Antisipasi menghadapi permasalahan tersebut, pendidik harus melakukan pendekatan secara pribadi dan mendalam. Selama proses pendekatan itu, pendidik memberikan wawasan dan pengetahuan kepada generasi Gen-Z, bahwa belajar bukan hanya soal waktu yang terbatas di sekolah. Di luar kelas, mereka harus punya tekat yang kuat, untuk mau membaca buku, mengerjakan tugas, menulis dan diskusi. Lebih jauh, pendidik harus memberikan gambaran, bahwa kuliah tidak seberat yang dibayangkan, yang terbatas hanya soal tugas dan biaya. Ada banyak beasiswa dan bantuan bagi mereka yang berjuang dan sungguh-sungguh.

Perguruan tinggi adalah sistem yang luas, kita bisa menemukan apapun di dalamnya. Banyak hal yang bisa dikerjakan selain menjadi mahasiswa, salah satunya tentu menjadi youtuber, selebgram, dan sebagainya. Dunia perguruan tinggi juga tidak membatasi kita untuk berkarya dan mengejar sesuatu di luar pendidikan. Oleh karena itu, akan sangat disayangkan, bila akhirnya perguruan tinggi dianggap sebagai penghambat mencapai tujuan tertentu diluar pendidikan.

Saya rasa dengan hal itu, para murid akan lebih tajam untuk memikirkan dan menghadapi masa depan. Setiap murid akan menemukan pola dan arah hidupnya, sebab ia mengetahui potensi dan kemampuan pribadinya. Dualitas antara pendidik dan murid, harus selayaknya seperti orang tua dan anak, sehingga berbagai dukungan dari pendidik, bisa menjadi celah agar mereka mau meneruskan pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi.

Terbukti sekarang saya lulus S1 dari UIN Syarief Hidayatullah, Ciputat, Tangerang, Rio jadi wiraswasta. Rio dengan akun YouTube-nya, terakhir aktif dan upload video satu tahun kemarin, 2022. Semuanya dikerjakan pribadi dan dia share ke teman-temannya. Sedangkan yang saya tahu, rata-rata YouTuber yang sukses membangunnya bersama tim, berkolaborasi, dan terus belajar meningkatkan kapasitasnya dalam soal youtube. Manusia hanya bisa merencanakan, Allah SWT jua yang menentukan. (*)



