Cerpen Sabtu: Percakapan

Rasyid baru saja hendak menjawab ketika dirinya dikejutkan oleh lolong panjang manusia serta anjing yang terdengar saling bersahutan dan bersusulan dari kejauhan. Begitu ramai, hingga mampu merobek keheningan yang semula menyelimuti perkampungan tempat tinggal Khatib untuk beberapa saat.

Rasyid tertegun. Sepasang matanya nyalang menyisir sekitar.

“Jangan khawatir, itu cuma suara orang-orang yang lagi berburu bedul[1] di hutan sebelah selatan sana!” Khatib menjelaskan tentang kebiasaan berburu bedul warga kampungnya.

Kampung yang terletak tiga puluh kilometer dari Alun-Alun Kota Serang itu mayoritas warganya memang menggantungkan hidup dari berburu bedul. Biasanya mereka akan menjual bedul buruannya itu hidup-hidup untuk dijual, kemudian disembelih dan dimanfaatkan daging serta lemaknya.

Salah satu cara untuk memancing bedul-bedul itu keluar, mereka biasanya melepas teriakan atau lolongan (yang mirip sekali dengan seruan Kepala Suku Kiowa ketika memberi aba-aba untuk menyerang saat berperang) untuk membuat bedul-bedul buruannya ketakutan, kebingungan, lalu berlari keluar sarang. Kemudian, saat rombongan bedul itu kalang kabut berlari untuk mencari tempat berlindung yang baru, para pemburu akan mengejar dan menangkapnya.

Teriakan dan lolongan yang sama pun akan terdengar ketika para pemburu kehilangan jejak bedul buruannya. Mereka melakukannya sebagai penanda bahwa bedul yang hampir ditangkapnya lepas, dan dengan sendirinya kawanan pemburu yang berada tak jauh di sekitarnya akan sigap membantu mencegat dan mengepung bedul yang berhasil melarikan diri tadi.

Sebelum benar-benar menjawab pertanyaan Khatib, Rasyid terlebih dulu kembali mengisap rokok yang sejak tadi terapit di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Sekadar melepas rasa was-was yang barusan menderanya.

“Satu lagi saya bisa menggenapkannya menjadi seratus. Sesuai dengan jumlah yang diperintahkan Ratu pada kita,” Rasyid menjawab mantap setelah yakin apa yang dijelaskan Khatib tadi benar-benar tidaklah akan mengancam keselamatannya. Meski begitu, ia tetap tak mau ambil risiko. Rasyid memilih berbicara dengan suara yang juga diturunkan serendah mungkin.

Terselip rasa dengki dalam hati Khatib ketika mendengar jawaban Rasyid barusan. Ia mangkel membayangkan sang Ratu yang tentu lagi-lagi akan memuji-muji Rasyid dan memberinya bonus lebih besar.

Khatib merutuki kemampuan Rasyid yang selalu saja bisa mengunggulinya. Meski begitu, ia sengaja tetap memuji kehebatan Rasyid demi menutupi perasaan dengkinya tersebut.

Karena rasa dengki itulah, tebersit niatan dalam hati Khatib untuk menggagalkan aksi Rasyid menggenapkan tugasnya. Maka, bertanyalah ia tentang siapa korban berikutnya yang akan Rasyid habisi demi menggenapkan tugasnya, agar setelahnya ia bisa dengan mudah menyelamatkan si korban.

***

Sayangnya, ketika Rasyid hendak menyebutkan nama korban terakhirnya, mendadak saya diserang rasa lapar. Ah, di saat begini saya pun jadi ikut-ikutan merutuki diri sendiri. Mengapa tak saya indahkan pesan guru saya yang menyarankan untuk selalu sedia makanan dan minuman setiap kali hendak menulis. Rasanya penyesalan ini sudah tak ada gunanya. Karena itu, saya memutuskan untuk menggantung percakapan Khatib dan Rasyid tadi begitu saja. Kemudian saya matikan laptop, lalu lekas keluar mencari penjual nasi goreng yang tiap malam biasa mangkal di pos ronda simpang jalan menuju perkampungan.

Sesampainya di tampat mangkal penjual nasi goreng, saya disambut sapaan dari beberapa warga yang ternyata tengah istirahat setelah melakukan tugasnya keliling memantau keadaan kampung sembari menyantap nasi goreng yang baru saja selesai dibuat.

Sambil menunggu pesanan selesai, saya memilih mengobrol dengan mereka. Saat tengah asyik mengobrol, kami tersentak, dikejutkan oleh suara jerit menggiriskan. Hanya terdengar sekali dan cepat sekali lenyap, tetapi setelahnya menyisakan lengang yang menumbuhkan ketakutan cukup lama. 

