Saya perhatikan dari waktu ke waktu kertas buku yang diterbitkan oleh penerbit Indonesia kualitas kertasnya sangatlah jelek. Tidak sampai tiga bulan buku-buku menguning dan timbul bercak-bercak coklat.
Ada pula yang sudah berjamur. Ini tentu bukan cuma dialami buku yang diterbitkan oleh penerbit indie melainkan sekelas penerbit gurita—juga buku-bukunya mengalami gejala yang sama; cepat menguning dan timbul bercak-bercak.

Bahkan, buku-buku terbitan Indonesia tidak cocok untuk cuaca dingin. Misalnya rumah saya 23 derajat celsius maka tidak jarang cover bukunya melengkung seperti ombak pantai selatan.
Lain halnya dengan kualitas kertas buku-buku luar negeri sudah disimpan tahunan tetapi tetap seperti baru dan lembut ketika disentuh kertasnya. Entah saya tidak tahu nama kertas apa yang digunakan buku-buku luar negeri.

Kemungkinan besar, penerbit buku di Indonesia sengaja menurunkan kualitas kertasnya untuk pembeli agar harganya pas di kantong alias terjangkau.
Memang harga buku luar negeri mahal-mahal karena faktor kurs mata uang juga mempengaruhi, tapi saya rasa sangat memuaskan karena kualitasnya. Dan tentu bisa bertahan lama untuk dibaca generasi yang akan datang.
Saya sangat berharap sekali kualitas buku Indonesia selain isinya yang memuaskan juga kualitas kertasnya tidak buruk-buruk amat. Tidak masalah untuk harga yang sedikit mahal asal bisa diwariskan kepada generasi yang akan datang.*



