Drama Menemukan Handphone di Jalan

Saya juga sering menemukan uang. Paling banyak jumlahnya 100 ribu. Saya lebih sering mengembalikannya dengan cara mengumumkan—kalau pun dibelanjakan itu dengan kondisi terpaksa karena tidak punya uang sama sekali. Ada rasa bersalah dan ada rasa terima kasih kepada Allah karena telah mengirimkan rezeki walaupun dengan cara yang sedikit rendah. Begitulah pikiran saya.

Pada 3 Januari 2023, selepas mengambil uang di ATM BRI Jl Brawijaya Pare. untuk pertama kalinya saya menemukan handphone tergeletak. Handphone itu bermerek Samsung lebih mahal daripada yang saya miliki. Saya kaget bukan main karena ini pengalaman pertama.

Saya memiliki rasa khawatir, sebab siapa tahu ini akal-akalan bandar narkoba yang membuang handphonenya. Begitulah pikiran saya bekerja pada saat itu. Saya duduk di depan ATM BRI dengan rasa takut yang sedikit dikurangi. Saya menunggu siapa tahu ada orang yang mencarinya.

Sebelumnya saya juga sudah memfoto dan membagikan informasi kehilangan handphone ke WhatsApp. Beberapa menit setelah menunggu, saya pulang ke kost dan masih dibuat pusing bagaimana cara mengembalikan handphone tersebut ke pemiliknya.

Saya berpikir, seandainya ini seumuran saya pasti dia sedang stres mencari. Apalagi kartu ATM BCA-nya terselip di casing handphone. Dalam layarnya terdapat nama Zubair Herdian Arisman. Saya mencoba mencari nama tersebut di Instagram, dan Facebook. Namun nihil untuk ditemukan.

Sialnya handphone tersebut dikunci sandi. Saya hanya berharap ada yang telpon ke nomor handphone ini. Beberapa jam kemudian ada yang telpon tetapi langsung dimatikan—entah apa alasannya. Beberapa jam kemudian ada telpon kembali dan ini dari kontak yang bernama mamah.

Saya angkat handphonenya. Ibu itu nampaknya masih mengira saya anaknya. Dan saya jelaskan bahwa handphone anak ibu ada di saya ditemukan di depan ATM BRI. Ibu ini nampak panik sekali. Saya tenangkan karena saya berniat untuk mengembalikan handphonenya.

Saya meminta nomor handphone teman yang akrab dengan pemilik handphone ini. Ibu ini memberikannya. Kemudian saya menghubungi temannya dan kami bertemu di depan tempat kursus Basic English Course (BEC). Namun sayang, pemiliknya tidak menemui saya dan hanya temannya.

Akhirnya saya tahan karena saya ingin si pemilik handphonenya yang ngambil sendiri. Handphone masih di tangan saya. Ibunya kembali menelpon dan dia panik karena anaknya belum ada kabar. Sialnya, ibu ibu menyuruh saya mencari anaknya. “Jangankan saya tahu muka anak ibu, ke Al saja nggak,” begitulah gimana saya sedang sedikit tertawa.

Telpon selesai, beberapa jam kemudian ada orang lagi mencari saya. Dua anak muda yang usianya di bawah saya. Yang pertama sudah bertemu dengan saya. Nampaknya yang satu ini pemilik handphonenya.

Saya kurang respect saat melihat orang yang kehilangan handphone ini untuk pertama kalinya. Pertama, dia main masuk tanpa ijin pemilik kost. Kedua, dia ingin langsung mengambil handphonenya. Ketiga, kalau tidak diingatkan untuk berterima kasih oleh temannya, barangkali orang ini akan lupa apa arti dari terima kasih.

Saya hanya menyarankan agar dia tidak teledor kembali untuk menyimpan handphone sembarangan apalagi terselip kartu ATM di casing handphonenya. Tidak ada obrolan panjang. Nampaknya dia juga tidak ambil pusing dengan kejadian ini. Mereka berdua langsung pulang. Tapi Alhamdulillah pikiran saya tenang setelah mengembalikan handphone kepada pemiliknya.*

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==