucapkan saat dua lelaki di depannya berkemas menggenakan jaket tebal dan menyiapkan senter. Lik Tuno tahu, selain medan yang sulit, daerah kampungnya tidak ada sinyal. Pencarian akan susah tanpa alat komunikasi jika tidak bersama-sama. Lokasi yang berbukit-bukit dengan tepian lereng dan jurang, dengan rimbun ilalang dan pepohonan, membuat mereka tentu harus berhati-hati dalam proses pencarian. Nyatanya, hingga dini hari tiba, Ndaru tidak berhasil ditemukan. Angin dingin makin menusuk tulang. Sebelum subuh, empat orang lelaki paruh baya dibantu dua anak muda akhirnya turun tanpa hasil apa-apa.

Ibu Ndaru menatap hampa kepulangan mereka. Ia anak satu-satunya ketika ia baru dipertemukan dalam cinta di umur 38. Beruntung 2 tahun kemudian ia bisa hamil dan lahirlah bayi lelaki yang gembul. Rencana pencarian akan dilanjutkan besok siang. Namun, pencarian hari kedua, hingga petang menjelang, ketika masyarakat sekitar dan petugas polisi Babinsa sudah dikerahkan dengan sukarela, tetap tak ada hasil yang memuaskan.

Diam-diam dalam langkah lemah tak berdaya, ibu Ndaru berjalan gontai menuju rumah Mbah Janu di keheningan malam. Seorang tetua kampung yang sering menyembuhkan sumeng anak-anak lewat semburan napas dari bibirnya. Keinginannya hanya satu, meminta tolong Ndaru agar segera ditemukan. Betapa di kepalanya terus membayang Ndaru yang kedinginan, lemah tak berdaya menahan lapar dua malam. Entah di bawah pohon durian, pohon manggis, pohon duku, atau ia terus mencengkeram rerumputan menahan sakit dan sesak di dada. Atau bisa saja ia tergeletak tak berdaya memegang arit sambil kesakitan karena kakinya dipatuk ular. Ia tak pernah tahu seperti apa keadaan Ndaru sekarang. Ia menyesal kenapa pikiran buruknya tak segera melarang pagi itu. Firasatnya tak enak biarpun Ndaru terlihat segar bugar.

“Susah, Yu.”

“Susah kenapa Mbah?” Ibu Ndaru makin penasaran dengan jawaban Mbah Janu.

“Anakmu tersesat. Namun, ada asap tentu ada api.”

“Maksudnya Mbah?”

“Sebentar. Duduk dulu sejenak. Mbah siap-siap dulu. Mau tanya lebih jelas dengan leluhur curug Pangeran Jeketro di atas. Kemarin malam waktu tahu Ndaru hilang, aku juga penasaran ia terjatuh atau apa. Sedikit mencari tahu dengan leluhur kampung sini. Kalau lupa jalan pulang itu tak mungkin. Ndaru terlahir di kampung ini 16 tahun yang lalu. Setiap lika-liku di belantara hutan dari bawah hingga atas tentu ia sudah hafal jalurnya. Tersesat hanya sangkaan omong kosong. Namun, hal lain akan terjadi jika ia tersesat di alam lain.”

Ibu Ndaru sangat paham perkataan Mbah Janu akan bermuara ke mana. Jika ia disuruh mengadakan ritual atau selamatan di kaki curug itu, ia akan melakukannya. Bahkan kambing etawa milik Ndaru warna hitam putih yang gagah akan ia persembahkan untuk leluhur jika itu bisa membuatnya kembali.

“Tidak semudah itu, Yu. Nanti dulu. Tunggu Mbah cari tahu.”

Setengah jam berlalu. Kepulan asap terus membubung di ruang tamu Mbah Janu. Ibu Ndaru melihat bibir itu komat kamit seakan bercakap-cakap. Kedua telapak tangan Mbah Janu masih terus melekat di dada. Ia terus bicara samar-samar yang ibu Ndaru pun tak tahu Mbah Janu berbicara dengan siapa. Ia masih melihat dalam remang wajah Mbah Janu yang keriput dengan kepulan asap yang tipis dengan latar belakang dinding rumahnya yang hanya terbuat dari anyaman bambu. Setelah itu, ibu Ndaru mendengar jawab yang tak pernah ia inginkan.

