Kayak Hye-jin bilang waktu habis mengobati luka di lengan Du-sik, kata-katanya mirip gini, “Siapa tahu ada makanan datang dari langit.”

Menurutku contohnya kayak gini, tiba-tiba datang kiriman hampers isi nasi putih, telur rebus, semur bola-bola daging, ayam goreng, bakmi goreng, sambal kulit tangkil, dan sambal goreng kentang.
Sambal kulit tangkil ini disebut juga sambal buroq. Kulit kentang yang diiris-iris dicampur kentang dan mie goreng serta pedas rmah-rempahnya asik. Mungkin penciptanya terinspirasi perjalanan Isra Miraj Rasulullah dengan mengendarai buroq.

Alhamdulillah. Masya Allah. Betapa berharga sekali kelezatan yang datang tiba-tiba. ❤️
Berhubung semalam kami keluar rumah, hampers berkat itu kusimpan di kulkas. Lalu pagi ini aku olah jadi hidangan baru. Sambal dan bakmi kutumis jadi satu. Daging, ayam, dan telur disatukan dalam satu ikatan yang hot, alias dipanaskan lagi.

Nggak ada fanwar rasa antara daging sapi, ayam, atau telur. Rasa yang ada adalah bumbu semur. Dikotomi yang terjadi adalah nabati dan hewani. Nasi putih pun aku kukus lagi karena aku tidak suka nasi yang keras.

Sebagian nasi kumasak jadi nasgor, dengan menambahkan bawang bombay, bawang putih, dan irisan kimchi homemade. Gimana rasanya? Semacam kesegaran yang digoreng menuju sempurna. Halah. 😂


Kesempurnaan itu cuma milik Allah. Sebagaimana kesempurnaan-Nya membuat sistem hidup agar bisa manusia jalankan dengan baik dan mudah. Hanya karena manusia sering nggak paham cara menyetelnya jadi hidup tampak sulit.
Sehat-sehat semuanya ❤️

Update:
Masya Allah ❤️ Benar janji Allah itu, jika manusia bersyukur akan ditambah lagi kenikmatannya. Alhamdulillah, datang lagi nasi putih, rabeg kambing, dan tapai ketan, gais.
Alhamdulillah. ❤️
Tias Tatanka

