Immul tak tahu harus bagaimana lagi ia mencari uang. Itu satu-satunya hartanya yang kini tersisa. Setelah istrinya meninggalkannya, pergi dengan pria yang lebih kaya darinya.Sedang ia sendiri dipecat dari kantornya karena mencoba melawan ketidakadilan, soal posisi dan gaji karyawan di perusahaannya.
Ia tak tahu di mana orangtuanya, sebab Immul balita mendapati dirinya di rumah orang lain. Katanya dititip orang tuanya yang jadi TKI ke Arab Saudi dan Hong Kong, yang sampai kini tak pernah kembali. Lantas ketika remaja ia mulai bekerja jadi pembantu di rumah itu, sekaligus penjaganya, hingga pemiliknya pindah ke luar negeri dan mewariskannya padanya. Dengan modal yang masih ada, Immul kemudian mengubahnya jadi tempat kos.

Ia juga sudah ke tempat pengetikan, dan mencetak pengumuman tentang kos-kosan miliknya. Ia menempel kertas-kertas itu di batang-batang pohon, di tiang listrik, tembok rumah, juga dinding beberapa kampus yang berada di sekitar kediamannya.
Tahun ajaran baru buat mahasiswa, memang sudah dimulai, ketika Immul selesai merenovasi rumah itu jadi tempat kos. Agak terlambat, begitu kata sebagian tetangganya. Terlebih di sekitarnya banyak juga terdapat tempat kos.
Immul menunggu hampir sebulan, hingga di suatu siang yang gerah, saat ia sedang mengantuk, mendadak telepon selularnya berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Meski terasa malas, Immul tetap mengambil ponselnya dan membaca.
“Saya cari tempat kos. Bisa per hari?” bunyi pesan itu.
“Maaf, tidak pakai per hari, kalau mau, per bulan atau per tahun.” balas Immul.
“Saya akan bayar lebih, jika mau per hari. Boleh tahu lebih lengkap alamatnya?” balas si calon penyewa kos lagi.
Lalu Immul menyebarkan lokasinya lewat google map dan orang itu pun muncul keesokan harinya. Tanpa basa basi, dia bertanya pada Immul bahwa apakah tempat kosnya bisa bawa pacar. Immul mengiyakan, dengan syarat orang itu dan si pacar bukan pengedar atau pemakai narkoba, dan bukan teroris.
Begitulah, dan sejak itu, orang itu—bersama sang pacar—hampir setiap minggu muncul di kosnya. Terkadang mereka menginap sampai dua hari, tapi itu sangat jarang. Berminggu-minggu mereka bermesraan di salah satu kamar kos, hingga Immul tahu bahwa si penyewa bukanlah sedang bersama sang pacar tapi bersama selingkuhannya, ketika tanpa sengaja di suatu siang ia bertemu si penyewa sedang berbelanja bersama dua orang anak kecil—yang memanggil si penyewa dengan kata “Papa”—di sebuah mall. Waktu itu, si penyewa tidak bersama sang istri.
Malamnya, di tempat kos, si penyewa menyogok Immul agar tak memberi tahu pada istrinya dan orang lain soal perselingkuhannya. Immul sepakat, dan timbullah ide lain dari kepala Immul—karena sampai saat itu, hanya si lelaki hidung belang yang jadi penyewa kosnya, padahal masih ada tiga kamar kosong—maka, Immul pun mempromosikan tempat kosnya di diskotik-diskotik dan beberapa bar. Immul juga minta bantuan pada si lelaki hidung belang, siapa tahu ada temannya yang mau berselingkuh di tempat kosnya. Si lelaki bisa dapat potongan harga. Dan si lelaki hidung belang pun menyetujuinya.

Dan tidak sampai seminggu, semua kamar kos Immul sudah pernah terpakai oleh beberapa pria—teman-teman si lelaki hidung belang—termasuk bos kantornya yang juga sempat bersenang-senang beberapa jam dalam sebuah kamar dengan selingkuhannya; bahkan sebuah kamar sempat disewa khusus untuk tempat tinggal seorang wanita simpanan seorang penyewa kos. Kos-kos Immul pun jadi seperti “hotel melati”. Tapi Immul tidak peduli. Ia butuh uang. Ia juga mau kuliah. Ia mau jadi sarjana.
Masa-masa itu,—bagi Immul—uang seolah daun-daun yang tumbuh di pohon-pohon sekitar rumahnya, tinggal dicabut, jika dibutuhkan. Immul juga sudah menghapus berita tentang kosnya di facebook dan mencabut semua kertas pengumuman tentang kosnya yang pernah ditempelkannya.
Hingga suatu ketika muncul seorang wanita lain—wanita kedua setelah si wanita simpanan—yang memang ingin jadi anak kos Immul. Mulanya Immul mengira dia seorang mahasiswi, tapi ternyata dia seorang wanita karir yang sudah sarjana, yang menyewa sebuah kamar untuk dipakai kapan saja bersama selingkuhannya. Seorang wanita yang ternyata istri salah seorang lelaki penyewa kamar kos Immul. ***

REDAKSI CERPEN MINGGU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.



