Dari hal tersebut, kita bisa mengetahui bahwa dunia pendidikan mengalami guncangan masalah, disebabkan oleh generasi Gen-Z enggan melanjutkan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Mereka melihat para artist, selebgram, youtuber, dan sebagainya, lebih meyakinkan pendapatnya dibandingkan dengan mengejar pendidikan. Bahkan beberapa di antara mereka meyakini, bahwa setelah lulus dari kampus pun, belum menjamin karirnya cemerlang di masa depan.

Saya pribadi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan, dengan tiga semboyan gagasan Ki Hajar Dewantara dari bahasa Jawa, yang berbunyi Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa dan Tut wuri handayani. Tiga semboyan itu, pada generasi Gen-Z tidak akan tercapai, bila terputus semangatnya saat mengejar pendidikan. Maka sudah sepatutnya generasi Gen-Z dibekali keilmuan yang menghuni di bidangnya masing-masing, tidak lagi mengedepankan egoisme pendidik, yang mengharuskan mereka mendapatkan nilai bagus pada setiap mata pelajaran.

Murid bukan robot yang bisa menyelesaikan semua tugas sesuai kemauan pendidik, namun yang terpenting mereka mau mengerjakannya terlebih dahulu, lalu sebaliknya guru mengapresiasi hasil usaha mereka. Saat di sekolah, taman baca, ruang publik, dan sebagainya, setiap pendidik mengamati keadaan murid-muridnya, lalu membawanya kepada rasa nyaman yang menghasilkan semangat untuk hal lain, bukan menjatuhkan lalu meninggalkan mereka yang jauh dari standar penilaian akademik.



