Apalagi ketika melihat wajah anak-anak yang bercahaya dan bola mata mereka gemerlap. Masa depan mereka tentu akan lebih keras. Terutama di bonus demografi 2030 dan Indonesia emas 2045. Semoga mereka mewarnai dunia dengan prestasi yang membanggakan.

Sebelum saya jadi Duta BaCa Indonesia, bersama Tias dan keempat anak kami, juga para relawan Rumah Dunia, menyulut Gempa Literasi – gempa yang menghancurkan kebodohan. Saat bujangan, saya traveling ala backpacker – menyebarkan spirit persaudaraan lewat budaya membaca.

Kini di depan saya anak-anak bepakaian serba pink. Menyanyi gembira. Tertawa bahagia. Saya bersama mereka sekitar 30 menit. Saya bercerita bagaimana tangan kiri saya diamputasi, kemudian mendongeng persahabatan keluarga cacing dan keluarga ayam, terakhir tentu bagi-bagi hadiah buku.

Anak-anak dengan dunianya. Anak-anak yang selalu mengingatkan saya kepada masa kanak-kanak yang indah. Sampai jumpa lagi, ya. *
Gol A Gong


