Hidup di Dunia Adalah Bersiap-siap

Beberapa hari sebelum Nek tiada, kondisi kesehatanku turun, sehingga tidak bisa tiap hari membesuk. Mana hubby tugas keluar pulau – Maluku – yang berbeda waktu dua jam. Jadi kami minta si sulung untuk mewakili kami berada di sisi neneknya.

Nek – foto Indra Kesuma

Jangan ditanya kondisi badanku saat menjumpai tubuh ibu mertua yang terbujur ditutup kain putih. Aku bertekad harus kuat dan melakukan yang terbaik. Semalaman itu aku melupakan semua sakitku dan memaksakan diri memandikan jenazah Nek, menyabuni tubuhnya, sampai menutup telinga dan hidung dengan gumpalan kapas.

Nek – foto Indra Kesuma

Ada tim khusus yang dipanggil untuk memandikan jenazah. Kebetulan salah satunya adalah tetangga Nek di rumah lama, usianya seumuran, dan kenal almarhumah dengan baik. Kami, anak dan menantu perempuan pun mengikuti arahan tim dalam memperlakukan jenazah.
Sedari berniat memandikan, aku minta sama Allah agar dikuatkan, jangan sampai membebani keluarga yang sedang sibuk.

Alhamdulillah selama memandikan jenazah, aku tidak merasakan dinginnya bergayung-gayung air. Punggung yang sakit pun jadi sama sekali tidak terasa nyeri. Sampai saat mengkafani pun aku masih bertahan memperhatikan sampai prosesi selesai. Tentu yang terbayang adalha hubby di Maluku.

Aku harus mendampingi pemulasaraan jenazah ibu mertua karena suamiku sedang berada di tempat yang jauh. Jadi akulah yang mewakili tangannya mengurus ibunya untuk terakhir kali. Alhamdulillah, sampai proses pengkafanan selesai, hanya aku tidak sanggup untuk menunduk mencium jenazah. Punggungku mulai nyeri untuk membungkuk, selain itu aku takut tidak dapat menahan tangis.

Saat pulang ke rumah untuk mandi besar karena ikut memandikan jenazah, aku baru merasakan tubuh mulai nyeri lagi. Aku ganti baju dan rebahan sambil menunggu air panas untuk mandi sedang disiapkan anak-anak. Dalam hati aku minta lagi sama Allah, mohon kekuatan karena esok mungkin tugasku lebih berat lagi.

Sampai dini hari aku masih terjaga. Ada ketakutan menyergap, bukan takut pada hal-hal mistis setelah menangani jenazah, tapi lebih takut pada kesiapan menghadapi sakaratul maut dengan husnul khatimah.

Sanggupkah saat itu aku tetap memikirkan salat, mengingat hafalan surah Quran, sedekah banyak-banyak? Emak allahuyarham di sisa terakhir ingatannya seringkali khawatir terlambat salat. Seminggu sebelum wafat masih bisa mengikuti ayat-ayat awal Al Mulk yang kubacakan.

Mengenai harta, setahuku almarhumah nyaris selalu menghabiskan uang pensiunan untuk didermakan kepada kaum yatim dan dhuafa. Kini Nek pergi selamanya. Masya Allah 😭❤️

(Setelah berhari-hari aku baru sanggup menyelesaikan tulisan ini.)

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==