Oleh Rudi Rustiadi
Forum TBM Jawa Tengah bersama TBM Warung Pasinaon dan TBM Rumah Pelangi menggelar kegiatan literasi bertajuk Tinta Perjumpaan: dari Sayonara Menuju Karya di Aula Balai Bahasa Jawa Tengah, Sabtu (4/10). Acara ini diisi dengan workshop menulis fiksi mini bersama Duta Baca Indonesia sekaligus sesi pengenalan ragam aktivitas literasi.

Ketua Forum TBM Kabupaten Semarang, Azizah Muslihatun, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi dari berbagai komunitas literasi di Kabupaten Semarang. Ia berharap dengan kekompakan seperti ini dapat muncul kegiatan-kegiatan literasi lainnya. Selain itu ia dengan terlaksananya kegiatan ini ia ingin mendorong semua peserta untuk dapat berkarya, menuangkan ide dan gagasan mereka.


Dukungaan datang dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Dian Respati Pranawengtyas, Widyabasa Balai Bahasa Jawa Tengah, menyampaikan apresiasinya terhadap acara ini. Menurutnya acara ini sangat relevan dengan semangat literasi yang menjadi visi Badan Pengembangan Bahasa. Ia berharap Kehadiran Duta Baca Indonesia di Kabupaten Semarang menjadi momentum bagi lahirnya karya-karya yang baik dari penulis atau pegiat literasi di Kabupaten Semarang.

Sementara itu, Musyarofah, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Semarang, mengapresiasi peran Balai Bahasa yang konsisten mendukung kegiatan literasi. Ia juga menegaskan kesiapannya untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam kegiatan-kegiatan literasi.
“Gerakan literasi adalah tanggung jawab bersama. Karena itu, saya menyambut baik dukungan Balai Bahasa serta saya siap bersinergi dengan pegiat literasi untuk memperluas manfaat dari berbagai kegiatan yang terlaksana,” tutur Musyarofah.

Pada kesempatan ini Sekretaris Forum TBM Jawa Tengah, Tirta Nursari yang menjadi narasumber, menyampaikan ragam aktivitas literasi dapat dilakukan di sekolah, komunitas, maupun masyarakat luas.
Kegiatan tersebut tentunya harus berdasarkan 4 keterampilan berbahasa: mendengar, membaca, berbicara dan menulis. Kegiatan ini diharapkan Tirta menjadi wadah perjumpaan antar komunitas literasi sekaligus penggerak semangat menulis dan berkarya di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Semarang.



Sementara itu Duta Baca Indonesia, Gol A Gong pada kesempatan itu berbagai tips menulis fiksi mini. Menurutnya ada tujuh unsur penting dalam membuat fiksi mini yaitu harus 1 peristiwa dalam 1 waktu dan 1 lokasi, tokoh yang kuat, diksi dan gaya bahasa yang kuat dan sedikit, alur cerita yang cepat, konflik yang selesai seketika, dan ending yang mengejutkan (plot twist).

“Seperti kopi, selama ini kita mengenalnya dengan rasa pahit atau manis, tapi segelas kopi di fiksi mini rasanya amis darah,” jelas Gol A Gong.


