Dalam buku itu, Eka menuliskan kisah seorang perempuan yang patah hati. Kisah luka tentang seorang gadis yang gagal menikah, lantas depresi. Gadis itu lalu mencoba bunuh diri karena malu, tapi akhirnya percobaan bunuh diri tersebut gagal dan si gadis berhasil diselamatkan keluarganya. Dalam pengawasan keluarganya, si gadis kemudian memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai. Bukan tanpa sebab ia pergi ke sana. Ia pergi atas dorongan bisikan yang datang beberapa kali kepadanya lewat mimpi.

Dalam mimpinya dia menemukan seorang laki-laki yang bertelanjang dada dan berlari-lari di pinggiran pantai dengan seekor anjing. Dan ia mulai berpikir laki-laki dalam mimpinya itu adalah jodohnya jika ia pergi ke pantai tersebut. Maka berangkatlah si gadis tanpa sepengetahuan keluarganya ke pantai yang selalu muncul dalam mimpinya: Pantai Pangandaran.

Tapi seperti kebanyakan sebuah mimpi, hari pertama gadis itu sampai di Pantai Pangandaran, ia tak juga menemukan lelaki yang selalu hadir dalam mimpinya. Gadis itu makin sedih dan patah hati ketika tidak ada tanda-tanda lelaki yang dicari dalam mimpinya setelah sekian lama.

Lantas si gadis semakin kecewa dan ia makin patah hati dan memutuskan kembali buhun diri di sebuah hutan yang cukup tersembunyi di Pantai Pangandaran. Ketika ia melakukan niatnya, seorang warga berhasil menolongnya dan ia kembali selamat. Si gadis lantas dibawa ke rumah seorang nenek tua yang punya rumah di pinggiran pantai. Lantas si nenek bertanya kepada si gadis kenapa ia ingin mengakhiri hidupnya? Awalnya si gadis tak mau bercerita, tapi kemudian ia menceritakan semuanya, bahwa ia ke Pangandaran ini awalnya untuk menemui laki-laki yang selalu hadir dalam mimpinya dan laki-laki itu sering berjalan-jalan sore hari di pinggir pantai Pangandaran.

Lantas sang nenek bilang, bahwa haya orang-orang totol yang percaya pada sebuah mimpi. Tapi saat si nenek berkata demikian, si gadis melihat seekor anjing lewat di depan pantai. Ia yakin, jika anjing itu adalah milik si lelaki yang bertelanjang dada. Pasti laki-laki itu ada di sekitar Pantai Pangandaran, pikirnya. Dan cerita selesai sampai di situ, mungkin Eka sengaja membuat ceritanya menggantung.

Membaca cerpen Eka, membuat otak saya merekam pemandangan dan juga suasana indah Pantai Pangandaran. Saya jadi penasaran dengan Pangandaran. Saya kemudian berselancar lewat internet mencari tahu soal Pangandaran. Maka munculnya banyak referensi foto pemandangan Pangandaran yang sangat memikat mata saya. Lanjut kemudian mencari tahu lewat artikel-artikel lengkap. Dari banyak referensi itu, saya jadi tahu, bahwa Pangandaran ada di Kabupaten Pangandaran yang merupakan pemekaran dari kabupaten Ciamis, letaknya sebelah tenggara Jawa Barat. Pangandaran berada di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Kabarnnya juga, pantai Pangandaran tidak kalah dengan Pantai Gunung Kidul yang berada di Yogyakarta.

Selang beberapa waktu setelah saya membaca cerpen Eka itu, saya kenudian pergi bersama kawan ke Pangandaran. Saat itu kami ikut travel. Naik bus besar ke sana. Jadi tinggal duduk manis, dan selama sekian jam perjalanan sampai juga kami di Pangandaran. Saat sampai di Pantai Pangandaran saya terus melamun, memikirkan kisah si gadis yang ditulis Eka dalam cerpennya itu. Saya rasakan pasir pantai Pangandaran dan juga debur ombak serta anginnya. Saya kemudian bergumam, barangkali yang menggerakan saya ke Pangandaran adalah kekuatan dari kata-kata yang ditulis Eka dalam bukunya.

Sepulang dari Pangandaran, saya kemudian mencoba mengabadikan momen perjumpaan saya dengan Pangandaran dalam sebuah puisi yang saya tulis.
Di Pangandaran Kita Dipertemukan
dari punggungmu
senja retak dalam barisan gelombang asin
masa lalu yang purba meluncur deras
di tengah kecemasan
yang sempat beku oleh angin dan cuaca januari
sementara orang-orang berlarian di Pantai
Pangandaran
ada sepasang remaja berbisik manja sambil bermain dengan kijang lucu
membicarakan peristiwa dan rencana masa depan
tetapi aku masih saja mengamatimu dari jauh
juga menanti senja yang rela menenggelamkan diri
meski ia masih rindu memandang lautan biru
ia masih dalam bimbingan kepak camar
dengan samar kudenger kibar kerudungnya karena
ditiup angin
di Pangandaran
ternyata kita dipertemukan dalam bait sajak
*) Serang-Pangandaran



