“Maklumlah jaman sekarang, tidak boleh beredar buku yang dianggap anggap menyebarkan paham komunisma, marxizme dan leninisme, bisa ditangkap saya kalau menjajakan buku-buku seperti itu,”
“Memang buku karya Tan Malaka dan Pram dianggap menyebarkan faham-faham itu?” tanyaku
“Tidak tahulah saya, mungkin juga karena penulisnya punya hubungan dengan partai yang sudah dibubarkan” katanya.
“Kalau buku tentang buku putih 27 Juli, ada tidak?”
“Iya ada tapi saya harus cari lagi. Itu juga tidak boleh beredar bukunya,”
“Baik, besok yah saya ambil bukunya, brapa harga bukunya?”
“15 ribu belum termasuk buku yang tadi tanyakan. Itu agak mahal karena tebal bukunya,”

Aku makin penasaran mengapa buku-buku yang aku pesan itu dilarang pemerintah dan mencoba mencari tahu buku apa lagi yang dilarang.
Tetralogi Pulau Buru Pram berisi empat novel yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa , Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Tak hanya empat novel itu, ada puluhan novel Pram yang juga dicekal seperti Hoakiau di Indonesia, Keluarga Gerilya, Perburuan, Mereka yang Dilumpuhkan, Pertjikan Revolusi, Keluarga Gerilja.
Juga novel Ditepi Kali Bekasi, Bukan Pasar Malam, Tjerita Dari Blora, Midah si Manis Bergigi Emas, Korupsi, Gulat di Djakarta, Tjerita dari Djakarta, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Panggil Aku Kartini Sadja jilid 1 & 2, Hoakiau di Indonesia.
Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978. Buku atau lebih tepatnya dokumen yang dibuat Dewan Mahasiswa ITB itu tidak disebarkan secara luas. Buku itu dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1978. Salah satu alasannya karena mengungkap beberapa indikator kegagalan Pemerintah Soeharto.

Indonesia di Bawah Sepatu Lars. Buku ini merupakan pledoi Sukmadji Indro Tjahjono, caretaker Presidium DM-ITB yang berisi pembelaan di muka Pengadilan Mahasiswa Agustus-September 1979. Buku ini dilarang beredar pada zaman orde Baru Soeharto oleh Kejaksaan Agung pada 1980.
Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, Harry A. Poeze. Buku terbitan Pustaka Utama Grafiti ini dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989. Buku karya Poeze ini memuat riwayat hidup, perjuangan politik, dan perkembangan pemikiran Tan Malaka semenjak ia lahir ke dunia sampai menjelang akhir Agustus 1945.
Setelah aku mengetahui buku-buku itu dilarang, justru membuatku semakin penasaran akan isi bukunya. Maka setiap kali ada uang kiriman, aku alokasikan untuk beli buku-buku itu meski tidak semua kudapatkan karena bukunya terbatas dan kalaupun ada berupa foto copinya.
Perlahan aku memulai memahami mengapa buku itu dilarang, karena dikhawatirkan akan menyulut para pembaca untuk melawan terhadap rezim yang otoriter dan refresif yang selama ini diberlakukan oleh rezim Soeharto.
Bersambung ke bagian 15…


