Dahulu waktu kecil di Sumatera Barat saya terkesan akan pentingnya keberadaan perpustakaan di daerah terpencil. Ceritanya, saya dibawa ibu saya ke rumah nenek saya yang terletak di daerah yang cukup jauh dari kota. Kampung tersebut terletak di gunung, penduduknya juga tidak banyak. Saat itu belum ada listrik, sekitar tahun 90-an, saya belum bersekolah ketika itu. Sebuah moment ketika masuk ke perpustakaan desa justru merubah jalan hidup saya saat ini. Saya masih ingat bentuk-bentuk buku yang ada di perpustakaan tersebut. Buku tersebut dicetak secara masal zaman Presiden Soeharto dalam rangka memutus angka buta huruf di Indonesia.

Jadi, sekarang ketika ada program pemerintah pengiriman serentak 500 judul buku dan 1.500 buku yang akan dikirim tiap sekolah terpencil di Indonesia, saya langsung berteriak, ini “dahsyat”. Tidak berlebihan, saya “contoh” hidup yang merasakan manfaat buku bacaan jika tersedia di daerah terpencil, baik itu tersedia di perpustakaan sekolah atau di desa.

Jangankan buku, pengalaman saya pribadi, dulu kertas koran bekas bungkus bawang belanja ibu di pasar menjadi barang istimewa bagi saya. Saya melepas koran tersebut yang diikat dengan karet gelang hingga bawang berhamburan karena hanya ingin membaca sobekan koran bekas tersebut. Dulu buku komik Petruk-Gareng yang sudah lusuh saja jadi rebutan anak-anak di warung atau pos ronda di desa-desa. Situasi ini mungkin hampir sama dialami banyak anak yang tinggal di daerah 3T.

Tidak dipungkiri wilayah 3T merupakan daerah yang sangat kekurangan suplai bahan bacaan untuk usia anak-anak. Selain jauhnya akses, harga buku anak juga tidak bisa dibilang murah. Pak Beni fasilitator yang mendampingi daerahnya, Kabupaten Kepulauan Aru Prov. Maluku menceritakan kalau penuh perjuangan melelahkan untuk bisa menyuplai buku ke desa-desa yang ada di kepulauan terluar Indonesia tersebut.

“Jangan tanya tinggi gelombangnya, saya lebih tidak takut naik pesawat daripada menghadapi gelombang laut,”cerita Pak Beni kepada saya. Lain lagi cerita Pak Rizky Kashogi yang mendampingi Pegunungan Arfak, Papua Barat. “Kita harus bermalam dalam hutan untuk mengantarkan buku sampai ke sekolah terluar di Kabupaten Pegunungan Arfak, karena memang ada desa yang hanya bisa ditembus dengan berjalan kaki,”ujar lelaki asal Tarakan, Kalimantan Utara itu yang juga bekerja di dinas pendidikan di Pegaf.

Buku anak lebih mahal dari buku bacaan usia remaja atau dewasa. Maka, tidak heran banyak sekolah dasar tidak memiliki koleksi buku anak sepadan dengan jumlah siswa. Menjawab kondisi itu, selaku pelaksana Badan Bahasa jauh hari telah menyiapkan konten buku berkualitas yang ditulis oleh-oleh penulis dalam negeri.

Badan Bahasa juga menyiapkan fasilitator yang akan mendampingi sekolah-sekolah penerima bantuan tersebut. Fasilitator tersebut direkrut per daerah sasaran. Fasilitator yang dipilih adalah orang-orang yang kaya dengan prestasi dan sudah berkecimpung di bidang literasi. Dengan latar belakang itu fasilitator ini diharapkan mampu memberikan pendampingan untuk meningkatkan kualitas kemanfaatan buku yang dikirim negara tersebut.

Lembaga-lembaga yang bergerak dalam isu-isu literasi seperti Forum TBM, Room to Read, Komunitas Read Aload ambil bagian melatih para fasilitator yang nantinya diharapkan juga melatih guru-guru di sekolah penerima bantuan. Sehingga buku yang dikirim betul-betul bisa terkelola dengan baik. Program bantuan hibah buku ini akan disalurkan dari Aceh hingga Papua. Pelaksana dari Badan Bahasa secara bersamaan telah melatih puluhan fasilitator yang akan diterjunkan di regional masing-masing. *
Safei Desima – Manokwari


