Saya sangat senang bisa mengisi materi talkshow “Menulis, Mengukir Peradaban” dan pelatihan menulis catatan perjalanan di 2 gedung bersejarah itu. Terasa berbeda.

Saya merasakan getaran kehadiran kelima sosok pengagas KAA. Ali Sastroamijoyo (Indonesia), Sir Jhon Kotelawala (Srilanka), Muhammad Ali (Pakistan), Jawaharlal Nehru (India) dan U Nu (Burma/Myanmar) sedang duduk di kursi barisan paling depan.

Apalagi ketika saya sedang memberikan materi travel writing di gedung De Majestic. Bahu tangan kiri saya ada yang mencolek. Saya pikir, yang mencolek adalah panitia karena waktu saya sudah habis. Tapi ketika menoleh, tidak ada siapa-siapa. Tubuh saya langsung merinding.

Saya ingat, bahwa di gedung De Majestik ini pada 9 Februari 2008, tragedi dituliskan. Grup band metal Beside meluncurkan album perdana mereka, Against Ourselves. Gedung yang anya layak dipadati 500 orang, ternyata 1000 orang! Asap rokok, musik berdentum, ruangan yang sempit, menyebabkan 11 orang meninggal.

Apakah di gedung De Majestic ini masih berkeliaran arwah mereka. Entahlah. Tapi, mari kita melafalkan Al Fatehah untuk mereka.
Gol A Gong



