Di tulisan ini yang akan saya bahas adalah peristiwa di balik foto ini. Saya ingat betul ini eksebishi. Saya bertanding dengan jagoan setempat bukan untuk mencari pemenang atau siapa yang lebih hebat. Bukan. Saya sedang mengemban misi, yaitu memotivasi para pemain badminton berlengan dua. . Ibarat Musashi, yang sedang mencari hakekat pedang samurai.

Saat itu hegemoni China merajalela. Yang Yang – pemain kidal melabrak jagoan-jagoan kita seperti Liem Swie King dan Icuk Sugiarto. Terutama pada 1986, Yang Yang menjadi penentu kemenangan tim bulutangkis China, untuk merebut Piala Thomas 1986 dari juara bertahan Indonesia di Jakarta.
Tapi eksebishi di Jayapura itu dibarengi drama. Awalnya orangtua pemain yang akan bertanding eksebishi dengan saya keberatan. “Kalau anak saya kalah, bagaimana? Pasti dia akan hancur. Lawan pemain badminton berlengan satu saja kalah!” begitu kata si bapak.

Saya memaklumi. Ya, alasan si bapak masuk akal. PBSI Jayapura melobi si bapak. Penonton di gedung olahraga lumayan banyak. Mereka ingin menyaksikan saya si pendekar berlengan satu bertanding eksebishi dengan pemain kesayangan mereka. Saya lupa namanya, tapi dia termasuk pemain PON Papua.
“Mas Heri bertanding dengan adiknya saja,” kata anggota PBSI Jayapura.
Akhirnya esebishi berlangsung. Saya bermain kesetanan. Saya ingin memperlihatkan, bahwa saya bermain sungguh-sungguh. Saya juara badminton se-Asia Pasific untuk kelas amputee tangan. Dan saya menang.
Saat saya istirahat di tribun, anggota PBSI mendekati saya. “Sekarang si Bapak ingin Mas Heri bertanding dengan kakaknya.”

Saya mengiyakan tapi minta waktu istirahat 15 menit. Tenaga saya terkuras. Andai saja tadi bertanding eksebishi dengan kakaknya, pasti seru. Sayarasa, si Bapak awalnya memandang remeh kepada saya. Dia belum tahu kalau saya pernah dilatih Iie Sumirat. Tapi tidak apa.
Pertandingan eksebishi pun berlangsung. Saya sudah memberikan yang terbaik. Saya kalah. Saya salami dia. Saya mendekati si Baak, “Putra Bapak hebat.”


