Tapi ada anak lain yang ingin juga jadi jenderal. Setelah sempat beradu mulut, akhirnya “jabatan jenderal” akan diperebutkan dengan sebuah cara: adu keberanian melompat dari pohon. Barangkali adu keberanian model ini muncul ketika si anak melihat prajurit yang meluncur dari atas dengan sebuah parasut.Lalu adu melompat itu pun dimulai. Diawali dari pohon yang berketinggian dua meter. Rintangan awal ini, dengan mudah dilewati keduanya. Lalu ke rintangan selanjutnya: pohon yang berketinggian tiga meter. Dan rintangan ini pun dilalui oleh kedua “calon jenderal” tadi. Maka, rintangan selanjutnya disiapkan. Keduanya akan melompat dari pohon setinggi empat meter.


Si anak yang pergi ke alun-alun tadi, mendapat giliran pertama. Ia pun memanjat pohon itu. Sampai di atas, ketika berdiri di atas sebuah dahan dan memandang ke bawah, si anak tiba-tiba takut. Lalu ia terpeleset, dan jatuh. Sialnya, posisi tangan kiri si anak dalam sebuah posisi yang tak menguntungkan. Tangan kirinya kemudian patah.


Karena di desanya belum ada dokter, ia pun dibawa ke dukun. Tapi bukan kesembuhan yang terjadi. Justru pembusukan. Tangan kirinya tak sembuh dan malah mengalami pembusukan. Sampai suatu titik, tangan kiri si anak harus diamputasi. Sejak itu, si anak mesti menjalani hidup dengan satu tangan.


Cerita ini bukan sebuah khayalan, atau ringkasan sebuah film atau novel. Ini cerita sungguhan. Cerita ini, saya dengar langsung dari si anak yang akhirnya harus hidup dengan satu tangan itu. Saat anak itu bercerita, ia bukan lagi anak-anak. Kini, ia telah dewasa dan sudah bisa punya anak. Nama anak itu sekarang: Gola Gong.