“Anakmu dipinta, Yu. Ia mengambil ingon-ingon Pangeran Jeketro di kedung atas curug. Ia mengambil peliharaan leluhur kampung ini. Ikan pelus. Sidat. Seminggu yang lalu anakmu membawa ikan pelus itu ke rumah. Kalian makan bertiga. Sejatinya sore itu ia mau pulang, tetapi baru tiga langkah berjalan arah pulang, ia dicegat seorang lelaki yang tidak dikenal dan disuruh mengembalikan pelus itu. Namun, anakmu tak mau. Ikan itu rencana akan dimasak dan ia persembahkan untukmu. Ndaru begitu suka dagingnya yang manis dan lembut. Petaka itu yang membuatnya disesatkan di sana. Pangeran Jeketro meminta jiwanya ditukar dengan ikan pelus itu. Hanya itu yang kutahu.”

“Apa tidak ada cara lain, Mbah, biar Ndaru kembali?”

Mbah Buyut menggeleng. Pintu depan tetiba diketuk. Ibu Ndaru gegas membuka. Lalu ia melihat dua orang lelaki dan perempuan renta di depannya dalam tatap murung dan wajah yang mendung. Tanpa banyak bicara, ibu Ndaru mempersilakan masuk dan bertanya dari mana? Mereka bilang dari kampung sebelah dan bilang anak perempuannya belum pulang. Sudah dua hari. Melalui kabar berita yang terus tersebar, kata orang-orang anak perempuannya dibawa lelaki kampung sini.

Alis ibu Ndaru mengerjit. Anaknya lelakinya juga hilang. Mungkinkah ini ada kaitannya dengan anak perempuan yang mereka cari?

“Umur berapa anak Ibu?”

“Kalau dia bisa melanjutkan SMK seharusnya kelas 2. Tetapi kami tak punya biaya. Kami dari kampung bawah Bu. Dukuh Ngabean. Bahkan kami pun lupa kapan tanggal lahirnya. Terakhir dapat kabar jika ia dibawa seorang lelaki bujang tanggung ke kampung ini. Mungkin temannya. Kami tak tahu. Itu kata orang-orang.”

Ada yang meletup-letup di dada ibu Ndaru. Segalanya terasa saling berkait. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain meminta tolong Mbah Janu untuk terus melakukan pencarian. Seandainya kakinya masih kuat melangkah, ia sejatinya ingin naik sendiri di atas bukit sana. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah melacak keberadaan Ndaru lewat jalur tak kasatmata. Namun, hingga seminggu berlalu, ketika tim pencari telah dikerahkan dengan giat, tetap tak ada hasil yang bisa dilihat. Kosong, hampa. Tanpa kabar. Ndaru dan bocah perempuan itu seolah lenyap ditelan belantara hutan di atas bukit.

Sembilan hari berlalu, di siang hari yang sedikit terik setelah gerimis mereda. Ada dua benda yang mengambang di bawah aliran air curug. Memakai kaus putih, tanpa celana. Satu lagi dengan rok biru jaket ungu. Dua benda yang saling berpelukan dan ingin mengabarkan pada orangtua mereka jika pencarian akan berakhir hari ini. Ia berharap segera ditemukan. Mereka tahu, apa yang telah mereka lakukan di atas melukai leluhur di atas curug. Ia masih terlalu muda dan lugu serta menganggap jika cinta memang harus dengan pembuktian. Penyerahan jiwa dan raga.

***

Bapak, Ibu maafkan kami. Kami melampaui batas bahkan sebelum pernikahan dilakukan. Kami baru sadar jika sesal selalu datang belakangan. Kami lupa jika di atas cinta masih ada norma kesusilaan. Kami dicegat oleh manusia berkepala pelus. Namun, kami tidak dimarahi, kami diwejang karena melakukan hal tercela di depan rumahnya. Kami ingin pulang, tetapi kami takut Bapak dan Ibu marah. Maka, tunggu saja tubuh kami kembali. Namun, demi menebus kesalahan dan belajar dari masa lalu, jiwa kami akan abadi di sini. Berteman sunyi, bercanda duka.

###

Biodata Penulis: Dody Widianto lahir di Surabaya. Ratusan karyanya tersiar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Kompas.id, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Bangka Pos, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==