“Suara apaan tadi?” Seorang warga berkalung sarung urung menyuapkan nasi goreng yang sebenarnya sudah sampai di tepi bibirnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, mencari jawaban dari rekan-rekannya.

“Ah, itu kan suara teriakan orang yang lagi berburu bedul,” bapak berpeci hitam menimpali setelah dirinya bisa menghilangkan perasaan terkejutnya.

“Ah, lain.” Pemuda yang mengenakan topi sekarang yang bicara.

“He’em. Kayaknya bukan. Biasanya pemburu bedul teriakannya panjang. Rame lagi. Nggak cuma sekali begitu.” Si penjual nasi goreng ikut nimbrung.

Sementara, saya masih diam saja. Saya pikir ada benarnya juga perkataan si penjual nasi goreng tadi. Yang barusan terdengar itu memang lebih pantas disebut jeritan, bukan teriakan atau lolongan. Gema, nada, dan panjang suaranya pun sedikit berbeda dengan suara teriakan atau lolongan para pemburu bedul yang biasa selalu saya dengar dari hutan dekat kampung ini tiap malam.

“Alaah, dipikirin amat. Udahlah, makan lagi!” sahut warga yang satunya lagi. Tak mau ambil pusing.

“Eeh, nggak bisa gitu geh. Mesti kita cari tahu. Siapa tahu ada yang kemalingan.” Bapak berpeci tak sependapat.

“Tadi kita kan udah keliling. Buktinya aman-aman aja. Nggak ada tanda-tanda ada maling. Iya kan? Iya kan?” Warga tadi balas mendebat sembari meminta dukungan dari yang lain.

“Iya sih, lagian kalo bener ada yang kemalingan, korbannya pasti udah teriak, Kang.” Pemuda yang mengenakan topi mendukung. Yang lain, setelah berpikir sesaat, juga ikut mengiyakan. Akhirnya mereka pun kembali melahap nasi gorengnya. Nasi goreng yang saya pesan pun telah selesai dibuat. Saya pamit meninggalkan mereka setelah membayarnya.   

Selepas melunaskan rasa lapar, kembali saya menyambangi percakapan antara Khatib dan Rasyid yang saya tinggalkan tadi. Namun, rupanya saya harus kecewa karena tak lagi saya dapati keduanya bercakap-cakap di sana. Saya kehilangan mereka.

Saya mencoba mencarinya dengan cara mengingat-ingat kembali percakapan demi percakapan yang terjadi di antara Khatib dengan Rasyid. Mungkin ada yang saya lewatkan. Namun, tetap saja saya tak menemukannya.

Saya mulai bertanya-tanya, mungkinkah keduanya tak terima lalu pergi karena saya gantung dan tinggalkan begitu saja percakapannya? Ah, mana mungkin! Toh mereka hanyalah karakter yang saya bangun sendiri. Sebagai penulis seharusnya saya bebas mengatur semuanya semau saya. Seharusnya mereka pun tak punya hak untuk marah, protes, apalagi sampai lenyap seperti ini. Sayalah yang berkuasa atas diri mereka. Sayangnya, tokoh yang saya bangun kali ini telah menjadi pemberontak. Sialan!

Merasa dongkol, akhirnya laptop saya matikan kembali, lalu beranjak ke tempat tidur.

Esoknya, saya mendapat kabar dari berita sebuah koran lokal yang dimuat di halaman kedua, di kolom pojok sebelah kanan dengan isi yang sangat singkat. Isinya hanya memberitakan bahwa Khatib, yang selama ini dicurigai sebagai pembunuh bayaran ditemukan telah tewas di beranda rumahnya dengan kepala yang nyaris terpisah dari lehernya malam tadi. Hanya puntung rokok dalam asbak yang ditemukan oleh polisi di tempat kejadian, yang bisa digunakan untuk melacak jejak si pelaku.[]

[1] Babi (Bahasa jawa Serang)

*) Foto Kompas.com, beritajateng.com

Profil Penulis: El Rui, lahir dan tinggal di Kota Serang. Penjual buku yang menyukai puisi. Beberapa cerpen dan puisinya pernah dimuat di beberapa koran harian lokal dan nasional menggunakan nama lain. Tulisan-tulisan terbarunya bisa kamu baca di Medium, IDN Times, dan blog pribadinya: penghunipluto.wordpress.com.

CERPEN SABTU Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==