Cinta dan Gerakan Reformasi (5)

Aku kesakitan yang tak tertahankan. Ayahku hanya diam saja sambil memegang lenganku. Kakakku juga ikut-ikutan memegang kedua kakiku takut aku meronta-ronta.

Dengan dibaluri minyak cimande, sang ahli patah tulang masih mengurut-urut jari tanganku. Sudah mulai tidak begitu nyeri lagi, mungkin pengaruh bacaan-bacaan si ahli tadi.

Sudah 3 kali aku dibawa ke ahli patah tulang. Setiap selesai di urut, tanganku diperban dengan kain dan diberi penyangga terbuat dari papan kecil agar tulang jariku tak bergeser.

Selama di rumah, aku hanya tiduran, makan, mandi dan belum bisa beraktivitas yang berat atau sekedar mengendarai motor. Di saat seperti ini, tiba-tiba teringat gadis berkerudung hitam saat pesantren dulu. Gadisku yang tak bisa dimiliki. Sungguh ini namanya kasih tak sampai.

Lukisan karya Meutia Kholilah Gufron

Penyesalan selalu datang terlambat. Sekarang sudah sia-sia penyesalan itu. 3 tahun memendam cinta, tapi tak ada keberanian untuk berterus terang dan menyatakan isi hati pada gadis itu. Sekarang aku tak tahu rimbanya. Sejak tasyakuran waktu itu, tak ada lagi tegur sapa atau sekedar tatap muka. Tak ada jejak dimana keberadaannya. Tak tahu juga dimana rumahnya. Juga apakah melanjutkan kuliah atau tidak, semua itu tak ada informasi sedikitpun. Sungguh aku lelaki yang merugi, lelaki yang tak punya harapan hidup.

Waktupun terus berjalan, beberapa kampus sudah tutup masa pendaftaran mahasiswa baru. Aku gelisah dan tidak ingin tahun ini tidak kuliah. Aku tak ingin satu tahun mendekam di rumah tanpa ada yang bisa kukerjakan.

Lukisan karya Meutia Kholilah Gufron

“Abah, enggup tetap mau kuliah tahun ini. Tidak harus di jurusan seni, jurusan apapun tidak masalah yang penting bisa kuliah”, Pintaku pada ayahku saat usai makan malam.
“Iya silahkan, cari info dimana kampus yang masih buka pendaftarannya,” jawab ayahku singkat.

Pada suatu waktu, tiba-tiba di rumah tergeletak koran harian Republika. Aku lihat halaman per halaman, siapa tahu ada informasi pendaftaran mahasiswa baru. Ketika hampir di halaman terakhir, mataku menjadi berbinar-binar seakan mendapatkan apa yang selama ini dicari.

“Unisba Masih Membuka Pendaftaran Mahasiwa Baru Tahun Ajaran 1997/1998”

Aku terhenyak membaca nama kampus: Unisba. Seakan ada pertautan hati dengan kampus itu. Seperti tak asing namanya, dan memberi kesan kampus islam yang modern di Bandung.

Aku putuskan, aku harus segera mendaftar. Tak boleh terlambat, karena waktu tinggal beberapa hari untuk gelombang terakhir. Pikiranku tidak boleh mati perlahan-lahan di rumah ini. Aku harus kuliah pada tahun ini.

2 hari kemudian aku berangkat ke Bandung. Kali ini tujuanku tidak lagi ke ITB melainkan Unisba. Jam 2 sore sampai di lokasi yang dituju. Seperti biasa, sudah kupersiapkan persyaratan dan biaya pendaftarannya di loket PMB. Pada bagian pilihan fakultas yang dituju, aku tanpa banyak pertimbangan menuliskan fakultas hukum sebagai pilihan pertama dan pilihan ke 2 fakultas ekonomi.

Setelah semua form diisi dan semua persyaratannya diserahkan ke panitia. Apakah semua sudah selesai melakukan pendaftaran? ternyata ada biaya tambahan untuk bea materai sebanyak 2 lembar. Aku sampaikan bahwa uangku hanya cukup untuk ongkos pulang dan makan seadanya. Panitia berbaik hati untuk membelikan materai untukku.

Lukisan karya Meutia Kholilah Gufron

Pukul 4 sore selesai mendaftar. Aku menuju masjid kampus yang terletak di lantai 2 untuk sholat Ashar. Usai sholat, aku masih termenung dan dihampiri oleh salah seorang pengurus masjid yang notabene mahasiswa senior dan karena sudah sore menawarkan untuk menginap di masjid.

“Kalau antum nanti lulus sebagai mahasiswa baru, antum menetap aja di masjid ini. Ada disediakan ruangan untuk pengurus untuk tempat tinggal. Dari pada nge-kost, di sini sewanya lumayan mahal,” Ajak seseorang yang mengaku bernama Shod kepadaku yang kuliah di fakultas tarbiyah.

“Insya Allah Kang,” jawabku

Bersambung ke bagian 6

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==