Drs. Muhamad Syarif Bando, MM., Kepala Perpustakaan Nasional RI menyodorkan fakta:

- Rasio 1 buku ditunggu 90 pemustaka jika di Jawa. Di luar Jawa bisa ditunggu 1500 orang.
- Perpustakaan berbasis inklusi sosial, tidak lagi eksklusif. Semua orang, segala lapisan, azas kesetaraan, boleh mengakses buku di perpustakaan.
- Buku harus berdampak pada peningkatan kesejahteraan pemustaka, merangsang pemustaka untuk melakukan hal-hal kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
- Ada produk dan jasa yang dihasilkan. Selama ini kita adalah bangsa konsumen, bukan produsen. Diharapkan dengan membaca buku tentang brownies, misalnya, si pemustaka kemudian membuat brownies untuk sumber ekonominya.

Saya memastikan lagi, masalahnya ada di mana? Tidak ada buku atau penulisnya? Ternyata penulisnya sangat sedikit. Sekarang memang sedang bertumbuhan komunitas menulis. Ini kaar baik. Hanya saja harus ditingkatkan kualitasnya. Ini pekerjaan rumah kita bersama.


Halaman: 1 2

